Selasa, 10 November 2015

cinta berjuta rasa



Dari mana datangnya lintah
Dari hulu sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati
Cie....cie....ada yang masih hafalkah dengan pantun legendaris di atas? Biasanya dipakai untuk menggombal kepada sang pujaan. Tapiii....wait.....benarkah perjalanan cinta seperti itu? Terus,...kenapa kita deg-degan? Kenapa orang bisa mabuk kepayang? Kenapa orang bisa berbunga-bunga walau hanya sekedar duduk beradu punggung, tanpa ada kontak mata??? Hehe.....disini saya akan mencerahkan dengan penjelasan yang scientific....
1. Reaksi Hipotalamus
Apa sih hipotalamus itu? Hipotalamus merupakan struktur otak yang bertugas memastikan kstabilan psikologis. Naahh...ketika kita mulai jatuh cinta, hipotalamus tersebut akan mengeluarkan dopamin ke dalam tubuh. Karena dopamin inilah, kita merasa gembira seperti orang yang memakai narkoba( ngeri amat perumpamaannya).
2. Menurunnya Kadar Serotonin
Apa itu serotonin?
Serotonin inilah yang bertanggung jawab terhadap suasana hati dan selera makan manusia. Ketika kadar dopamin meningkat, kadar serotonin justru menurun. Rendahnya kadar serotonin ini seperti orang yang mengalami obsesif-kompulsif. Karena itulah, kita bisa merasa terobsesi dan tergila-gila pada seseorang.
3. Picuan NGF
Nerve growth factor (NGF) adalah zat yang dihasilkan oleh peningkatan dopamin. NGF ini biasanya terdapat pada orang yang baru jatuh cinta. Kadar NGF ini berhubungan dengan intensitas perasaan romantis. Oleh karena itu, pada orang yang tidak sedang jatuh cinta, kadar NGFnya tentu sedikit.
4. Oksitosin dan Vasopressin
Kedua hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon tersebut bertanggungjawab atas perasaan setia dan sangat terikat pada pasangan. Kedua hormon itu disimpan di kelenjar pitutiari yang kemudian di keluarkan oleh tubuh. Ketika sedang bergairah, seperti pada kejadian orgasme, hormon ini memasuki aliran darah.
So,.....begitulah liku-liku orang yang jatuh cinta dari sudut pandang ilmiah, jiahhhh....Maka dari itulah, setiap orang yang jatuh cinta merasakan hal yang sama; rasa setia, rasa ingin selalu bersama, rasa ingin melindungi, tergila-gila, begitu deh yaa...meski bertepuk sebelah tangan jugaaa :/

