Tampilkan postingan dengan label personal thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal thought. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2019

Beli Buku Bekas :Tak masalah lama/baru,yang penting kandungan ilmu


Saya, tim pemburu bekas hahahaa.....
Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya(Samuel Butler)
Hobi yang universal, bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan posisi bagaimana saja (halah, ini opo to), salah satunya adalah membaca. Tua, muda, di rumah, di dalam  mobil, di hari yang panas, saat hujan, tua, muda, berkacamata, asalkan melek huruf, semua bisa melahapnya. Ya, membaca pun banyak macamnya. Ada yang suka membaca novel, komik, ensiklopedi atau status misalnya...mueheee. Maksud saya, membaca online-online gitu deh, entah melalui wattpad, mojok.co atau platform-platform yang menyediakan bahan bacaan gitu.

Dulu, iya dulu sekali, sebelum status di KTP saya berubah, suka gitu nyambangi toko buku, lapak-lapak, ke perpustakaan ( ini utamanya nyari pendukung skrepsong ding wkkwkwkk).Gayanya, nabung buat beli buku, tapi ya dapet juga sih, meski sudah nggak hits, baru dapat.
Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan  mulai berubah (ciaatttt....deziggg). Ya, kebutuhan yang dulu sekunder, jadi tersier. Segala yang namanya kebutuhan anak, mulai susu, baju, gincu (ini emaknya) mulai jadi skala prioritas. Jadi, budget untuk membeli buku agak dikesampingkan jauh. Toh, waktu membaca juga nggak terlalu banyak seperti dulu. Yah, tetap menyalurkan hobi sih, meski sekedar baca tulisan cekak ala-ala hipwee,brillio,detik, sesekali mlipir ke lazada demi menyegarkan mata hahhaaaa.

E tapi, saya masih berusaha spare budget buat buku  loh, meski bukunya baru dibaca dua bulan kemudian. Biasanya sih, untuk mengantisipasi harga buku yang (agak)mahal, saya nyesernya ke lapak buku bekas. Bagi saya, buku bekas tapi ori daripada baru tapi fotocopi hahahaa....Ya memang sih, ketika mencari buku bekas kita juga harus lihai. Diceki-ceki lah ya, apakah halamannya lengkap atau tidak, adakah yang robek, kesiram aer atau  minyak gitu. Banyak juga kok koleksi buku bekas tapi kualitas masih baik. Pengalaman saya sih, beli online second-hand serenade book cukup memuaskan.

Bagi saya sih, beli barang bekas dalam  bentuk buku  itu lebih aman dari yang lain kok. Buku bukan alat-alat untuk dipakai seperti halnya motor,hp,tivi,kulkas,baju dan lain-lain. Selama buku itu masih layak dibaca, ada ilmu yang bisa digali, nggak ada yang namanya kadaluarsa, radiasi tinggi,racun timbal, spoiler gelombang elektromagnetik, ato apalah itu namanya.

Saya sih nggak masalah buku sudah  nggak hits atau  nggak. Menurutku, buku bukan  gaya hidup yang ada kategori trendy,old-fashioned,kuno bahkan  purba sekalipun. tengoklah  di kalimat pembukanya “Buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya.” Biasanya sih, bikin whistlist dulu atau siapin budget sekian, langsung scrolling buku bekas yang ditawarkan. Kalau cocok, angkut deh.Begitu juga sebaliknya. Apabila koleksi buku sudah menumpuk,sudah dibaca hingga tak ada lagi tempat tersisa, ya dikiloin saja, atau bisa juga sedekah buku untuk orang-orang yang membutuhkan, yeee kan.

Begitulah teman-teman pembaca sekalian. Kalau hobi membaca tapi dompet meronta, tak ada salahnya membeli buku  mantan, eh buku bekas maksudnya. Dibilang, barang bekas yang aman itu ya Cuma buku hahaaaahaaa.




Rabu, 04 Juli 2018

Pudarnya Pesona Sekolah (Negeri) Idola


Pertama-tama, mumpung masih bulan syawal,saya ingin sungkem, meminta maaf pada sahabat semua. Permintaan maaf juga buat Kang Abik yang nyatut kata-kata dari karyanya untuk judul di atas, hehehee...peace.

Pada momen ini memang semua nampak sibuk. Tak hanya perkara hari raya tetapi juga bertepatan dengan pergantian tahun ajaran. Sebagian bersyukur dengan kenaikan kelas, sebagian lagi deg-deg ser dengan hasil ujian akhir dan hunting sekolah baru.

Jargon “ ganti menteri, ganti kebijakan “ memang masih terpatri dalam hati ( bahasa opo iki rekkk). Ada yang berbeda dengan penerimaan siswa baru sekarang ini. Sejumlah umat disibukkan dalam perbincangan sebuah kebijakan; ada yang pro adapula yang kontra.

Adalah kebijakan zonasi which is menjadi trending topic baik di kalangan pendidik maupun orang tua murid. Why? ?? Betul bila alasannya menghindari macet. Apalagi untuk daerah metropolitan yang memang penuh drama, entah polusi, macet atau segala entah yang lain. Jadi, pendek kata, sekolah yang dekat sajalah. Akan tetapi, kebijakan ini juga menuai kontra dimana saat ini memang ada kasta-kasta di sekolah mulai dari favorit, menuju favorit hingga (maaf) cap sekolah buangan.

Kebijakan zonasi ini memang memprioritaskan siswa yang paling dekat. Beberapa berpendapat bahwa jalur zonasi ini bisa memicu menurunnya kompetisi apalagi untuk kalangan sekolah favorit yang dikenal dengan standar input yang tinggi. Bisa jadi, dengan kebijakan zonasi, anak yang dibawah standar bisa masuk ( mungkin lho ya, tidak memukul rata pengguna zonasi).

Lain di kota, lain juga di desa. Di daerah daerah tertentu, dengan lalu lintas yang lengang, jarak tempuh yang pendek ( tempat asal saya dulu), saya pikir nggak terlalu berpengaruh. Apalagi biasanya di daerah, sekolah-sekolah berdiri di pusat kota, lha kalau orang-orang yang di pelosok artinya melalui jalur yang lain saja, oopssss. Bahkan, dari dulu akrab dengan teman-teman yang rela kos karena memang rumah mereka jauh, demi apa coba, ya demi sekolah yang lebih berkualitas lagi berfasilitas.

Kebijakan zonasi ini sebenarnya bukan hal yang baru di beberapa negara, terutama negara maju. Pemerintah mendukung penuh pendidikan dengan menyediakan segala sarana dan prasarana yang sama sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial antar siswa. Kelengkapan suatu fasilitas kan salah satu daya tarik siswa baru, seperti wi-fi, AC, laboratorium dan lain-lain.

Yah, sebagai pelaksana kebijakan, hendaknya berlapang dada ( sheila on7 hahahaaa)....Selalu ada konsekuensi di tiap keputusan. Untuk guru-guru sekolah favorit, percayalah kalian akan lebih pintar dalam mengolah strategi karena bisa jadi input siswa bisa beragam, tak bisa kau pilih hanya berdasarkan nilai ujian. Seperti apapun input, yang penting outputnya kan? Semoga prosesnya baik dan berkah ( duuuh, sok adem banget yey). Semoga dengan kebijakan ini membuat pemerintah untuk menyegerakan untuk menyamaratakan fasilitas semua sekolah( ribet amat bahasanya mbok). Bagi yang punya usaha kos untuk memfasilitasi siswa jarak jauh, yah semoga diganti dengan para mahasiswa yang butuh tempat berteduh. Eh, mahasiswa nggak kena sistem zonasi kan?

Minggu, 29 April 2018

Guru ;hidup mulia, menyemai surga




“Pelajarilah adab sebelum ilmu lainnya” (Imam Malik)

Sebagaimana kata-kata bijak di atas, bagi para penuntut ilmu, adab adalah yang lebih dahulu dipentingkan. Ulama Yusuf bin Al Husain pun setali tiga uang dengan menyatakan bahwa dengan adab, orang bisa dengan mudah mempelajari ilmu. Hal ini berarti semakin adab kita kurang, makin sedikit pula ilmu yang kita serap.

