1. Gadis Tiara Kantil
Dewi membaca selebaran tentang adanya pemilihan bintang untuk pelanggan setia shampo Kantil. Dengan modal rambut yang aduhai dan bakat terpendam, perempuan itu memutuskan untuk ikut ajang ini.
Dengan sedikit malu dan tegang, Dewi memberanikan diri naik ke panggung uji bakat. Terdapat beberapa juri di bagian depan dan sejumlah penonton.
"Cantik sekali kontestan ini. Siapa namamu? " Apa yang kamu tekuni?" Tanya salah satu juri.
"Saya Dewi om. Mm.... Saya bisa akting om. "
"Oh, ya silahkan. Mau akting apa? "
"Akting seperti Suzanna. "
Dewi pun tertawa dan mengangkat badannya, mendadak riasannya berbeda. Para juri dan penonton bubar tak beraturan. Mereka yakin bahwa itu bukan hanya akting tapi hantu betulan. Acara pemilihan gadis shampo pun berakhir, berhenti sampai batas yang tidak ditentukan.
2. Tugas Bahasa Inggris
Tugas dari guru bahasa Inggris cukup mudah. Beliau menugaskan kami untuk merekam suara ketika membaca sebuah teks. Cukup berbekal kamus untuk mengecek pengucapannya dan suasana yang sunyi agar hasilnya oke. Yah, namanya juga learning from home, nggak mungkin guruku menelpon murid satu demi satu untuk mengambil nilai pronunciation.
Ketika semua tengah tertidur, aku meraih ponsel dan memulai merekam. Prosesnya memang butuh kesabaran karena tak bisa dalam satu kali rekam. Ada saja yang membuat lidahku kepleset dalam mengucapkan kata.
"Aku kira ini cukup baik" Batinku. Kucoba untuk memutar ulang, memastikan bahwa rekamanku tak memalukan.
Sedetik, dua detik terlewatkan. Hingga di pertengahan, kudengar ada backsound pada rekaman. Iya, kudengar ada perempuan meratap sementara semua orang masih terlelap.
3. Mobil Bekas
"Syukurlah ya Pak. Kita nggak perlu lagi balapan tiket buat pulang kampung. Kan ada mobil sekarang." Kataku pada suami.
"Iya bu. Kita beruntung sekali, dapat mobil yang ramah di kantong. Jauh di bawah budget kita. "
Kamipun saling tersenyum dan menjajal mobil baru kami. Mobil bekas rasa baru, tepatnya.
" Pak, ini mobil sudah dicuci kan?"
"Iyalah Bu. Pokoknya dah oke semua. "
Mobil melaju perlahan keluar gerbang perumahan. Tak kuhiraukan aroma yang kadang muncul kadang hilang.
Kami begitu menikmati dengan bernyanyi bersama, meski tatapan suami selalu ke depan. Namun, mataku yang jelalatan menangkap sesuatu yang aneh di pandangan. Kulihat dari cermin depan ada penumpang asing berambut panjang duduk di belakang. Mobil pun mogok di pinggir jembatan.
"Pak, kita jual lagi saja mobil bekas ini, " Ujarku sambil menangis ketakutan.
4. Sesuatu yang Hilang
Seperti biasa, angkot yang kutumpangi hanya sampai gapura. Selebihnya, aku cukup berjalan kaki. Meski lokasi kerja harus ditempuh dengan kemacetan, aku tak boleh mengeluh. Sudah bersyukur aku tidak menganggur. Banyak orang yang lebih susah, seperti perempuan yang belakangan ini selalu kulihat mengais selokan pinggir gapura.
Entah malam keberapa, perempuan itu selalu di tempat yang sama. Kucoba kusapa dan bertanya.
"Mbak, mbak, sedang apa ya di sini? Sudah malam masih di sini saja. " Tanyaku dari belakang.
" Saya mencari sesuatu. " Jawabnya pelan.
" Nyari apa mbak, dari kemarin-kemarin di sini terus. Ada yang bisa saya bantu?"