Minggu, 01 November 2015

inuyasha @modern world#2



Inuyasha in the modern world #2
Malam yang berisik. Terdengar suara kereta api dan suara Sota yang riuh menonton acara komedi. Aku baru saja menikmati makan malamku bersama keluarga yang selama ini aku rindukan. Aahh.....lelah sekali....dimana Inuyasha? Aku buka jendela kamar, kulihat sedang asyik bermain dengan Buyo di luar. Hhh.....anjing bisa juga bersahabat dengan kucing.
Aku rebahkan badanku di kasur yang selama ini aku tinggalkan. Empukknyaa...di era feodal  aku jelas tidak pernah merasakannya. Tidak peduli, apa yang Inuyasha lakukan di luar sana, kucoba bersenang-senang sendiri. Entahlah....akhir-akhir ini aku mudah lelah dan pusing, jadi memutuskan untuk di kamar...daripada mengikuti Inuyasha yang kadang-kadang menguras tenaga. Memang sih...ini belum terlalu larut, tapi....mataku mulai terpejam.
“ Kagome...!, apa kau tidak mau sarapan dengan kami?”  Terdengar teriakan ibu. Aku segera beringsut dari tempat tidur. Kusibakkan selimut, tapi.....tunggu dulu. Di mana Inuyasha? Jahat sekali dia. Oahemmm......aku beranjak dari tempat tidur, kulihat jam weker di samping ranjang, 07.00.
Kubuka jendela kamar sambil meregangkan tubuhku. “ Iya mama. Tunggu sebentar.”
Aku turun, menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur. Lantas kucuci muka dan duduk. Kulihat Sota dan kakek sudah menunggu.
“ Kakak, kau terlihat pucat. Apa kau sakit?”
“ ahh...tidak, aku mungkin hanya kelelahan. Oh, ya mama, apa kau tahu dimana Inuyasha?”
“ Oh ya, hampir lupa, Inuyasha pergi bekerja. Tapi tadi pagi sudah ibu buatkan onigiri untuknya.”
“ bekerja??? Dia tidak bilang apa-apa.”
“ oh....semalam, ada polisi datang, setelah melihat aksinya di mall kemarin. Mereka mengajak Inuyasha kerjasama. Yah....itung-itung untuk bayar denda dengan eskalator yang ia rusakkan kemarin”
“ ohh.....”
“ Kagome, hari ini kakek akan medical check up. Bisa mengantarku?”
“ tentu saja.”
“ ibu juga ingin mengantar. Sebaiknya kita pergi bersama-sama. Sekalian memriksakan kesehatanmu Kagome. “
“ Iyaaa...” nyengir. Tak lama kemudian Sota pamitan berangkat sekolah.
                ***
Aku mandi dan bersiap-siap ke klinik. Yaa...setelah sekian lama. Hhh....hh...Inuyasha. apa yang kau lakukan dengan mereka? Semoga tidak memuat kerusakan lagi. Dia memang kuat, tapi overstrong untuk manusia biasa. Ahhh...asal jangan sampai orang-orang tahu kalau kau setengah siluman, bisa panjang urusannya.
Kami bertiga pergi ke klinik, menggunakan densha. Tentu saja, hal ini tak pernah kujumpai setelah sekian lama. Biasanya aku hanya naik punggung Inuyasha kalau kemana-mana.
“ Tuan Higurashi.” Ohh...kakek dipanggil. Beliau menuju ke tempat dokter yang memang sudah jadi langganan.
“ Kagome, kamu pucat. Sebaiknya periksa juga ya. Tadi sudah ibu daftarkan.”