Tanpa embel-embel pahlawan tanpa tanda jasa pun, Allah sudah memuliakan guru dengan menjamin pahala yang terus mengalir atas ilmu yang disampaikan meskipun guru sudah tiada. Kata pak guru ketika saya masih di bangku SD, ilmu yang bermanfaat termasuk amal jariyah, sebanding dengan sedekah. Dilogika sajalah, orang-orang boleh bercita-cita sebagai dokter, pengacara atau bahkan presiden. Namun, itu semua mustahil tanpa keberadaan guru.

Sadar akan pentingnya profesi guru, sejumlah negara menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan yang bergengsi, tak kalah dari pekerja kantoran. Di negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand, para guru digaji yang cukup untuk kelangsungan hidupnya. Data dari sebuah laman online menyebutkan bahwa gaji di negara-negara tersebut di atas lima juta rupiah. Bahkan, konon di Singapura, tetangga kecil kita, gaji guru bisa mencapai ratusan juta per tahunnya.

Berbeda dengan negara tetangga, kehidupan guru di Indonesia memang kurang memuaskan. Bahkan di sejumlah daerah bisa dikatakan memprihatinkan. Tak jarang kita mendengar berita kerasnya kehidupan guru di pelosok, tantangan alam yang tak sebanding dengan gaji yang ia terima. Tak hanya itu, akhir-akhir ini merebak berita tentaang penganiayaan terhadap guru. Entah itu mengakibatkan cedera raga, masuk penjara bahkan hilang nyawa. Betul juga kata-kata di meme di media sosial “ guru sekarang tak hanya menguasai ilmu pelajaran tapi perlu juga dibekali ilmu hukum dan ilmu bela diri.” Untuk para orang tua, mari panjangkan sumbu, dinginkan kepala, semua pasti ada solusinya".

Di perkotaan sendiri, guru-guru mulai sedemikian kreatifnya dengan sambilan seperti menitipkan snack di kantin, les hingga malam bahkan ada yang nyambi ojek online. Alasannya, sudah tentu karena himpitan ekonomi.

Memang, beberapa sekolah sanggup untuk menggaji guru dengan jumlah yang layak, tapi berapa persen dibandingkan dengan gaji yang menggenaskan tersebut? Selain disibukkan dengan rangkaian tupoksi guru, faktanya, guru juga diribetkan pemberkasan tetek bengek entah itu untuk tunjangan, PPG, UKG , UKG, sertifikasi atau entah itu namanya yang tentu saja syaratnya cukup menguras tenaga dan waktu.

Pemerintah pusat tak sepenuhnya buruk memang. Anggaran pendidikan sudah ketuk palu, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya tapi entahlah, kadang implementasinya sedikit mengecewakan. Nominal sertifikasi dan berbagai tunjangan yang cukup meleleh tapi diimbangi dengan birokrasi yang membuat emosi sunat sana-sunat sini. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa anggaran tersebut tidak hanya melulu untuk guru tapi juga berbagi untuk pembangunan infrastruktur juga. Tapi lagi-lagi, soal pelaksanaannya, kadang keinginan yang di atas dan yang di tingkat bawah berbeda. Tak hanya itu, serangan psikis karena perbedaan kasta, antara guru PNS dan honorer kadang muncul. Mentang-mentang honorer kinerjanya harus begini harus begitu, capeknya sama, gaji aduhai tak kunjung tiba.

Kita tidak bisa berharap dengan pemerintah untuk menggaji semua guru dengan jumlah yang sama sementara tanggungan pemerintah begitu beragam. Marilah tetap berjuang, menyuarakan aspirasi dengan aksi yang berkelas juga. Tidak saling merugikan diri sendiri maupun orang lain ( siswa). Mengutip dari nasihat kyai Maimoen Zubair : “ kalau jadi guru, dosen ataupun kyai, kita harus punya usaha lainnya. Dengan adanya usaha sampingan, kita tidak perlu megharap pemberian orang lain”. Aah, ada benarnya juga pak Kyai.

Yah, mau jadi apa kita, itu adalah  pilihan masing-masing. Semua memang ada konsekuensi yang diterima. Berjuang tak mengapa tapi dengan cara yang elegan juga, malu sama ijazah. Orang Jawa bilang, “ guru itu digugu dan ditiru” dipatuhi dan diteladani. Perilaku dan tutur kata dijaga karena menjadi teladan para siswa. Untuk mendapatkan hal yang baik, tentu saja dilakukan dengan cara yang baik pula.

Sahabat guru, jalan di dunia pendidikan memang tak selalu mulus. Bersyukur jika bernaung di sekolah keren atau pegawai negeri sipil. Tetap jaga dalam berperilaku, berbahasa dan berbusana. Adapun saudara-saudara yang masih menempuh jalan terjal berliku, tetaplah semangat. Jadikan pengajaran kita sebagai tabungan amal di surga nanti. Tetap ikhlas dan bersyukur sebagaimana yang telah tertuang di Q.S At thalaq :4 : Barang siapa yang bertakwa, maka Allah akan mudahkan urusannya.” 

Tetaplah menjadi pribadi yang positif sambil berdoa ,” Duh Gusti, paringono sedan. Kalau kekecilan, Alphard pun tak mengapa.”

catatan : tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis yayasan alfitra Bekasi

Selasa, 17 April 2018

Dimana Anak Guru Bersekolah???


Yang jadi guru angkat tangannya.....!!!!

Kata sejumlah kolega, mengajari anak sendiri berbeda dengan anak orang lain. Aku pikir-pikir dan rasain, ya memang begitu. Ada kalanya justru tidak sabar menghadapi anak sendiri. Segala teori edukasi tidak begitu diaplikasikan LOL.

Dengan alibi anak-anak sendiri, kita lebih bebas untuk ngomel-ngomel tanpa ada komplain sebagaimana di sekolah ( mentoknya ya kakek nenek turun tangan dengan segala petuahnya, yee kan). Lalu, bagaimana ketika memilih sekolah, apakah di sekolah tempat kita ngajar atau di tempat yang lain? Berdasarkan riset fiktif , beberapa hal berikut mungkin bisa jadi pertimbangan ; yay or nay yaaa....:
1. Ngirit Ongkos

Masa si??? Ya jelas to. Sekalian kerja, sekalian nganter anak sekali jalan. Biasanya, sekolah menerapkan adanya diskon khusus untuk penduduk asli. Nikmat mana yang kau dustakan. Satu-satunya yang nggak bisa diirit adalah jajan ( mungkin ya). Biasanya, mentang-mentang ada emaknya/bapaknya, jadi bebas minta jajan.
2. Mengontrol emosi

Nah, ini buat yang mudah meledak-ledak, mungkin perlu olah emosi, jaim, sabar kalau si ucil ngambek. Gunakan teori parenting untuk meredam gejolak yang ada.
3. Mengurangi tendensi 

Ini sih intinya menyamaratakan. Dari hal sepele, membiasakan anak untuk membedakan rumah dan sekolah. Membedakan kapan bunda, kapan bu guru. Uji tendensi juga terjadi ketika mengajar di kelas anak kita. Entah ia jadi trouble maker atau saat ujian. Jangan sampai buta hati mentang-mentang anak sendiri yeee.

Sebenarnya, kita tak harus menyekolahkan anak di tempat yang sama dengan kita. Sebagai contoh ; tempat kita lebih jauh, ada yang lebih murah dan sebagainya. Nggak salah sih, ada beberapa hal yang (mungkin) bisa diperoleh dari tempat yang berbeda ini. Tapi ini mungkin ya, jadi nggak bisa dipukul rata untuk semua warga:


1. Lebih mandiri

Mandiri di sini maksudnya tidak mengandalkan orang tua.Tidak bisa gelendotan yang dikit-dikt “mah...pah...” jadi mamah papah juga tenang bekerja...peace...