Perempuan itu lantas membalikkan badannya.
"Saya mencari mata sebelah kiri saya mas, sepertinya terlempar ke sini saat kecelakaan minggu lalu. "
Tanpa kubalas, kusudahi percakapan dengan lari tunggang langgang sambil mengutuk tindakanku yang lancang.
5. Ojek Pangkalan
Beginilah nasib jadi opang, ojek pangkalan. Cuma bisa mangkal, mendapatkan penumpang yang kebetulan lewat saja. Seringkali aku nongkrong sampai larut, bahkan sendirian karena opang yang lain mungkin sudah tak tahan dinginnya malam.
" Mang Budi, bisa tolong antarkan aku pulang Mang. " Terdengar suara perempuan memecah keheningan malam.
"Eh, Ceu Titin. Ayok. Sekalian aku pulang." Ya, dia memang satu kampung, jadi sedikit paham.
"Ceu, habis dari mana? Belakangan nggak kelihatan? "
" Uhuk, ini mang, beberapa hari ini agak kurang sehat. Ini baru dari dokter. "Jawab dia dengan halus.
" Malam-malam begini? "
" Ah, nggak terlalu malam mang, ini masih jam sepuluh. Tadi memang dokternya antri, praktek malam. Nunggu angkot juga lama. "
" Oh, gitu."
Setiba di rumahnya, aku segera tancap gas. Sengaja kutolak pembayaran karena tak ingin menyusahkan orang sakit. Wajahnya mengisyaratkan begitu.
Sesampainya di rumah, aku mandi dan pergi ke alam mimpi hingga pagi.
"Pak, Bapak, bangun."
"Hemm....ada apa bu. "
"Aku mau layat ke ceu Titin, meninggal semalam di rumah sakit. Sekarang jenazah sudah di rumah."
Aku meloncat, mengusap mataku. Jadi yang semalam kubonceng siapa???
6. Cinta Mbak Wiwi
Belakangan ini hubungan Wiwi dan pacarnya kurang begitu baik. Slamet terlihat pasif dan lebih sering menatap gadgetnya. Wiwi curi-curi pandang, mencari tahu apa yang sedang asyik dilakukan oleh pacarnya itu. Wiwi sudah kesal sampai ubun-ubun karena dicueki.
" Ya Tuhan, apa-apaan kamu mas? Diajak ngomong malah liatin hape, gambar apa ini, Nicki Minaj, Dolly Parton, Pamela Anderson, oalah, kurang opo aku iki? " Teriak Wiwi.
" Ma-maaf Wi. Aku cuma lihat-lihat." Jawab Slamet dengan terbata-bata.
" Maaf, maaf!. Oh, kamu pengen cewek seperti itu? Aku juga bisa, tanpa operasi malah. " Teriak Wiwi dengan mata menyala. Seketika itu, Wiwi bak slogan Ksatria Baja Hitam, "berubah".
" Jadi kamu mau aku seperti ini, hah? " Bentak Wiwi.
"K-Kamuu..... Beb... Bukan Wiwi.? "
"Aku Wiwi, nama lengkapku Wiwi Gombel. " Dunia Slamet pun gelap seketika.
7. Krupuk Kulit
Meski hanya pembuat krupuk kulit, aku sangat memperhatikan anak semata wayangku, Ranti. Kini Ranti sudah dewasa, akupun harus ekstra hati-hati, jangan sampai salah jalan.
"Ranti, kamu yakin sama si Sarmo itu? "
"Emang kenapa si Pak? Dia kan baik. "
"Emang nggak ada yang lain Ran? Udah penampilannya udik, panuan lagi. Kamu nggak cocok sama dia. " Ranti melengos ke kamar. Aku harus sabar, pelan-pelan kasih tahu dia. Aku nggak ingin Ranti bertengkar melulu denganku.
Di malam selanjutnya, aku merayu Ranti agar dia paham. Tentu saja, seperti para pejabat, diplomasi meja makan.
