Minggu, 07 Februari 2016

Ketika Kenaikan KKM Lebih Mencemaskan Daripada BBM




Image result for gambar sedang ujian
Bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan terutama dasar dan menengah, tentu tidak asing lagi dengan yang namanya KKM. Apa sih KKM itu? KKM merupakan singkatan dari Kriteria Ketuntasan Minimal.
 Opo siii??? Memang, kaum 90an tidak mengenal itu, karena itu baru populer sepuluh tahun terakhir (mohon koreksi kalau salahJ). Sederhananya, itu adalah passing grade. Anak dianggap kurang kalau belum mencapai skor tersebut. Anak akan dipush , entah dengan remidial, perbaikan atau entah apa itu namanya. Nilai itu jugalah yang akan muncul di raport meski sebetulnya anak dibawah KKM.

Image result for gambar sedang ujian
Hal tersebut menimbulkan problema tersendiri bagi para pendidik. Ketika pendidikan sudah menjadi lahan industri, yang ada hanya bagaimana supaya sekolah terlihat wah dari luar. Wajar, karena semakin banyak murid, rupiah juga akan meningkat. Bagaimana agar terlihat wow? Ya, salah satunya adalah dengan meninggikan nilai KKM. Nilai tinggi identik siswa pintar. Apabila semua siswa di sekolah tersebut memang cerdas, pandai dalam semua bidang, hal ini tentu tidak menjadi masalah.


 However, in fact, siswa datang dengan sangat beragam dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Apakah kita harus memaksakan mereka untuk mendapatkan nilai minimal dalam semua pelajaran???? Wah....guru benar-benar bekerja keras untuk ini. Dibilang munafik??? Bisa jadi. Kalau ternyata dia menetapkan KKM tinggi tapi ada anak yang berada jauh di bawah, maka ia harus mengatrol. Kalau kasih nilai apa adanya??? Siap-siap diprotes, entah itu dari sekolah atau orang tua murid. Nahhh lhooo.....enggak kayak dulu, tinggal kelas yowes, raport kebakaran? Sudah umum.

Please deh, siapapun yang duduk di petinggi kependidikan, dengan adanya KKM itu justru menggiring kepada ketidakjujuran. Mungkin orang tua akan puas, sekolah tersenyum manis dengan melihat nilai anak yang bagus-bagus, nilai yang tidak ada di bawah passing grade. Begitu juga dengan siswanya. kalau dia sudah merasa cukup dengan nilai KKM padahal sebenarnya adalah nilai katrolan, minat belajarnya pun cuma sampai segitu saja. Dibalik semua itu, sebagian guru mungkin menulis nilai dengan migrain, vertigo, menangis dan istighfar ( semoga ini tidak mencemari rejeki para guru).

 Jadi  merasa bersyukur sekolah jaman dulu nih meskipun minim fasilitas hehehhee.....Kalau BBM naik, paling Cuma nambah seribu, tapi KKM naik? Belum tentu kita kasih anak seribu langsung bisa paham materi, remidial yang okeyy.....

Kamis, 04 Februari 2016

Generasi Melek Iklan



 Image result for gambar duit

Seiring majunya teknologi, berbagai media mulai menjamur, terutama media elektronik. Masing-masing berlomba-lomba untuk menambah viewer, menambah rating. Kalau rating bertambah, biasanya iklan makin banyak, otomatis. Hal ini menguntungkan medianya ( fee dari pengiklan ) dan pihak pengiklan. Tentu saja, karena dengan range tayangan iklan lebih sering, diharapkan penjualan produk bisa meningkat. Oh yeahhhh  J
Ngomong-ngomong soal iklan, akhir-akhir ini dihebohkan dengan iklan sebuah produk islami. Apa pasal? Karena produk ini menyematkan embel-embel halal pada produknya. Suasana menjadi riuh karena memang, dari sekian produk fashion sangat jarang sekali bahkan tidak ada label halal. In my opinion, mengingat kita hidup dominan muslim, kita husnudzon saja. Toh kalau produk kain semacam itu, haramnya dari segi mana? Iklan seperti ini bisa menimbulkan kesimpulan bahwa produk lain itu haram lho, jadi kita rela membeli fashion halal yang mana...ehm.....harganya juga bikin senyum kecut.
Sebagai konsumen, kita memang harus selektif. Tidak jarang pihak mengiklan hanya mementingkan terjualnya produk. Ada beberapa iklan yang saya lihat agak jonggol, eh janggal dan juga nggak baik buat peradaban manusia ( halahhh), diantaranya :
                a. Iklan semprotan nyamuk
                Lha bayangkan saja, kalau kita lihat di tivi, ada orang nyemprotin penakluk nyamuk di antara banyak orang bahkan di kamar tidur dan ada orang di dalamnya. Walah....memang nggak pusing tuh kena racun serangga?
                b. Iklan obat
                Beberapa produsen obat memasang dokter sebagai pengiklan. Wahh....pelanggaran nih. Kalau pengiklannya dokter dan berbusana dokter pulaaa, bisa menggiring opini masyarakat bahwa produk itu bagus be ge te. Padahal kan belum ada bukti riil bahwa produk itu memang bagus cocok untuk semua kalangan.
                c. Memakai kata-kata nomor satu, terbaik dan semacamnya
                Penggunaan kata ”100%”, ”murni”, ”asli” untuk menyatakan sesuatu kandungan harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari otoritas terkait atau sumber yang otentik.
                d. Iklan produk makanan awetan
                Yaaa....ini nih, beberapa produk makanan awetan menyematkan label vitamin inilah, itulah. Lha, tetap aja itu produk olahan yang pakai pengawet, belum lagi MSG atau pemanis buatan. Yang mana gizinya??? Karena label seperti itu, orang awam mengira bahwa produk itu bisa dikonsumsi sering-sering .
Sebenarnya, memang ada etika dalam beriklan, ada payung hukumnya. Tapi kadang mereka mengabaikan aturan-aturan itu. Sebagai konsumen cerdas, kita harus bisa memilah-milah, jangan hanya karena gengsi. Selain itu, suatu produk itu cocok-cocokan, yang mahal belum tentu cocok ( cocok di kantong hahahahhaaa)