2. Bisa bercermin terhadap sekolah lain


Tentu saja ini bukan dengan niat yang buruk. Kita bisa lihat dari kegiatan-kegiatan, contoh soal ulangan, peraturan dan sebagainya. Yah, seperti berbagi pengalaman gitu deh. Kalau ada yang bagus, kenapa tidak kita ikuti. Bahasa kerennya sih, ATM, amati, tiru dan modifikasi.
Anyway, mau sekolah di mana, ya monggo. Kalau saya mah, kalau bisa ya murah, dekat baik pula haahaaa.....yang jelas sih, harus tetap sekolah karena bisa dapat ijazah. Nggak ada ijazah=nggak bisa kerja=nggak dapat duit=miskin=lapar=penyakit=mati. Duhhh.....lebay nggak sih

Rabu, 28 Maret 2018

Bagi Kalian yang Tak Pandai Menawar




“Eh kamu beli ini berapa?”
“ Lima ratus ribu”
“Mahal amat, aku kemarin tiga ratus dapat” (Nelen dompet)

***
Makin ke sini keinginan manusia makin beragam dan hasrat belong to something makin kuat. Ditambah dengan maraknya kios entah di dunia nyata maupun fana, eh maya, mata kita seakan dimanja. Apalagi nonton berita Syahrini, Gigi atau Nia Ramadhani, duuuhh.......sungguh, ingin sekali menuliskan hobbi shopping di kolom data diri.

Karena saya tahu diri, shopping bukan hobi sih, Cuma memang butuh, butuh untuk dipakai, untuk dimakan, bukan untuk pajangan sebagai koleksi. Itupun masih banyak yang dipertimbangkan, kira-kira urgent tidak, masih ada nggak yang jadi akar daripada beli rotan, habis beli masih ada amplop cadangan akhir bulan nggak, and ndebrew and ndebrew. Apalagi saya ini tipikal orang yang tak pandai menawar, bawaannya nggak mau bersilat lidah sampai berdarah-darah (lebay). Kalau kejadian seperti percakapan tadi di awal sih, sebenarnya agak nyesek juga ya.

 Nah, biar nggak nyesek di kemudian hari, di sini akan disajikan beberapa petuah meski Cuma remah-remah. Bagi yang punya waktu luang bolehlah membaca sampai akhir, tapi kalau sibuk ya abaikan saja. Sungguh, tak elok menghabiskan waktu beberapa menit hanya untuk membaca tulisan ecek-ecek ini say.

1. Ajak emak-emak pandai menawar

Kalau habis gajian, bolehlah ya ajak emak-emak yang militan ke tanah abang. Demi apa coba selain untuk mendapatkan harga yang ndlosor. Kuncinya adalah sabar dan jangan ikut campur dalam ia mendiskusikan harga. Emak-emak jenis ini sudah kebal dengan drama penjual. Prinsipnya adalah dengan uang sekecil-kecilnya, kita bisa mendapatkan barang sebanyak-banyaknya. Emak model ini nggak mempan dengan wisdom “ biar jadi rejeki penjualnya” hahhaaaa.....tapi perlu dipertimbangkan bahwa ngajak orang berarti menanggung ongkos dan akomodasi. Siapkan untuk tiket kereta bolak-balik plus soto ayam kalau perlu ke pijat refleksi. Ingat, jangan sampai pengeluaran lebih mbludak daripada jalan sendiri ya...

2. Belanja di fixed price

Nggak punya teman ahli menawar? Tipikal orang solitude? Introvert? Mlipir saja ke fixed price. Kalian nggak perlu buang ludah untuk menawar, paling dijawab, “harga pas” mbak. Yang perlu dipersiapkan tentu saja fulus dan mental kalau ternyata tetangga sebelah bisa juga menawar di fixed price itu.

3. Giat Bekerja

Ini adalah solusi yang tepat dan reasonable. Mau belanja? Males menawar? Mau dapat banyak? Ya kerja giat kalau perlu lembur untuk mendapatkan pemasukan lebih. Karena, pada intinya, barang-barang itu dibeli dengan uang bukan daun apalagi hanya senyuman manis.

4. Tawakal sebagai bukti cinta Illahi

Ini adalah titik di mana kalian mencapai ketenangan batin. Nggak perlu nyesek lihat orang lain mendapatkan harga yang lebih murah. Dengan prinsip “sudah jadi rejekinya penjual” membuat hati lebih nyesss. Berbekal dengan dalil “ mempermudah rejeki orang lain sama dengan mempermudah rejeki kita sendiri” sudah cukup membuat kita tidur lebih pulas yee kan.

Anyway, tawar-menawar adalah sesuatu yang biasa dijumpai hanya saja memang ada beberapa yang enggan atau malah sebaliknya. Bagi yang pencari harga murah garis keras, mbok ya jangan sadis-sadis amatlah ya kalau menawar. Para penjual kan nggak hanya modal duit tapi tenaga, belum lagi kalau modalnya masih ngutang. Woles sajalah ya. Untuk penjualnya ya kasih harga yang reasonable ya, win-win solution gitu. Rasulullah kan juga sudah mencontohkan bagaimana menjadi pedagang yang baik, seperti dalam hal mengambil keuntungan, menakar barang dan lain-lain. Jadikan muamalah dalam jual-beli menjadi tabungan amalan nanti, yee kaaan, salam.......



Rabu, 20 Desember 2017

Makan Siang Berlauk Bangkai


Tik-tok-tik-tok, waktu menunjukkan pukul 12.10. Beberapa karyawan C.V Maju Mundur Bersama tengah bermalas-malasan di depan komputer. Pegawai yang bekerja di bidang jasa travel dan pengiriman barang itu tak banyak dan sedang dalam waktu  istirahat.  Mereka sedang menunggu Paijo, Office Boy yang sedang membelikan makan siang di warteg sebrang jalan.
Tak memakan waktu lama, Paijo pun datang dengan membawa beberapa nasi bungkus. Sekretaris, front officer dan beberapa orang berkumpul di meja sudut yang hanya muat sekitar enam orang. Tanpa arahan resmi , mereka membuka bungkusan masing-masing.

“Eh, denger-denger, pak bos mau menikahkan anaknya, Selly.” Ujar Kiki memecah syahdunya makan siang.
“Oh ya?”
“Iya, sama lelaki bernama Duta. Tapi....katanya tidak disetujui oleh nyonya besar lho.” Tambah si Rika.
“ Emang kenapa?” Tanya yang lain.
“ Katanya sih, si Duta ini masih ngontrak, baik rumah maupun kerjanya.”
“Ooo....takut masa depannya suram kali yaaa.”
“ Yaah, namanya juga cinta.”
“ Yaah, makan tuh cinta. Hari gini, pleasee deh....money is everything.”
“Yaa nggak tahulah yaa....jadi apa enggak. Kemarin nyonya besar sempat marah-marah gitu.”

Begitulah. Para karyawan asyik menikmati makan siang dengan bumbu-bumbu obrolan yang kurang penting. Tanpa mereka sadari, mereka menambahkan lauk dengan berupa bangkai. Bukan sembarang bangkai, melainkan bangkai saudaranya sendiri. Sebagaimana yang sudah tertuang dalam AlQuran:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyanyang ( Al Hujurat:12)

Memang, makan bersama adalah momen yang menyenangkan, bahkan presiden pun pernah menggunakan diplomasi makan siang untuk meredakan ketegangan. Hanya saja, alangkah baiknya obrolan yang terjadi saat makan siang atau dimanapun itu, mbok ya yang bermanfaat. Banyak topik yang lebih elegan untuk didiskusikan apalagi bagi kalangan yang mengaku educated. Alih-alih menggosipkan orang yang belum tentu benar dan tak ada pengaruhnya dengan kehidupan kita, lebih baik cari topik yang lain seperti next project, berbagi tips, informasi yang berfaedah dan masih banyak lagi.Semoga saya, anda dan kita semua bebas dari aktivitas makan bangkai tersebut. Aaah,....sudah makan bangkai, manusia pula. Masih banyak kok lauk yang lebih menyehatkan.