"Ayo makan Ranti, Bapak masakkan spesial buat kamu. Jangan lupa krupuk kulitnya. "
Ranti terlihat biasa saja ketika menikmati hidangan.
"Lho Pak, krupuk kulitnya kok beda, tebel begini? Mana ada totol-totol putihnya. "
" Masa? Mungkin ketempelan sagu pas goreng tadi. " Jawabku datar.
Kini aku senang. Ranti sudah tak berpacaran dengan Sarmo lagi. Katanya dia menghilang tanpa pesan.
nulis iku piranti tilas. Menulis itu meninggalkan jejak. Membaca dan menyebarkan ilmu itu mulia tapi jika sengaja melanggar hak cipta itu dilarang agama.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Juni 2020
Minggu, 05 April 2020
Creepy kripik (2)
1. Jemuran
"Dasar nenek-nenek, dia pasti lupa mengangkat jemuran yang dicuci tadi pagi," gerutuku pada tetangga samping rumah. Segera kubuka pintu mengingat malam makin larut, udara sedang dingin-dinginnya. Ditambah ada gonggongan anjing tetangga seberang rumah.
Setelah membersihkan diri, aku rebahan di kamar. Hufttt...capek sekali setelah tour seharian.
Pagi-pagi, kulihat mbah Darmi sudah menyapu terasnya.
"mbah-mbah Darmi, lupa mengangkat jemuran mukena semalam ya?" tanyaku basa-basi.
"lha yo sudah kuangkat sejak sore lah Santi. Pamali ada jemuran malam-malam di luar."
Aku hanya nyengir. Lalu penampakan putih semalam di depan rumah apaan, kalau bukan jemuran mukena?
2. Nyari Kutu
Di suatu sore selepas adzan ashar, aku dan Dewi teman kostku sedang asyik leyeh-leyeh.
"Sarni, tolong cariin kutu dong. Kok kepalaku gatel yah. Dipakein shampoo nggak mempan nih. " Kata Dewi.
"Idih jorok." Sambil bermalas-malasan, kupijat kepalanya mulai berburu kutu yang bersembunyi di mahkotanya.
Satu, dua, tiga kutu beserta telurnya berhasil kutumpas. Asyik juga momen mencari kutu apalagi ditemani kue, es teh dan sedikit ghibah.
"Wow, aku nemuin raja kutu nih. Item gede banget Wi. "
"Masa? Coba Sar tangkap! "
Buletan hitam pun kusentuh, mencoba untuk kucabut. Aarghhh.... Ini kutu atau apa si. Sekali lagi kucoba tangkap.
Betapa kagetnya diriku, begitu kutarik, yang di tangan bukan kutu tapi paku. Sejurus kemudian Dewi malah tertawa-tawa, tapi tidak didepanku. Ya, ia tertawa sambil terbang melayang menuju awan.
3. Koran
Setelah peraturan yang tak boleh dagang di area stasiun, mau tak mau, aku harus cari lahan lagi. Syukurlah, aku mendapatkan lahan sempit untuk berjualan meski agak jauh dari stasiun. Sepi tak apalah, yang penting usaha, rejeki kan sudah ada yang ngatur.
"Pak, baksonya dua bungkus ya pak. "
" Ooh, baik pak. Silahkan duduk dulu. "
Bapak itu duduk sambil membaca koran di bawah lampu yang temaram, tak begitu terang. Kupikir orang ini habis perjalanan jauh, hummm..., baunya tak begitu sedap, kutanya pun tak menjawab.
"Ini pak baksonya, semuanya jadi tiga puluh ribu. " Kataku sambil menyerahkan bungkusan. Dia pun berlalu tapi dia meninggalkan korannya.
Kuraih koran dan kubaca. Koran itu lusuh dengan headline kecelakaan kereta. Ya, koran edisi Oktober 1987.