“ Eh...apa...eh iya.” Akupun menunggu untuk dipanggil. Tentu saja dokter yang berbeda dengan kakek. Pas aku lihat....gelar dokternya, SP.oG.
“ Mama, siapa yang akan memeriksaku.”
“aahhh...Kagome, tentu saja dokter yang dekat dengan pengantin baru, dokter kandungan”, jawabnya sambil tersenyum tipis. “ Jangan lupa kau katakan yang kamu rasakan dan sekalian kamu bilang kalau kamu pengantin baru.”
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya aku di panggil juga.
“ Ayoo Kagome,.....semangat.”  Huuhh.....mama, perhatian sekali. Memang sih, akhir-akhir ini aku memang merasa agak berbeda. Sedikit mudah lelah dan peka terhadap bau-bauan. Pernah aku menyuruh Inuyasha untuk membakar ikannya sendiri karena aku mual mencium bau ikan tersebut.
Akupun memasuki bilik tempat dokter itu praktek. Aku sampaikan segala apa yang kurasakan sesuai kata kata mama. Diapun mengukur tensi, suhu tubuh dann....dia juga bilang aku harus tes urine. Hanya perlu beberapa menit katanya, sampai ia bilang...
“ selamat nona Kagome. Jaga baik-baik yaa.....sampai sembilan bulan ke depan. Selamat menjadi calon ibu.” Aku kaget....apa ini maksudnya....aku....aku hamil. Aku hamil dengan seorang setengah siluman???? Aku keluar dari bilik, sambil tersipu sipu. Kulihat kakek dan mama menunggu.
“ bagaimana hasilnya Kagome??????” sepertinya mereka tidak sabar.
“ Ehh....tidak apa-apa mama....aku baik-baik saja, hanya.....ehmmm.....selamat mama menjadi calon nenek....” jawabku tersenyum. Kulihat senyum mama dan kakek tersungging....
“ Yucata.....jaga baik-baik calon buyutku ini Kagome,” kata kakek
                ***
Kamipun berjalan keluar dari klinik. Mama memberi beberapa petuah, dan seperti biasa, kakek berbicara tentang jimat-jimat penyelamatnya.... ah....tak sabar aku ingin sampaikan ini ke Inuyasha dan teman-teman di era feodal.
                ***
Setelah makan malam, seperti biasa aku di kamar, menunggu Inuyasha pulang. Dan....tadaimaaa
“Aku pulang...”
“ Ahhhh Inuyasha, kau pulang juga akhirnya. Bagaimana dengan kerjamu hari ini? Menyenangkan bukan?”
“ aahhh....duniamu cukup berbahaya juga ya Kagome. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan seharian ini?”
“ Aku ke klinik mengantar kakek. Tapi....aku juga ikut periksa juga.”
“ oh...yaa...”
“ hemmmmehmm...”
“ apa katanya........”
“ Inuyasha............selamat, kamu akan menjadi ayah........”  Inuyasha, terbengong.
“ benarkah?” dia mendekat memegang perutku. Aku tunjukkan padanya hasil tes..
Dia mulai bingung.
“ Kagome....gomen nasai....apa ini maksudnya?”  Oh my godness, aku lupa, dia kan tidak bisa membaca...
“ INUYASHAAA....surat itu menunjukkan kalau aku hamil...kau lihat kan, tanda ini....?” ucapku sedikit gerammm...
To be continued......................