LaGi BeTe


“Kalau ingin tahu isu terbaru, mainkan saja smartphonemu...”
Agar terlihat intelek sedikit, isenglah saya menonton tayangan diskusi yang isinya orang-orang pintar. Saya kira, ini lebih bermartabat daripada sekedar menonton infotainmen ya haaa.....

Ya, isu yang diangkat ke diskusi publik itu adalah seputar legalitas LGBT. El Ge Be Te itu bukan Laki Gila Bini Tiga ya, tapi itu merupakan singkatan dari Lesbi, Gay, Bisex dan Trangender yang pada intinya adalah penyalahgunaan barang berharga.

Pro Kontra didudukkan. Atas nama HAM, sejumlah orang pun mengiyakan legalitasnya. Tanpa memandang norma-norma di masyarakat dan budaya timur sendiri, mereka menyambut baik eksistensi LGBT.

Sementara itu, di sayap kontra, mereka menyandingkan dengan fakta-fakta medis dan ajaran kitab suci. Sejumlah penyakit menular seksual disinyalir sebagai buntut daripada aktifitas nista tersebut. Selain itu, kitab suci (khususnya agama samawi)jelas-jelas menganggap bahwa itu suatu pelanggaran. Sebuah riwayat kaum Luth menjadi pengingat akan sebuah azab yang pedih.

 Memang, budaya nusantara sendiri, dahulu, ada cerita tentang praktik gay oleh ksatria warok ( dari Ponorogo). Konon, para warok ini menjaga kesaktiannya, para warok ini menghindari sex dengan lawan jenis. Sebagai gantinya, ia mengganti dengan lelaki yang elok yang disebut gemblak. Anyway, itu kan dulu ya, jauh sebelum dakwah itu merambah.

Jadi ya, mengingat dampak duniawi dan ukhrowi, demi menjadikan negara ini lebih beradab, perilaku menyimpang LGBT ini perlu di non aktifkan. They say, LGBT itu menular, that’s why, perlu treatment. Alih-alih memberi ruang legalitas, lebih baik difikirkan tentang penanganan dan pencegahan. Lho, katanya toleransi itu membiarkan?? Tapi ya nggak serta merta bisa diaplikasikan dalam kasus ini lha ya. Kalau mereka mau natalan, waisakan, lebaran, ibarat kata nggak ada dampak kesehatan fisik yang berarti. Mau natalan semonas juga, lakum dinukum waliyyadin. Berbeda dengan LGBT yang bisa menularkan penyakit-penyakit dan azab karena menentang kitab.

Ayolah, orang mah tertarik sama barang yang bukan miliknya. Pengin sesuatu yang berbeda, eh ini malah jeruk makan jeruk. Rasulullah saja membanggakan kaum muslimin secara kualitas dan kuantitas, kalau homo, bagaimana kuantitasnya bertambah??? Coba orang-orang yang mengaku mendukung sementara dia sendiri normal, mau nggak dipasangkan sesama jenis?. El Ge Be Te adalah suatu bentuk penyimpangan, kalau menyimpang ya diluruskan, bukan malah semakin dibelokkan.
Saya jadi ingat pernyataan fenomenal presiden Zimbabwe, seorang kristen yang kurang lebih begini “ Saya tidak habis pikir bagaimana AS melegalkan perkawinan sesama jenis. Jika perlu saya akan terbang ke AS dan melaamar Obama.” Duhh.....

“maka barang siapa yang mencari di luar itu (seperti zina, homoseks dan lesbian)mereka itulah orang-orang yang melampui batas”

Senin, 16 Oktober 2017

Hajatan ; momen syukuran atau menagih hutang


Dari Anas tentang kisah Shafiyah bahwa sesungguhnya Nabi SAW mengadakan walimah (pernikahannya) dengan kurma, keju dan samin. [HR. Ahmad dan Muslim].

Hajatan, pesta, resepsi, walimahan atau apapun itu namanya, adalah suatu hal yang lumrah. Tak hanya di Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, di negara lain pun banyak. Berbagai peringatan mereka rayakan, mulai dari kelahiran, ulang tahun, diterima PNS, sampai kematian. Tak hanya itu, cara dalam menyelenggarakan pun digelar dengan berbagai cara, entah dengan mendirikan tenda di rumah, pesta kebun atau dengan menyewa gedung. Hidangannya pun beragam, ada yang sederhana, adapula yang lengkap dari appetizer hingga dessert, tergantung kemampuan si punya hajat. Biasanya sih ya, semakin tinggi kesejahteraan orang, makin wow pesta yang digelar. Makin terkenal,makin banyak pula tamu yang diundang.

Uniknya, kadang di Indonesia ( entah di negara lain ya ), resepsi ini ada bulan-bulannya. Biasanya orang menikah selepas syawal, anak-anak khitanan bertepatan dengan libur panjang, tapi adapula yang nggak bisa diprediksi yaitu kelahiran dan kematian, oops. Bahkan, kalau lagi rame-ramenya, anggaran untuk menghadiri resepsi atau sebut saja kondhangan itu bisa lebih daripada sekedar SPP anak atau bayar kontrakan,.. hayukk yang emak-emak, setuju nggak nih?

Di beberapa masyarakat malah ada yang mengenal sistem paket. Jadi, ini seperti nagih utang. misalnya begini, nyonya A dulu kondhangan/nyumbang di hajatan nyonya B sekarung beras, nah nanti ketika nyonya A ada hajat, si B ini harus nyumbang di hajatan nyonya A sekarung beras juga ( sukur-sukur lebih, hahhahahaaa). Lebih ekstreem lagi, besaran nilai yang harus kembali itu dicantumkan di kartu undangan, serius, ada yang ngasih tulisan begini ke undangan. Contoh ; kpd yth Mei, pulangan dua liter beras.

Sebenarnya hajatan itu fungsinya untuk apa sih ya? bukankah hajatan ( kecuali kematian) itu untuk memperingati kegembiraan yang kita dapat? Selain itu juga untuk mengumumkan ke publik. Contoh, hajatan pernikahan. Kita bergembira, kita bersyukur ditandai dengan berbagi makanan, seperti hadist di atas. Selain itu juga memproklamasikan, kalau sudah menikah, jadi biar nggak ada fitnah, entah itu kumpul ke*o atau masih dikira perawan, eh dilamar.

Kadang, kalau lagi banyak undangan, tak sedikit yang kelabakan, bahkan ada yang merasa terbebani. Lha gimana, pengeluaran tak terduga baik waktu dan jumlahnya. Apalagi kalau yang mengundang orang kaya. Beberapa orang malah merasa kikuk, mau nyumbang amplop sedikit malu, mau banyak tapi anggaran over, gak hadir malah dikira sombong dan malah dosa, fyuhhh.....jadi dilema. Terus gimana dong, kalau saya sih, datang saja, amplop disesuaikan budget, yah makannya minimalis saja yah, takut seret karena ingat isi amplop yang tipis, hahahaaa...Yah, karena kan kondisi ekonomi seseorang kan berbeda seperti roda, jiah.....dulu bisa nyumbang banyak karena memang lagi jaya, tapi kalau lagi kronis, ya apa mau dikata? Amannya sih ya, nggak usah ikut paketan kalau nggak mau ditagih kemudian hari, hahahaaa....