4. Boneka
Roda itu berputar. Paklikku,Sutrimo, yang dulunya hanya asongan, kini punya toko besar dengan cabang di berbagai kota. Saya sendiri baru lulus SMA yang berlibur di rumahnya. Ya ngapain kek, bersih-bersih rumah, masak, atau bantu momong anaknya yang kecil.
" Mbak, mbak Rizky, Selly punya mainan baru lho, nemu di kamar ayah. ", ujar Selly, anak paklik yang kecil.
" Apa itu Selly? "
" Boneka. Agak serem tapi aku nggak takut kok? "
"Boleh mbak lihat? "
Hmmm.... Serem? Apa seperti Annabelle kah?, tanyaku dalam hati. Si kecil Selly lantas ke kamarnya.
"Ini mbak. Aku namain boneka jenggot karena ada jenggotnya. "
Aku menatap aneh pada boneka seukuran barbie itu. Nduk Selly, itu bukan jenggot, tapi jenglot, batinku.
5. Wowo Murung
Tak seperti biasanya, akhir-akhir ini, Wowo anakku yang montok itu murung. Padahal sebelumnya, ia selalu riang gembira. Tentu saja, aku takkan membiarkan ini berlarut-larut.
"Kamu kenapa Wo?"
"Nggak ada yang mau bermain denganku. "
"Emang kenapa? "
"Katanya aku tidak sekelas dengan mereka. Aku hitam, jelek dan bau. "
"Memang kamu main sama siapa? "
"Mira, anaknya Haji Rosid. Dia selalu ketakutan, dibilangnya aku bau singkong bakar. "
"Wowooo.... Jelas saja dia takut. Kamu memang berbeda, karena kamu itu bangsa Gendruwo, Wo... Wowo...! " Teriakku sambil melempar singkong.
6. Pecel
Iri tanda tak mampu. Katanya, Yekti, si gadis desa, muka dan harta pas-pasan, kok bisa dapat si Sapto. Ah, siapa peduli. Ya, mas Sapto, adalah pemuda yang ganteng, kaya dan penyayang. Saking sayangnya, apa yang kupinta, pasti dia iyakan.
Malam Minggu kami berkunjung ke rumah mertua. Seperti biasa, ibu sudah menyiapkan santapan untuk anak dan menantunya.
"Ayo Yekti, dimakan. Ibu masak pecel buat kalian. "
Hmmm.... Masakan mertua memang tak ada duanya.
" Lahap sekali. Enak Yekti? Itu sayuran ibu petik dari kebun, termasuk daun kelor yang subur di samping rumah. ".
Pecel sudah habis, tinggal nafasku kembang kempis. Benar saja, Sapto berubah dan mengusirku di keesokan harinya.
"Dasar ceroboh, kan sudah aku bilang, jangan dekati kelor. Sekarang tahu sendiri akibatnya.!! " Begitulah Mbah Sronto, dukun desa mengomeliku.
7. Rawon
Usai nonton bola, aku iseng keluar rumah sekedar mencari pengisi perut. Yah, itung-itung pengenalan lingkungan mengingat baru dua minggu di sini.
Sudah sepi memang, karena sudah hampir tengah malam. Kulihat ada lapak jualan di ujung jalan. Kudekati, ternyata itu warung rawon, di situ tertulis rawon setan. Dasar orang sekarang, macam-macam pula mereka memberi nama.
" Pak, rawon seporsi pak. Dimakan disini. ".
" Baik"
Pak tua itu segera meracik rawon di gerobaknya. Terbayang olehku citarasa kluwek, daging dipadu dengan cabai.
" Silahkan. "
Tiba-tiba saja aroma tak sedap menyeruak. Kupikir ada bunga bangkai tapi ini bersumber dari mangkok. Diriku mual.
" Pak, ini rawonnya kok begini. "
"Ya namanya juga rawon setan. " Pak tua itu menyeringai dengan muka pucat, mulut berbusa.