Senin, 01 Februari 2016

Jangan Tunggu Menikah untuk Melakukan Hal ini



Image result for gambar akhwat travelling kartun

“Manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu”, begitulah pepatah berucap. Ya, mumpung masih muda, dimana fisik masih strong dan urusan belum ribet, sibukkanlah kita dengan berbagai pengalaman. Kelak, kita bisa bercerita banyak untuk anak cucu kita. Eh, tapi tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menunda nikah, sekedar memanfaatkan waktu ketika single aja.  Apa ya yang kira-kira bisa kita lakukan sendiri? Let’s check it out :
                a. Travelling
Yaa....travelling alias piknik alias jalan-jalan, termasuk hiking. Enaknya kalau sendirian, maksudnya statusnya masih single, jelas urusannya tidak ribet, bawaanya bisa lebih ringan. Tidak dibebani dengan ngurusin suami dan anak. Bisa kita lakukan kapan saja selagi sehat dan tidak menganggu urusan kerja. Disamping itu.....lebih irit, so pasti. Lha kalau udah berkeluarga berarti kan harus siapkan budget lebih to? Ayo, kepakkan sayapmu sebelum ditaruh di dalam sangkar ( haishhh...sadis)
                b. Cooking experiment
Hohohooo....tidak perlu menunggu adanya suami ya untuk bisa masak. Singlepun okey. Malah jadi nilai plus kan. Pas udah menikah jadi enggak kaku, masakannya udah teruji, membanggakan suami, “ abang, mau minta dimasakin apa???” hihihiii.....enggak perlu ngulik nyontek resep karena udah di luar kepala hahahaa............
                c. Menuntut Ilmu
Yaaa.....kadang birokrasi pendidikan itu ribet, bikin bete. Nikmatilah dengan “ me time”, makan coklat sambil lihat serial komedi, hihihiiii...
                d. Aktualisasi Diri
Masa muda adalah waktunya mengeksplorasi diri. Kita memaksimalkan kreatifitas  dan memperluas relasi. Kita dapat menyalurkan passion yang mungkin saja bisa menjadi lahan bisnis.
Wokeee.....dare to act??? Daripada bengong,ngiler lihat pasangan bermesraan, mari kita sibukkan diri sambil mempersiapkan kalau-kalau pangeran berkuda putih menghampir ( halahhh) good luck everyone...............