Untuk yang hendak mau hajatan, ada baiknya poin-poin di bawah ini diperhatikan :

  • Luruskan niat

Ya, niatnya kan syukuran atas kegembiraan yang kita terima, jadi ya jangan dihitung-gitung antara uang yang dikeluarkan sama uang sumbangan yang masuk. Kalau begitu sama aja dengan dagang, ya toooh...
  • Membuat dan menyediakan hidangan sesuai kemampuan

Naah ini. Biasanya orang-orang, demi harga diri dan pengakuan sosial, rela ber-wah-wah nggak peduli kantong sementara kedepannya kan ada perjuangan juga. Jadi, sok atuh, dipikir-pikir, ditimbang-timbang lah ya. Jangan hanya demi gaya di luar, dalamnya keropos. Tidak berlebih-lebihan. Saya teringat, ada yang pernah bercerita bahwa ada suatu hajatan yang menambahkan, selamat menikmati, terima kasih sudah menghabiskan. Wew, kayaknya sepele tapi emang benar sih. Coba kalau hajatan, khususnya yang di rumah, biasanya sisa makanan itu numpuk dan jadi sampah kan?
  • Adil terhadap undangan

Maksudnya, undangan nggak hanya untuk orang kaya saja ( mentang-mentang mereka sumbangannya gede kaliii). Rasulullah pernah bilang , “ seburuk-buruknya hidangan walimahan adalah dimana undangan hanya untuk orang kaya sedangkan orang fakir tidak diundang.”
  • Hiburan yang sopan

Ya..itu...hiburan yang tidak mendatangkan maksiat. Kalau menyanyi ya mbok yang sopan, nggak perlu eksploitasi fisiklah, via vallen cukup di mp3 saja, kan nggak baik dilihat anak-anak, hehehee.....apalagi kalau hajatannya khitanan, waduuuhhh...nggak mashoook man.

Hemmm....ada lagi yang mau menambahkan? Intinya sih, hajatan boleh, bahkan wajib lho ya tapi memang ada nilai-nilai moral sosial dalam menjaga masyarakat yang beradab. Overall, hajatan tidak membuat kita lupa diri, lupa ibadah. Baiklah, tulisan ini saya tutup dengan hadist untuk yang diundang, oke oce.
Rasulullah bersabda : “Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk walimatul ursy, maka penuhilah”( H.R Muslim) 

Senin, 21 Agustus 2017

Insiden bandara dan bendera di pesta Olahraga


Baru saja penduduk Indonesia merayakan kemerdekaan Indonesia, tiba-tiba kok ada kabar yang tak sedap dari tetangga sebelah.

Pesta olahraga seAsia Tenggara mencederai orang Indonesia justru saat awal. Belum juga bertanding, tetangga sebelah sudah bikin ulah. Aih, yang namanya bertentangga itu memang ada seninya ya.

Yaa....publik Indonesia dibuat geger karena bendera terbalik yang ada di buku panduan SEA Games. Yang tadinya merah putih malah jadi seperti Polandia, putih merah. Menteri Olahraga Malaysia sudah minta maaf akan keteledoran ini, akan tetapi tindakan ini belum cukup. Yah, mau bagaimana lagi, Indonesia itu kan nasionalismenya tinggi, setiap senin pasti upacara dengan menghormat bendera. Bendera merah putih seakan sudah mendarah daging di tiap warga Indonesia.

Memang, insiden ini benar-benar di luar nalar sebenarnya. Cendekiawan Indonesia berpendapat  ; bukankah pembuatan buku panduan itu melewati beberapa proses termasuk editing, lha kok iso-isone terbalik. Ndilalahnya ya, yang bikin ulah Malaysia yang diajak bermasalah Indonesia, huhuuu......negara serumpun yang susah akurnya.

Indonesia butuh tak hanya permintaan maaf apalagi hanya dari seorang menteri, menurut saya sih. Sang kepala negara juga harus turun tangan. Apa mungkin buku panduan itu diganti? Yaa bisa jadi, asalkan bisa cepat, kenapa tidak. Mungkin lho ya, mungkiiiin.

Negara Malaysia, sebagai tuan rumah, juga kabarnya menuai beberapa kekecewaan. Menurut laman berita, kontingen takraw putri Indonesia  melakukan aksi WO karena wasit tidak adil, yang lagi-lagi sedang bertanding melawan Malaysia. Wasitnya keder kali, pantang mempermalukan tuan rumah. Tak hanya itu, diberitakan bahwa timnas kehabisan makanan ketika tiba di hotel.

Kita tidak tahu maksud dari ulah negeri jiran itu, semoga tidak ada unsur kesengajaan, yah semoga saja ada titik terang. Dengar-dengar netizen Indonesia yang gerah membalas dengan menghack situs SEA GAMES dengan memutar lagu-lagu Indonesia di situsnya. See, betapa kreatif dan fanatiknya Indonesia ketika kedaulatan diusik.

Mengingat ini baru permulaan, semoga kekecewaan ini tidak terus berlanjut ya. Keep fairplay. Jangan sampai publik Indonesia angkat senjata  hahahahaa.....Indonesia dan Malaysia, mbok ya saling rukun lah ya, kan sama-sama rumpun Melayu. Atau jangan-jangan ini yang namanya saudara, kadang bau wangi, kadang bau t*i. Atau mungkin karena sentimen Indonesia terhadap Malaysia karena sebelumnya sudah sering menoreh luka, alaaamaaakkk. Kalau bendera yang terbalik itu punya Thailand, mungkin nggak ya reaksi publik di sana heboh kayak di sini. Atau jangan-jangan ini sebagai balasan karena ada orang Indonesia yang berbuat tak senonoh terhadap anggota SNSD kemarin di bandara??? Aah....pesta olahraga yang diwarnai dengan insiden Bandara dan Bendera, semoga cepat reda ya....



Jumat, 18 Agustus 2017

Generasi Qurani Penebar Inspirasi


“Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya belajar semata-mata bagi Allah itu merupakan kebaikan dan mempelajari ilmu merupakan tasbih, membahasnya merupakan jihad, mencarinya merupakan ibadah dan mengajarkannya merupakan sedekah sedangkan menggunakannya bagi orang lain yang membutuhkan merupakan qurbah ( pendekatan diri kepada Allah)”-Riwayat Ibn Majah
Hadist di atas menyampaikan betapa utamanya ilmu, baik kepada pencari maupun sang guru. Sebetulnya banyak sekali dalil entah bersumber dari Hadist ataupun AlQuran yang menyampaikan pentingnya ilmu. Maka dari itu, sebagai muslim dimana AlQuran dan Alhadist sebagai landasannya, seharusnya menjadi generasi pencari dan penyampai ilmu yang mulia.

Bersyukurlah bagi generasi sekarang, dimana pendidikan dengan mudah didapat begitu juga dengan fasilitas yang jauh lebih baik. Bagi pendidik di kota besar misalnya, ketersediaan buku-buku, alat tulis dan segala penunjang lainnya bisa dengan mudahnya terpenuhi mengingat banyaknya toko buku, fasilitas cyber untuk memperkaya materi dan sebagainya. Pun begitu juga para siswa yang dimanjakan dengan berbagai alat tulis yang berwarna-warni.

Akan tetapi, sudah bukan rahasia lagi bahwa kenikmatan itu semua sebetulnya tidak bisa dipukul rata. Di pelosok jauh di sana masih terdapat pendidikan yang masih jauh dari layak. Jangankan fasilitas wifi dan seperangkat eletronik lainnya, mengkondisikan gedung yang permanen, tidak reyot dan bocor saja sudah alhamdulillah. Namun, siapa sangka, meski dengan fasilitas seadanya, murid-murid tak patah arang, dengan beralaskan sandal dan tas sederhana mereka menembus jalan tak beraspal bahkan menerjang arus sungai.

Everyone has their own battle...
Setiap orang memiliki tantangan sendiri, baik yang sudah mengenyam teknologi modern maupun yang sedang berjuang di lingkungan yang masih jauh dari modern. Para pendidik diharapkan bisa berdamai dengan keadaan, tidak terlena dengan mewahnya fasilitas, harus kreatif, tetap berdaya meski lingkungan yang jauh dari kata maju demi mewujudkan generasi yang tak hanya cerdas tapi juga berakhlak mulia.