8. Nebeng
"Setyo, ini upahmu minggu ini. Oh ya, Ada buah buat ibu di rumah. "
"Terima kasih pak. "
Hari semakin gelap dan sepi. Kukayuh sepeda menyusuri jalan berliku, menanjak dan menurun. Berat? Ah, pantang bagi laki-laki mengeluh, bukan? Jadi, nikmati saja.
Tak terasa tanjakan sebelah makam terlewati, ini artinya sebentar lagi sampai rumah. Tanjakan sudah berlalu, tapi.. ,kenapa masih berat saja sepeda ini kukayuh. Bukannya aku hanya membawa sekantong buah, bukan sekarung beras?
Kutengok kanan, kiri dan belakang. Terang saja, ada penumpang berambut panjang di belakang hingga membuat pematang sawah kuterjang.
9. Taman Bermain
Beberapa hari ini, si Dito lebih suka pergi ke taman di sore hari. Bagiku tak mengapa, justru lebih senang karena lebih murah daripada bermain di mall.
"Dito, pulang yuk, udah mau maghrib" Teriakku dari gazebo. Agaknya dia masih gembira, padahal orang-orang sudah beranjak pulang. Sekali lagi kuberteriak sembari mendekatinya.
"Dito, ayo pulang. Sebentar lagi magrib."
"Tapi mama, aku masih mau main. Temenku Yosi belum pulang."
"Yosi yang mana? "
"Emang ibu nggak lihat, dia tertawa di ayunan disampingku. "
Jleb. Segera kuraih tangan Dito dan memaksanya pulang. Ingatanku melayang pada anak komplek sebelah yang baru saja meninggal, Yosi namanya.
10. Nyalon
Sepulang dari salon, aku merasa lebih percaya diri. Aku yakin, mereka pasti tercengang dengan penampilanku yang baru. Apalagi rambut indahku yang panjang tergerai, aduhai.
Semoga malam ini mimpi seindah-indahnya.
"Hai Sis, kamu nangis semalam? " Tanyaku pada tetangga kosku.
"Nggak Tantri. "
Ah, sudahlah, tepisku. Namun, semenjak dari salon itu, memang tiap malam kudengar tangisan perempuan. Lama-lama risih juga, terlebih ketika malam jumat, seakan Ada yang menarik rambutku. Atas saran Siska, aku pergi ke salon tempo hari.
"Maaf mbak, hair extension kemarin, mbaknya minta rambut original, ya itu stok yang kami punya, rambut gadis yang meninggal empat puluh hari yang lalu" Jawab pegawai salon dengan entengnya.
Segera saja kupangkas rambut sependek-pendeknya
11. Tabungan
Anak-anak mana yang tak menyukaiku. Tak jarang kuberi hadiah, coklat ataupun permen ketika bermain dirumahku, lengkap dengan playgroundnya.
Akan tetapi, belakangan ini, kudengar banyak orang tua yang melarang anaknya berkunjung.
"Heh, Kasno, jangan lagi kau giring anak-anak main ke rumahmu! " Teriak Hadi, tetanggaku.
"Lha, emang kenapa? Mereka senang di sini kok. "
"Bagaimana kami tak curiga, tiap kali mereka bermain, pasti nanti ada yang sakit, entah, habis itu tak tertolong. "
"Sudah takdir kali. " Jawabku enteng.
Aku berlalu dari teras dan menutup pintu. Dasar nggak tahu diuntung, gerutuku. Bukankah anak-anak yang meninggal itu nanti jadi tabungan akhirat. Impas kan? Aku membuat tabungan mereka dan aku semakin bergelimang harta.
12. Token Habis
Aku bersyukur bersuamikan Seno. Dia seorang pekerja keras dan penyayang. Asetnya lumayan, sudah pasti kebutuhanku terjamin kan?
"Eh, Laksmi, semalem kenapa rumahmu gelap, cuma pakai lilin saja? " Tanya Udin, tukang sayur yang juga tetanggaku.
"Iya Din, tokenku habis. Mau beli keluar, males. "
"Napa nggak nyuruh Seno? "
"Dia lagi sibuk kerja." Jawabku ngeloyor pulang. Tak kuhiraukan omongannya.