Minggu, 31 Januari 2016

Secuil Tentang Metode Sentra



Metode Pembelajaran Alternatif : Metode Sentra

Oahemmm....blog yang mirip kendang, postingnya Cuma di awal dan akhir, hihihiii...
Jadi gini, kemarin-kemarin penulis masih disibukkan dengan aktivitas utamanya ( sok yess). Pada bulan Januari lalu, tepatnya tanggal 12, saya dan teman-teman meluangkan waktu untuk studi banding ke sebuah sekolah, Batutis namanya. It is located in Pekayon , Bekasi, tepatnya sii enggak tahulah ya, mungkin teman KEB ada yang tinggal disana???...
Langsung saja yaaa....sekolahnya cukup sederhana, kalo boleh dibilang. Usut punya usut, ternyata Batutis itu kependekan dari Baca Tulis Gratis. Yapp....sekolah ini memang dibangun utamanya untuk kaum dhuafa agar bisa mengenyam pendidikan. Enggak full gratis sih, jadi, semacam subsidi silang gitu. Pendek kata, bayarannya sesuai kemampuan masing-masing. Ada juga siswa yang dari kalangan mampu, bayar full sampai menghibahkan beberapa fasilitas, ada.
Eitttt.....tapi...bukan berarti sekolah murah itu murahan ya. Begitu sampai disana, kami disambut ramah oleh putri owner yang juga salah satu pengajarnya. Tanpa banyak ba bi bu, kami menuju” TKP” untuk melakukan observasi.
Taraaa.....bangunan dua lantai dan bersih. Jangan bayangkan ruang kelas yang tertutup dilengkapi dengan segala fasillitas. Tidak pemirsa. Kelas-kelas hanya dipisahkan dengan sekat-sekat. Mau melirik ke kelas sebelah, bisa saja. Tapi ternyata anak-anak fokus di kelas masing-masing malah, enggak ada yang thawaf, visit ke kelas lainnya. Memang, ada maksud tertentu dari settingan kelas seperti ini. Hal ini bertujuan untuk memfokuskan siswa meski ada “gangguan” dari luar. Yaaa begitulah. Pada beberapa sekolah dengan kelas yang tertutup, ketika ada orang membuka pintu atau sekedar berlalu di koridor, anak-anak akan tergugah, kepo, fokus untuk belajar buyar.
Selain ruang kelas, muridnya itu lhooo, small class. Sekelas cuma sepuluh, sembilan, pokoknya masih di bawah 15 orang. Apabila jumlah siswanya 20 orang per level, mereka lebih memilih membagi menjadi dua kelas dengan sepuluh siswa daripada mengajar 20 orang sekaligus. Baiknya, guru jadi fokus dengan perkembangan siswa-siswanya. Hal ini juga berkaitan nanti dengan penulisan raport. Kami dengar kalau laporan di sekolah ini puanjang nian deskripsinya, dijelaskan motorik, kognitif, sosial serta jenis-jenis kecerdasan lainnya. Bisa gempor tangan gurunya kalau nulis 20 siswa ya.
Dan seperti anjuran yang sedang populer, menghindari kata “jangan” kepada anak-anak, kita bisa lihat dari ucapan guru dan peraturan-peraturannya. Terpampang jelas tulisan “BERJALAN” instead of berlari. Untuk anak kelas tinggi, kontrol suara dan gerak cukup terbina. Suara anak-anak pelan, tidak ada yang pakai otot. Bahkan, kami sampai mendekat, memicingkan telinga untuk mendengar komunikasi guru dan siswa. Sejak kelas rendah mereka terbiasa mendengar guru berucap....” pelan saja nak, ibu bisa mendengar kok...” Mereka juga tidak ada yang berlari padahal kelas mereka “hanyalah” hall yang disekat dengan loker, nice.
Budaya mengantripun sudah mengakar kepada mereka, seperti mengantri untuk berwudlu dan gosok gigi. Oh ya di sekolah ini, tidak ada yang namanya kantin. Jadi ketika pagi, sekitar jam 9 lebih, ada sesi snack dan saat siangpun ada makan siang. Guru juga ikut berperan di sesi ini. Guru mengajak siswa untuk bersyukur dengan rejeki hari ini.selain itu, disampaikan nilai kesehatan dari makanan tersebut, insha Allah, they consume healthy food, not junk food. Hal ini juga bertujuan agar siswa mau makan dan tidak menjadi “picky eater”.
Di sini siswa juga masih menulis, bahkan buku mereka kreasi sendiri dengan kertas HVS dan kertas buffalo sebagai sampulnya. Rapi juga lho. Kalau ada yang kesulitan, guru dengan lembut bertanya, apakah ada kesulitan? Perlukah bantuan?..
Yang jelas, metode sentra ini diberikan sesuai dengan kebutuhan anak. Masing-masing guru mengenali siswanya, mana yang kurang, mana yang perlu pengayaan. Disini juga moving class setiap sentra. Jadi, guru mereka bisa berbeda-beda dan masing-masing guru punya penilaian “setiap” siswa, enggak cuma walas aja. Di sekolah juga dibiasakan untuk “no tipping”. Ini penting ya untuk menjaga objektivitas guru terhadap murid. Di sini juga tidak hanya memfokuskan pada kognitifnya saja, tapi mereka membentuk pribadi manusia yang kokoh, tidak mudah putus asa( ini bisa dijelaskan saat sentra balok, menyusun balok yang kokoh, kalau roboh, susun lagi) dan juga berakhlak mulia.
Waduuhhh...banyak juga yaa. Sebenarnya masih banyak yang mau saya share.....Insha Allah saya sambung kapan-kapan yaa. Feel free to comment yaaa.....see you.:) 
( ckckkk...fotonya boleh kalau pas tidak ada siswa)
picture taken by mbak Taya, daughter of mr @yudhistira Massardi @komunitas Metode Sentra

Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...