 Sahabat pernah berkata, “didiklah anakmu sesuai dengan zaman mereka bukan zamanmu.” Ini berarti bahwa dalam mendidik anak tak harus melulu dengan metode yang sama. Zaman kita kecil tak kenal gadget, tak kenal media sosial, itu bukan berarti bahwa murid kita juga harus dijauhkan dari segala yang berbau modern. The problem is just how to manage. Jangan sampai kemajuan teknologi malah menjadi racun. Pun,jika seandainya kita ditakdirkan di belahan bumi yang masih sepi teknologi, jangan membuat kita berkecil hati. Tak dapat dipungkiri bahwa di sejumlah daerah memang masih memiliki kendala tapi jangan sampai menjadi pesimis. Siapa yang tahu kalau ternyata di antara murid-murid tersebut kelak menjadi orang besar karena sudah ditempa tantangan sedemikian rupa sedari kecil.

Tetaplah menjadi pendidik yang menginsipirasi dimanapun kita berkarya. Mungkin di kota, dengan mengandalkan teknologi, materi pelajaran dengan mudah didapatkan tapi tidak dengan kebutuhan mental mereka. Pendidik adalah figur yang senantiasa menyemangati, sebagai kontrol dan kendali ketika konten-konten negatif mulai menyusup. Pendidik can be agent of change, mengubah pemikiran-pemikiran negatif menuju masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia. Pendidik sebagai pribadi yang kokoh ketika anak muridnya mulai menyurutkan langkah. Kita, para pendidik, saat ini mungkin kecewa dengan hiruk-pikuk pemerintahan, mungkin telat menjadikan diri sebagai pejabat yang bernilai tetapi ingatlah, kita ikut serta dalam menciptakan generasi yang akan datang. Lakukan yang terbaik, ilmu dan akhlak yang berimbang. Kita tidak tahu,  di antara anak didik kita kelak ada yang menjadi pejabat , pengusaha dan beragam profesi lainnya . Dengan membekali dengan ilmu, baik duniawi maupun ukhrowi, insya Allah, mereka tak hanya jadi pejabat/pegawai yang cerdas, tapi juga berakhlak mulia, jauh dari iri, dengki , korupsi dan tindak negatif lainnya. Buya Hamka pernah berkata “ iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi namun ilmu tanpa iman bagaikan di tangan pencuri”.


Jangan pernah berkecil hati akan profesi pendidik, sungguh, menjadi guru adalah profesi yang mulia. Diceritakan bahwa setelah pengeboman Hirosima Nagasaki, Kaisar Hirohito justru menanyakan jumlah guru yang tersisa karena menganggap bahwa pendidikanlah yang bisa mengubahnya lebih baik. Bahkan Allah pun menjaminnya sebagai amalan yang tidak putus pahalanya meski sudah tiada. 

Kamis, 10 Agustus 2017

Full Day atau Half Day???...Ketika Galau Milik Semua Kalangan


Masyarakat kita memang dikenal sebagai masyarakat yang reaktif, entah itu hal yang baik maupun buruk. Berawal dari kepo dan viralism, semua jadi tahu. Dibalik berita tersebut ada yang peduli, ada yang nyinyir adapula yang sebodo teuing emang gue pikirin.

Beberapa hari yang lalu( atau bahkan sekarang pun masih) sempat berisik dengan wacana Full day school. Beberapa kalangan pun ikut berkomentar akan rencana pak Muhadjir. Katanya sih, sudah dipertimbangkan, tapi ternyata isu tersebut juga menimbulkan pro dan kontra.

As for myself, Full Day School Ataupun Half day school masing-masing punya plus dan minusnya. Kata anak muda sekarang mah, keduanya punya fanbase sendiri-sendiri. Para orang tua punya alasan tersendiri untuk memilih.

Perlu diketahui bahwa Indonesia mempunyai demografi yang berbeda-beda. Sosial budaya di Jakarta bisa saja berbeda di salah satu desa pelosok di Sumatra sana. Jakarta dengan dinamikanya yang lebih ribet, sebagian ada yang hedonis, materialistis ( tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan ibukota lebih mahal). Bagi mereka yang sibuk, kedua orang tua bekerja, mungkin lebih memilih full day dengan pertimbangan anaknya berada di lingkungan yang bertanggungjawab. Kalaupun toh di rumah ada ART, mungkin ART tersebut tidak punya power sebagaimana guru, seperti membiarkan seharian main games, nonton tivi ataupun youtuban yang seronok. Kalau di sekolah anak diharapkan untuk lebih teratur, punya tanggungjawab. Selain itu, biasanya full day school yang islami akan menyematkan materi ngaji untuk anak didiknya sehingga tak perlu lagi TPQ. Selain itu, ada juga sekolah setingkat SMA yang sampai sore dengan tujuan anak muridnya tidak banyak keluyuran nggak jelas apalagi tawuran, hadeehh. Yaa memang untuk Full Day school memang cukup menguras kocek, ya iyalahh, sekolah menanggung makan siang, menyediakan guru ngaji dan paketan-paketan lain.

Bagi masyarakat kampung yang sosialnya masih erat, budaya yang masih mengakar, mungkin gagasan ini tidak cocok. Mereka biasanya punya peliharaan macam kambing yang biasanya mengharuskan anak-anak merumput, angon kambing atau sekedar ngrangsum ayam di sore hari. Dengan ekonomi yang pas-pasan, mereka lebih suka anak-anak mengaji sore hari di mushola terdekat dengan biayanya cukup murah, cincailah sama ustadznya. Anak-anak di pelosok sana masih bisa menikmati semilirnya angin sore tanpa polusi sambil baca buku di bawah pohon ditemani kambing-kambingnya. Lepas itu, magrib mereka ke surau mengaji bersama-sama.

Begitulah. Beda masyarakat, beda pendapat. Tak perlu ngotot harus full day ataupun half day. Semua ada alasannya masing-masing, mana yang lebih cocok, yang nyaman untuk orangtua dan calon siswa. Saya sendiri berada di full day school but i am alright, enaknya Cuma lima hari kerja, sabtu libur. Bagi yang half day tak perlu risau tak ada peminat. Keadaan lingkungan di Bekasi jelas beda dong sama Ciraos.

Kembali lagi, bahwa  Full Day maupun Half day menurut saya adalah preferensi anak dan orang tua. Memang, keputusan Full Day school tidak bisa dipukul rata untuk semua kalangan, untuk semua daerah.  Tapi ini juga bukan berarti Full Day itu buruk, half day yang terbaik.

Yang penting pak menteri, konsistensi, kurikulum gak usah berkali-kali ganti. Keberhasilan suatu kurikulum tak bisa dilihat hanya dalam kurun waktu setahun kok. Jangan bikin galau para pendidik deh, yang ini belum mudeng, terbit yang lain...olalaaa....


Selasa, 08 Agustus 2017

Tragedi Ampli

Karena agama tak hanya sekedar membaca kitabNya......

Entahlah, bulan Agustus ini diawali dengan berita yang tidak sedap. Suatu peristiwa yang membuat bulu kuduk berdiri dan garuk-garuk dahi. Dari riuhnya kabar para petinggi, perhatian masyarakat kini beralih pada tragedi ampli di Bekasi. Bahkan, hanya dengan membaca beritanya saja kita jadi gregetan, emosi karena perilaku tak beradab itu.

Ya, berita tentang pembakaran Zoya ( semoga dilapangkan kuburnya) karena diduga mencuri ampli di mesjid beredar dengan cepat. Deep condolence to him, apalagi beliau kepala rumah tangga yang menanggung anak istri. Zoya yang dikenal cukup baik oleh masyarakatnya harus mengakhiri hayatnya dengan cara yang tragis, dibakar karena dicurigai mencuri ampli. Duuh Gusti, berapa sih harga ampli sampai bisa ditukar dengan nyawa???

Sebuah nyawa yang harus dibayar dengan ampli yang tak seberapa rupiah. Ampli masjid pula. Apakah ini yang namanya matinya hati? Masjid yang dikenal sebagai rumah Allah, Allah yang Maha Pengampun, kali ini justru dikotori dengan perbuatan keji. Lelaki itu hanya numpang sholat yang kebetulan tukang servis elektronik. Apakah tidak ada cara yang elegan dalam meminta penjelasan daripada bermain fisik? Apakah hanya sekedar tertuduh membuat darahnya halal untuk dibunuh? Kita memang sedang hidup di zaman yang sedang terhimpit tapi hendaknya emosi kita masih bisa dikondisikan.