Jumat, 30 Oktober 2015

senja di singapura



Langit di Geylang Serai tidak begitu cerah. Kulihan indeks polusi udara masih batas toleransi. Tapi agaknya kabut ini mengangguku. Negara tetangga itu memang, huh.....hanya gedhe wilayahnya saja, tapi menuntaskan masalahnya lama sekali. Heran....bukankah banyak orang pintar di sana seperti Habibie sang creator pesawat, Ricky Elson dengan mobil listriknya, apalagi dia sudah banyak mengantongi paten dari negara tempat kuliahnya dulu. Apa-apaan ini. Kalau tidak bisa mengelola negeri karena terlalu luas, kenapa tak kau jual saja negeri yang indah itu ke sini. Sudah pastilah, mungkin oleh Lie Shien Long, negara tetangga itu akan diubah macam Sentosa Island.
Aku mempercepat langkahku, mengejar MRT. Ada banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku harus menyelesaikan beberapa tugas makalah dari kampus tempat dimana aku menimba ilmu. National University of Singapore. Keren kan???? Disana aku juga temukan beberapa mahasiswa dari negara tetangga “ perintis” kabut asap. Tapi sepertinya dia cuek. Apa katanya???
“ yang penting keluargaku baik-baik saja. Aku kan tinggal di ibukota...jauh dong dari asap.” Egois sekali yaa....mungkin karena negara tetangga itu terlalu luas....semakin jauh, semakin pudar.
Ahhh....MRT ini sungguh nyaman. Bersih, harum, tidak berdesak-desakan. Tak apalah aku tak punya motor atau bahkan mobil sendiri. Yaa...jujur saja...I can’t afford them. They are expensive. Tapi syukurlah....kami difasilitasi dengan angkutan umum yang memadai. Ada bagusnya juga...dengan meminimalisir kendaraan bermotor, potensi untuk polusi udarapun berkurang. Angkutan ini juga cepat dan tepat waktu. Saya hampir tidak pernah terlambat menuju kampus atau kemanapun.
Selamat datang di flat. Tidak terlalu luas tapi bersih. Mahal sekali kalau harus memiliki rumah. Ayah saya yang pemilik kedai teh Tarik dan ibu yang punya usaha roti canai, sepertinya mustahil. Karena itu jugalah, saya harus ambil part-time job. Selepas kuliah saya biasanya ke resto cepat saji di Suntec. Tak banyak yang kuperoleh memang, tapi itu cukup membantu.
“ Ahmad, kapan kau selesai kuliah?” tanya Ibu.
“ mungkin setahun lagi Bu. Proposal untuk thesis masih menunggu persetujuan.”
“ Ahmad, bisa kau bantu ayamu inilah heii....alat pembuat teh tarik ini cukup merepotkan.”
Akupun bergegas menuju ayah. Yaa...biasanya jam pulang kami tidak jauh berbeda. Selepas Isya. Ibu lantas menghangatkan makanan untuk kami.
“ Ahmad, Ibu berencana pulang sebentar ke Palembang. Tengok saudara di sana. Dah lama sekali rasanya tak kesana. “
Kulihat ayahku hanya melongo. Yaa...saya yang peranakan Melayu Indonesia dengan ayah seorang Singaporean. Tapi untungnya ayah demokratis.
“ Ahhh ibu, tapi...”
“ Ahmad, paman bibimu kan juga rindu sama kamu. Ayah sepertinya juga tidak keberatan.”
“ Tapi ibu...di Palembang masih tertutup dengan kabut asap. Lihat..di Singapore saja sebagian memakai masker karena kadang polusi di atas toleransilah.”
“ Ohhh...begitu ya...”
“ Siti, sebaiknya kau telponlah saudara di Palembang. “
“ Tepat sekali ayah. Kalau perlu, kerabat di sana suruh pindah ke sini saja.”
“????? Ahmad ....ada ada saja kau ini. Mana maulah mereka, meski disana kotor atau penuh polusi, belum tentu betah di sini. Lagipula flat ini tidak cukup luas untuk menampung mereka.”
“ Huft....sudahlah. obrolan ini kita lanjut akhir pekan saja. Sudah malam, sebaiknya istirahat. Jangan lupa kau sholat Ahmad.”
Saya mengangguk. Pesan itu memang yang selalu diucapkan ole ibu supaya agama ini tetap tegak. Memang, kata ibu, disini cukup banyak godaan dibanding negara tempat asalnya. Di sana bisa dengarkan adzan dari kejauhan, tapi tidak di sini. Di sini adzan di perdengarkan hanya di dalam masjid, bukan di luar. Yaaa....alarmnya ya my phone cell. Iri juga sebenarnya....tapi yaa...sudahlah. bukankah tantangan itu yang bikin kita lebih kuat dan tegar. Tidak seperti tetangga sebelah ; berpuasa pakai nyuruh rumah makan tutup atau apalah. Lhaaa....dimana tantangannya???
                ***
Langit yang gemerlap. Diluar sana masih ada yang tertawa, berlari, ataupun bergandengan tangan menikmati suasana malam. Kampung halaman ibuku...apa kabarnya, kakek, paman, bibi??? Ingatan yang melayang, ketika menatap indahnya sungai musi di atas jembatan ampera palembang, pempek dan tempoyak yang menggoyang lidah. Tapi kini...pulau penghasil oksigen menyegarkan malah menyesakkan dada.