Aih, dasar tetangga kepo. Sudah kubilang Seno itu pekerja keras, sampai malam pun ia suka bekerja. Sedangkan aku cukup di rumah, menjaga lentera agar tetap menyala. Begitulah cara kami menumpuk harta.
13. Kursi Roda
Bersama dengan sepupu, kak Eva, aku menginap di rumah nenek yang baru saja meninggal empat puluh hari yang lalu. Selain karena kami cukup dekat dengan nenek, para kerabat harus bekerja di esok hari. Sementara, kami masih kuliah yang jadwalnya fleksibel.
Sanak saudara yang rumahnya tak jauh dari rumah nenek, pulang menjelang tengah malam. Yah, mumpung pada ngumpul, kami ngobrol sembari membereskan rumah.
Kak Eva lebih dulu masuk kamar, sementara aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Tak ada yang aneh di rumah ini karena memang kami sering mengunjungi nenek semasa hidupnya.
Adzan shubuh memaksa diriku membuka mata disertai omelan kak Eva.
"Kamu yang bener dong, masa kursi roda kamu taruh di depan kamar persis. Mana lampu ruang tamu mati. Nabrak kan jadinya aku" Cerocos kak Eva.
"Kak, aku memang matiin lampu ruang tamu semalam, cuma kursi roda nenek kutaruh di samping kamar mandi. "
Dan kulihat wajah kak Eva dengan raut yang berbeda.
14. Reuni
Tanggal sudah aku lingkari, setelah kulihat pariwara di sejumlah media. Kupastikan tahun ini ikut reuni setelah beberapa tahun absen. Bukannya apa-apa, hanya saja sekarang aku lebih pede dengan tungganganku. Selain itu, tempo hari pernah dichat oleh teman wanita yang dulu pernah kukagumi. Aah, siapa tahu hati kami bertaut kan?
Seminggu kemudian, tibalah agenda reuni.
"Hai Ilham. Akhirnya datang juga ke reuni tahun ini. Makin ganteng aja", sapa temanku.
" Baru sempet Don. Ini juga kan seminggu yang lalu sempat dichat Vika tentang reuni. Tumben banget kan, entah dari mana dia tahu nomorku. Ehm... "Jawabku nyengir.
" Serius? Kamu masih ngarepin doi? "Tanya Doni terkejut.
"Ya kalau sama-sama single, kenapa tidak? "
"Sebaiknya jangan deh. "
"Emang kenapa? Dia udah nikah?" Tanyaku dengan polos.
"Bukan udah nikah Ham, tapi udah meninggal sebulan yang lalu. Makanya, join grup alumni biar tahu berita. "
Terus yang ngechat seminggu lalu siapa???, bisikku dalam hati.
"Dasar nenek-nenek, dia pasti lupa mengangkat jemuran yang dicuci tadi pagi," gerutuku pada tetangga samping rumah. Segera kubuka pintu mengingat malam makin larut, udara sedang dingin-dinginnya. Ditambah ada gonggongan anjing tetangga seberang rumah.
Setelah membersihkan diri, aku rebahan di kamar. Hufttt...capek sekali setelah tour seharian.
Pagi-pagi, kulihat mbah Darmi sudah menyapu terasnya.
"mbah-mbah Darmi, lupa mengangkat jemuran mukena semalam ya?" tanyaku basa-basi.
"lha yo sudah kuangkat sejak sore lah Santi. Pamali ada jemuran malam-malam di luar."
Aku hanya nyengir. Lalu penampakan putih semalam di depan rumah apaan, kalau bukan jemuran mukena?
2. Nyari Kutu
Di suatu sore selepas adzan ashar, aku dan Dewi teman kostku sedang asyik leyeh-leyeh.
"Sarni, tolong cariin kutu dong. Kok kepalaku gatel yah. Dipakein shampoo nggak mempan nih. " Kata Dewi.