Ternyata, kemajuan teknologi tak serta merta membuat masyarakat semakin maju pola berpikirnya. Bagaimana mungkin warga sekitar mushola yang nota bene biasanya akrab dengan program dakwah rumah ibadah tersebut, malah beramai –ramai menganiaya saudaranya sendiri, yang lebih menyedihkan lagi malah merekamnya.

Semua sudah terjadi, nyawa yang hilang tak mungkin kembali. Apalah arti sebuah penyesalan??? Can’t imagine, seorang perempuan muda, 25 tahun beranak satu dan masih menanti kelahiran sang buah hati, kini berjuang sendiri. Yah, semoga tak terjadi lagi ya....Kita adalah makhluk yang beradab, Rasululah datang demi menyempurnakan akhlak. Jangan sampai kita mengaku pengikut Muhammad tapi tidak disertai nilai-nilai sebagaimana beliau contohkan. Apalagi ditengah-tengah isu yang masih hangat seputar toleransi agama. Islam yang terpojok karena pelintiran media, ditambah pula dengan kasus yang demikian.

 Jika di sejumlah kalangan, hukum diperjualbelikan, adapula kalangan yang malah tak mengenal hukum kecuali hukum rimba, mereka main hakim sendiri tanpa ada kroscek sebelumnya. Biasakanlah verivikasi, kroscek jangan mudah terprovokasi. Berhentilah memprovokasi ke hal-hal keburukan. Kalau nggak bisa jadi yodium yang mengeringkan luka, setidaknya jangan menggaraminya. Ingat, garam sekarang mahal lho.

“Dan sesungguhnya sebaik-baik keislaman seseorang adalah yang paling baik akhlaknya.” (Hadis riwayat As-Suyuthi)  




Minggu, 30 Juli 2017

PIL, Pemimpin Idaman Lakyat, eh Rakyat

Adil adalah menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah, dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim diatasnya –Hamka.
Mencoba tidak melirik, tapi kok menggelitik, mencoba tak membuka tapi kok sepet di mata. Ah berita-berita itu, mau berpaling kok gemanya malah makin melengking. Fitnah di mana-mana, dua kubu beradu, fakta, hoax campur jadi satu.

Akhir-akhir ini memang berita seperti dagelan ya, lucu aja gitu kalau dijadikan sarkas. Gaduh, gaduh memang negeri ini, entah sebenarnya mau dibawa kemana ya.
Berawal dari pilpres, lanjut dengan pilkada DKI yang diwarnai dengan sejumlah kasus, mulai dari penistaan hingga isu korupsi sejumlah proyek. Saya pikir bakal tutup buku, selesai setelah terpilihnya gubernur baru, tapi ternyata tidak. “Perang saudara”, dua kubu yang bertolak belakang tak jua berkesudahan.

Ya, negeri ini sedang ringkih. Untuk negara seluas Indonesia dengan adat, budaya, suku, ras, agama yang beragam memang rawan dengan konflik. Sejumlah lakon yang penting justru tidak memainkan perannya dengan baik. Hal ini menjadi alasan mereka yang kreatif dengan membuat meme meme yang mengolok-olok, meragukan kinerjanya.

Contohlah saja polisi. Instansi ini belakangan dipandang sinis oleh masyarakat atas gaweannya yang jauh panggang dari api. Kasus-kasus yang embuh lah, mulai chat sex habib yang belakangan malah dipatahkan oleh sejumlah ahli, penyiraman begawan KPK yang katanya rentetan dari bisnis online shop sang istri, ngorek-orek jualan beras yang katanya bla bla bla tapi ujungnya dipermalukan di depan dewan. Saya kira dagelan Cuma ada di ketoprak humor tapi faktanya ada lho, hahahaa( entahlah, mau ketawa atau menangisi pertiwi).

Hayuklah para pemangku negeri, rakyat makin cerdas lho seiring dengan tekhnologi informasi yang melesat. Dan pada akhirnya, informasi yang benar, yang logis dengan mudah rakyat dapatkan. Mereka sudah paham mana yang fakta mana yang plintiran. Kalau masih ndableg membela yang salah berarti ada kepentingan di atas kepentingan, wes lah ngono.

Bangkai tetaplah bangkai....serapi apapun pasti akan ketahuan juga

Memang rumit sih ya, apalagi bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang berbudi, termasuk mengingat utang budi. Misalnya, utang budi diberi pangkat yang justru jadi jongos yang memberi pangkat, ea eaaa....Ya kan katanya utang budi dibawa mati kan ya.....halah...

Berharapnya si, udah, cukup, jangan sampai ada pertumpahan darah, perang saudara. Asalkan yang diatas berlaku adil, rakyat nggak berisik kok. Adil terhadap semuanya, tidak berat sebelah, tidak membeda jawa, china, islam kristen. Tetaplah berdaulat terhormat, bukan menjadi jongos negeri sendiri, tikus mati di lumbung padi. Telah banyak bukti bahwa Indonesia sesungguhnya negara yang kaya raya tapi kok ya Cuma sepandang mata saja hasilnya.

Jadilah pemimpin yang amanah, pemimpin yang takut Allah dan dicintai rakyatnya, buat yang jomblo bolehlah ya ikut serta membangun negara meski belum membangun rumah tangga eaaa....

“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Al-Bukhari, No. 6618).

“Sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang mempersulit (menyusahkan) rakyatnya. Oleh karena itu, janganlah sampai kamu tergolong dari mereka,” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Aidz bin Amar).









Minggu, 23 Juli 2017

Karena dibully tak selezat nasi kebuli

Jadilah mulia tanpa menghinakan orang lain

Yey, tahun ajaran baru, teman baru, guru baru, sekolah baru. Masa-masa ini riuh dengan berita tentang pendidikan, mulai dari kehebohan sekolah baru, sampai dengan berita kurang sedap yaitu tentang aksi pembullyan baik itu siswa berseragam maupun yang sudah bergelar mahasiswa.

 Entah demi eksis atau menunjukkan keperkasaan, dikabarkan ada anak sekolah membully temannya, mahasiswa membully rekannya yang katanya berkebutuhan khusus. Yaa ampun....apa ini efek ditiadakannya pelajaran moral pancasila atau keseringan nonton John Cenna yak, haish.

Mungkinkah dari sisi pelaku, ia mendapatkan kepuasan tersendiri setelah melakukan pembullyan itu? Bully itu sendiri tak hanya sebatas fisik lho. Tapi ngata-ngatain orang, menjadikan temannya bahan candaan itu termasuk juga lho. Jadi, menyebut miskin, tonggos, pesek dan lain sebagainya itu termasuk kriminalisasi lidah.

Kalau baik itu bisa ngetop, kenapa harus jadi buruk?
Kalau hanya sekedar eksis, kenapa harus dengan membully ya. Ada banyak cara-cara yang cerdas seperti ikut kompetisi, entah itu yang menguras otak atau olahraga yang menguras tenaga, menyelenggarakan kegiatan, berusaha keras menjadi juara, mempertahankan IPK cumlaude dan masih banyak lagi.
Kalau hanya menyalurkan hobi, mendapatkan kepuasan, hey....kamu normal kan? Masa iya mendapatkan kepuasan melalui penderitaan orang. Masih banyak cara-cara elegan kan ya untuk aktualisasi diri. Apalagi kok ya sampai hati memvideokan dan menyebarluaskan.

Lebih gemes lagi kalau yang dibuly itu hanya diam menikmati kepedihan, hadeuh. Lalu harus bagaimana? Kalau kamu punya tenaga lebih kenapa tidak dimanfaatkansetelah physically dianiaya? It’s okay kalau dibilang tukang ngadu kalau kamu memang get irritated, asal jangan lebay yahh.

Jadilah orang yang beruntung dengan membuat hari esok lebih baik dengan sebelumnya.