Selasa, 27 Oktober 2015

inuyasha in the modern world #1



Inuyasha in modern world
“ Aaahhh, segar sekali,” ucap kagome. Sudah hampir empat bulan aku tidak mengunjungi ibu, kakek dan Sota. Hemmm....apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka merindukanku? Aku ingin pulang sebentar, gumam Kagome.
“ Woiii Kagome, lihat apa yang aku bawa,” seru Inuyasha sambil menunjukkan sesuatu.
“ Ah...Inuyasha, apa yang sudah kau lakukan di pagi buta heh?”
Inuyasha berjalan mendekat dan menunjukkan bungkusannya ke Kagome. “ Haaa...ini dia, pasti kamu suka.”
“ Hoekk...uhukk uhukk,” Kagome tiba-tiba mual dan muntah. Diapun beranjak menjauh. Inuyasha mengernyitkan dahi. “ ada apa Kagome? Apa kau sakit?” tanya Inuyasha dengan wajah polosnya.
“ Inuyasha, jauhkan ikan-ikan itu dariku.”
“????...bukankah kamu menyukainya?”
“ Tidak untuk saat ini.”
“ Kagome...apa kau baik-baik saja?”
“ Aku bilang jauhkan!!!”
                ***
Siang yang cerah. Sengatan matahari menerpa dedaunan meneduhkan suasana. Kagome dan Inuyasha bersantai di dahan pohon.
“ Anuu..Inuyasha....aku mau mengatakan sesuatu.”
“ Katakan saja Kagome.”
“ Sudah lama aku tidak bertemu keluargaku. Aku ingin mengunjunginya.”
“ Hemmm...baiklah....tapi...”
“ ???? tapi apa?”
“ Kau mengajakku kan?”
“Tentu saja Inuyasha asalkan kau tidak membuat keributan.”
Tidak banyak yang merka siapkan. Kagome segera naik punggung Inuyasha pergi ke sumur pemakan siluman. Tentu saja....setelah keduanya berpamitan dengan Kaede, Rin, Miroku dan Sango.
***
“ Kagome....bagaimana kalau kita jala-jalan?”
“ Jalan-jalan? Hemmm  .....ide yang bagus, tapi...( mungkin seru kalau Inuyasha melepas kimononya dan memakai pakaian modern, menyegarkan suasana dan pandangan)*Kagome tersenyum kecut*
Baiklah Inuyasha, karena bajumu kotor, sebaiknya kau pakai ini, baju Sota,” seru Kagome sambil menunjukkan celana jeans dan t-shirt. Tapi....muka Inuyasha malah dingin.
“ Aapa maksudmu Kagome?”
“ Inuyasha, apa kau tidak ingin membahagiakan istrimu???”
                ***
Mereka berdua melangkah bersama dengan pemandangan yang sedikit berbeda. Kagome tidak berbeda ketika memakai baju modern tapi bagaimana dengan Inuyasha? Dia menanggalkan kimononya diganti dengan jeans, t-shirt dilengkapi dengan topi untuk menutupi telinga silumannya. Namun begitu, dia tetap meneteng tessaiganya. Sementara itu, Kagome....berusaha cuek dengan sebagian orang yang menatap Inuyasha.
“ Waahhh....Yakuza yang keren..”
“ Waahh...lihat, dia juga membawa pedang. Mungkin akan ikut cosplay.”
Begitulah.....ada sebagian yang memperhatikan adapula yang masa bodoh.
Sampailah mereka ke sebuah mall. Seperti biasa, Inuyasha bertingkah seperti orang ketinggalan zaman yang membuat Kagome menahan malu.
“ Inuyasha...!!! berhentilah terheran-heran seperti itu.” Kagome menggeret tangan Inuyasha.
Tak lama kemudian....
“ Aduhhh...tolong..” Terdengar ramai, ada sesorang menjerit minta tolong. Kagome dan Inuyasha mencari sumber suara. Kagome melihat ada kaki anak kecil terselip eskalator.
“ Inuyasha...lihat kaki anak itu.” Inuyasha dengan sigapnya segera melepas tessaiganya.
“ Kaze no Kizu( luka angin)”....belum sempat Kagome menahannya, Inuyasha sudah menebaskan ke arah eskalator. Semua orang kaget, ada yang terpana, say thanks, ada pula yang sedikit nyinyir. Kerusakan yang lumayan parah.
“ lihat Kagome. Anak itu selamat kan?”
Kagome tertunduk...sepertinya mau marah
“ Anak ITU memang SELAMAT Inuyasha, tapi KAU merusak semuanya. Padahal ada tombol otomatis untuk menghentikannya. Lihat!!! Berapa kerugian yang harus kau bayar.. INUYASHA BAKKKAAAA ( Bodohh)
END

Senin, 26 Oktober 2015

fanfiction# inuyasha




Rin met  Shessomaru
Terlihat Inuyasha mencium sesuatu. “ Ada apa Inuyasha?” tanya Kagome. “ Sepertinya ada Shessomaru,” jawab Inuyasha sambil menolehkan pandangannya keluar. Yaa...memang Shessomaru sibuk berkelana untuk mengekspansi wilayahnya, Lord Shessomaru ditemani di kerdil Jaken. Meski begitu, dia tetap ingat gadis kecilnya, Rin yang kini dia tinggalkan bersama nenek Kaede.
“ Lumayan lama kita tidak berjumpa dengan Shessomaru. Apa kau tidak kangen dengan kakakmu Inuyasha. Tidak mungkin dia mampir kemari. Apa tidak sebaiknya kita berkunjung ke nenek Keade?”, ajak Kagome. “ Woi, kangen katamu? Apa aku tidak salah dengar? Masih banyak hal yang harus aku lakukan dan pikirkan daripada hanya sekedar kangen sama dia?” selorohnya dengan masam sambil merebahkan diri ke lantai. Mungkin kecapekan. Kagome berjalan ke arah dapur. Entah apa yang akan dilakukan oleh calon ibu muda itu, sang suami pun hanya cuek.
Kagome keluar dari dapur sambil membawa beberapa box makanan. , sambil berteriak “ Inuyasha, apa kau tidak kasihan dengan istrimu ini?”
“ apa yang akan kau lakukan dengan kotak itu heiii Kagome?”
“ ahhh...Inuyasha....ini kesempatan langka. Mengapa kita tidak mencoba untuk mempererat persaudaraanmu dengan Shessomaru? Dia kan satu-satunya saudara yang kamu punya.” Jawab Kagome datar.
“ Haahhhh Kagome, bicaramu seperti pertapa bijak saja.”
“ Jadi kamu ingin tetap disini? Baiklah....tapi mungkin aku tidak akan kemari lagi. Pulang ke zamanku saja.”
“ Aaaapaa....kau ini....” Dia pun tergopoh-gopoh menyusul Kagome.
                ***
“Kami datang”.....oh...sambutan yang masam dari kakak ipar, pikir Kagome.  Gadis yang beranjak dewasa itu segera menyadari raut muka tuannya yang tak enak itu, berlari kecil mendekati Kagome. “ Ahhh...Kagome-sama, selamat datang. Ngomong-ngomong, apa yang ada di kotak itu?”
“ Ahhh Rin-chan, aku bawakan makanan.”
“ Waa...enaknya.... “. Merekapun menyiapkan makanan untuk makan malam
Dingin sekali kedua kakak beradik itu, pikir Kagome. “ Woii Shessomaru”, panggil Inuyasha. Shesshomaru beranjak keluar, menikmati udara malam sambil menatap bulan purnama.
“ Kagome-sama, sudah mulai matang. Aku siapkan alat makan,” ujar Rin-chan
Mereka beranjak ke tempat makan. Tatami dan meja sudah disiapkan oleh Nenek Kaede. Aroma makanan menyeruak dari dapur. Sementara, kedua kakak beradik masih beku. Dimana si kerdil Jaken? Oh....dia berada di halaman, bertingkah seperti pengawas....padahal apa yang dilakukannya tidak ada nilainya sama sekali di mata tuannya itu.
“ Semuanya mari makan.” Teriak Rin-chan. Nenek Kaede dan Kagome sudah menunggu. Inuyasha beranjak masuk tapi Shesshomaru masih di luar.
Tanpa disuruh, Rin-chan berlari kecil keluar, mengajak Shessomaru untuk makan bersama.
“ Shessomaru-sama kita masuk saja...semua menunggu,” tanpa disadari tangan Rin-chan menggapai tangan Shessomaru. Hangat sekali, pikir Rin. Rin masih merasa dirinya seperti anak kecil, dengan santai dia berbalik sementara tangan Shessomaru masih di genggaman.
“ Rin. Tunggu.”
“ Shesshomaru-sama....”. Muka kedua  makhluk yang berbeda itu saling beradu. Shessomaru mendekatkan mukanya ke arah Rin.
“ Aku harus segera pergi. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Ini kimono untukmu.”
Sebuah kecupan mendarat di bibir Rin-chan. Mukanya merah. Sejenak ia merelakan tubuhnya merebah di dada Shesshomaru yang hangat. Perlahan mereka melepas pelukannya.
“ Terima kasih Shessomaru-sama. Aku pasti memakainya,” jawabnya sambil tersenyum.
“ Kau pasti kelihatan cantik Rin-chan. Sampai jumpa bulan depan.” Shessomaru mengusap pipi Rin, dan terbang menghilang ke awan....”
“Sayonaraaa”...lambai Rin. Diapun masuk sambil meneteng kimono barunya.
“ Ohhhh...kukira Shessomaru mengajakmu...” Inuyasha berseloroh
“ Inuyasha!!!!””””
“ Aah...Rin-chan..pasti kimono. Kelihatannya cantik,” seru Kagome
“ Ngomong-ngomong, kenapa mukamu merah seperti itu?” tanya Kaede
“Ahhh...Kaede...kenapa masih kau tanyakan itu. Rin kan sudah dewasa...jadi sudah.....”kata Inuyasha.
“ Inuyasha!!!!!...OSUWARI”

                END


Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...