Semoga pembully-pembully itu segera tergerak hatinya ya. Efek bagi korban bisa jadi lama sembuhnya lho, bisa jadi pengalaman traumatis. Ingat Chester Bennington, vokalis band Linkin Park yang tewas karena bunuh diri kan? Kabarnya doi punya pengalaman buruk waktu kecil yang sampai akhir hayatnya masih membekas ...Nahh lhoo.....padahal doi kan sudah ngetop, he can get everything ya, tapi ternyata ada sisi gelap yang tak bisa terungkap. Meninggalnya sang vokalis kok ya pas sama momen yang sedang naik daun( apa maksud dari tulisan ini, toyorr). Daripada membully lebih baik makan nasi kebuli ah, lezaaat...hahaha....

Untuk yang pernah dibully, stay strong, berdamai dengan masa lalu itu lebih baik. See, pemandu talk show terkenal Oprah Winfrey pun punya masa lalu kelam tapi ia bisa menjadi lebih baik, lebih bahagia. 

“Sesungguhnya yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di antara kalian di sisi Allah di dunia maupun di akhirat adalah yang paling bertakwa. Jika kalian ingin saling berbangga, saling berbanggalah dengan takwa (kalian).” (Ruhul Ma’ani, 19: 290)


Minggu, 11 Juni 2017

Bukber Jangan Dibikin Keder


Bagi orang yang melaksanakan puasa, ada dua kebahagiaan ; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan bertemu dengan Rabbnya ( Muttafaq’alaihi)
Entah ada istilah telat atau tidak tentang tulisan ini. Yang jelas, tulisan ini baru diketik setelah peringatan nuzulul Quran, meski ide sudah jauh-jauh hari (intinya males hahahaa).

Yaa....tidak dipungkiri bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang spesial, mulai dari nilai-nilai spiritual,hingga fun activities yang menggelayut. Bulan puasa merupakan bulan yang identik dengan momen-momen kasih sayang dan kebersamaan yang dipioneri oleh iklan menyentuh hati di tivi sampai dengan acara reuni yang diramu dalam buka bersama.

Entah siapa yang mencetuskan acara buka bersama ini, nampaknya agenda menjadi agenda wajib, mulai dari rekan kerja hingga teman-teman sekolah dahulu kala. Bagi mereka yang eksis, pastilah sudah menjadwal, menandai kalender, kapan dengan siapa dan dimana. Saat-saat seperti inilah, biasanya momen saling melupakan kesalahan dan mempererat silaturrahim.

Selain urusan waktu, yang jadi perbincangan acara ifthar jama’i biasanya adalah tempat. Maklumlah ya, agenda yang diisi dengan makan-makan sedikit merepotkan terutama di akhir, entah urusan cuci mencuci atau sekedar berhadapan dengan mbak-mbak bagian administrasi. Mau di rumah sendiri atau rumah makan memang ada preferensi dan pertimbangan masing-masing. Semuanya mempunyai fanbase, punya plus dan minus juga. Bagi mereka yang menyukai berbuka di rumah mungkin punya beberapa alasan, seperti:

a. Lebih irit. Hahahaaa.....tetep ya urusan dompet jadi pertimbangan.

b. Lebih bebas dan santai. Ini biasanya jadi pertimbangan emak-emak yang punya krucil. Pilih yang homey, yang kira-kira nggak suruh ganti kalau merusakkan barang, wkwkwkkwk. Mau berlama-lama juga fine-fine aja. Apalagi dengan durasi maghrib yang cepat, kita bisa atur waktu, santap ta’jil, di sela sholat, baru deh santap berat. Kalau mau kayak begitu di resto kayaknya susah deh.

c. Nggak antri. Ya iyalah.....kalau di resto apalagi menjelang maghrib itu cuacana dah hectic, crowded. Belum tentu ucil-ucil bisa dikondisikan juga.

Akan tetapi, berbuka di rumah memang perlu tenaga ekstra, ya iyalah, selain memasak, acara ini juga dirangkai dengan mencuci piring sebagai endingnya. Kalau mau lebih praktis, tapi tetap santai, mungkin pesan nasi box bisa jadi pilihan, karena “hanya” menyisakan sampah.

Bagi teman-teman yang bermodal, punya kesibukan yang tak bisa ditawar, mungkin lebih memilih menyantap di luar, di rumah makan maksudnya. Apalagi alasannya selain praktis. Nggak capek capek masak dan mencuci perabot.

Dimanapun itu, apapun makanannya ( jiahhh...kayak iklan), yang penting niatnya ya. Jangan sampai agenda agung ini justru merepotkan yang mengurangi keikhlasan. Jangan pula acara yang berpotensi hingar bingar ini justru membuat kita lalai. Sudah tahu kan kalau di waktu menjelang berbuka adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.
“Sesungguhnya doa orang yang berpuasa ketika berdoa tidaklah tertolak ( Ibnu Majah)
Happy fasting everyone....

Kamis, 04 Mei 2017

Antara Karangan Bunga dan Karangan Cerita


Orang-orang optimis melihat bunga mawar, bukan durinya. Orang orang pesimis terpaku pada duri dan melupakan mawarnya—Khalil Gibran
jadi inget lagunya siapa ya...???
Ini bukanlah tentang tiga anak kecil yang malu-malu berjalan sebagaimana yang sudah disuratkan oleh Taufik Ismail, pun ini bukanlah pesta valentine apalagi festival musim semi dimana bisa menyaksikan sakura atau gugusan tulip yang merekah. Ini adalah tentang karangan bunga yang tiba-tiba membanjiri balai kota DKI beberapa waktu setelah cagub petahana, Ahok dinyatakan kalah dari pesaingnya. Hahaha....pilkada Jakarta memang unik dan berisik hingga publik seIndonesia Raya ikut panik. Kalau saya mah golput.....wong ktp saya Bekasi, xiixixxiiii.

Beragam ucapan tertulis di karangan bunga tersebut yang pada intinya sama, ucapan terima kasih dan rasa cinta dari para fans-nya, prikitiew....meskipun belakangan, muncullah karangan bunga yang bernuansa politis, beuh,....baunya mulai nggak sedap ini. Layaknya bunga sedap malam yang tak pernah berjumpa dengan malam.

Seperti biasa, akan ada suara sumbang dan merdu dari sebuah fenomena (halah, berat mbakbro bahasanya). Bagi fans berat, ini mungkin suatu hal yang membanggakan, wow ternyata banyak juga yaa (terlepas dari kebenaran isu tentang rekayasa ). Bagi pengacau, the nyinyiers, kaum grassroot pasti akan menganggap bahwa karangan bunga itu adalah hal-hal yang sia-sia, mengotori balai kota, hahaa. Bagi kaum yang cerdas dan berpikir, tentu tak akan ambil pusing, itung-itung rejeki tukang bunga,  toh banyaknya karangan bunga tak akan mempengaruhi hasil penghitungan suara atau pemakzulan gubernur terpilih. Eit, dan satu lagi, bagi kaum alay, pasti mereka girang karena menemukan spot baru untuk selfi, mana gratis lagi haahaaa.....

Anyway, pesta sudah usai, ini bukanlah akhir tapi justru awal dari sebuah perjuangan setelah pilkada yang berlangsung cukup aman, tak ada kerusuhan yang wow seperti reformasi beberapa tahun lalu. Tak ada doa yang lain selain menjadi lebih baik. Lebih baik untuk semuanya. Tak usah lihat sisi gelap dari karangan bunga yang tak mencela apapun,  suka ya di-like, nggak ya abaikan (emang medsos???). Buat pak Anies, saya yakin he is a wiseman, lebih tahu bagaimana dalam bersikap. Adem sajalah yaa...Bukankah dibalik karangan bunga itu ada rejeki tukang bunga dan pasukan orange.

Semoga hasil pilkada adalah kebenaran dari ungkapan “vox populi vox Dei”, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kalau Cuma sekadar karangan bunga mah, nggak jadi masalah, yang lebih masalah itu adalah karangan cerita fiktif di meja hijau, hahahahaa......Haayuuu ah move On dong.....


Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...