"Idih jorok." Sambil bermalas-malasan, kupijat kepalanya mulai berburu kutu yang bersembunyi di mahkotanya.
Satu, dua, tiga kutu beserta telurnya berhasil kutumpas. Asyik juga momen mencari kutu apalagi ditemani kue, es teh dan sedikit ghibah.
"Wow, aku nemuin raja kutu nih. Item gede banget Wi. "
"Masa? Coba Sar tangkap! "
Buletan hitam pun kusentuh, mencoba untuk kucabut. Aarghhh.... Ini kutu atau apa si. Sekali lagi kucoba tangkap.
Betapa kagetnya diriku, begitu kutarik, yang di tangan bukan kutu tapi paku. Sejurus kemudian Dewi malah tertawa-tawa, tapi tidak didepanku. Ya, ia tertawa sambil terbang melayang menuju awan.
3. Koran
Setelah peraturan yang tak boleh dagang di area stasiun, mau tak mau, aku harus cari lahan lagi. Syukurlah, aku mendapatkan lahan sempit untuk berjualan meski agak jauh dari stasiun. Sepi tak apalah, yang penting usaha, rejeki kan sudah ada yang ngatur.
"Pak, baksonya dua bungkus ya pak. "
" Ooh, baik pak. Silahkan duduk dulu. "
Bapak itu duduk sambil membaca koran di bawah lampu yang temaram, tak begitu terang. Kupikir orang ini habis perjalanan jauh, hummm..., baunya tak begitu sedap, kutanya pun tak menjawab.
"Ini pak baksonya, semuanya jadi tiga puluh ribu. " Kataku sambil menyerahkan bungkusan. Dia pun berlalu tapi dia meninggalkan korannya.
Kuraih koran dan kubaca. Koran itu lusuh dengan headline kecelakaan kereta. Ya, koran edisi Oktober 1987.
4. Boneka
Roda itu berputar. Paklikku,Sutrimo, yang dulunya hanya asongan, kini punya toko besar dengan cabang di berbagai kota. Saya sendiri baru lulus SMA yang berlibur di rumahnya. Ya ngapain kek, bersih-bersih rumah, masak, atau bantu momong anaknya yang kecil.
" Mbak, mbak Rizky, Selly punya mainan baru lho, nemu di kamar ayah. ", ujar Selly, anak paklik yang kecil.
" Apa itu Selly? "
" Boneka. Agak serem tapi aku nggak takut kok? "
"Boleh mbak lihat? "
Hmmm.... Serem? Apa seperti Annabelle kah?, tanyaku dalam hati. Si kecil Selly lantas ke kamarnya.
"Ini mbak. Aku namain boneka jenggot karena ada jenggotnya. "
Aku menatap aneh pada boneka seukuran barbie itu. Nduk Selly, itu bukan jenggot, tapi jenglot, batinku.
5. Wowo Murung
Tak seperti biasanya, akhir-akhir ini, Wowo anakku yang montok itu murung. Padahal sebelumnya, ia selalu riang gembira. Tentu saja, aku takkan membiarkan ini berlarut-larut.
"Kamu kenapa Wo?"
"Nggak ada yang mau bermain denganku. "
"Emang kenapa? "
"Katanya aku tidak sekelas dengan mereka. Aku hitam, jelek dan bau. "
"Memang kamu main sama siapa? "
"Mira, anaknya Haji Rosid. Dia selalu ketakutan, dibilangnya aku bau singkong bakar. "
"Wowooo.... Jelas saja dia takut. Kamu memang berbeda, karena kamu itu bangsa Gendruwo, Wo... Wowo...! " Teriakku sambil melempar singkong.
6. Pecel
Iri tanda tak mampu. Katanya, Yekti, si gadis desa, muka dan harta pas-pasan, kok bisa dapat si Sapto. Ah, siapa peduli. Ya, mas Sapto, adalah pemuda yang ganteng, kaya dan penyayang. Saking sayangnya, apa yang kupinta, pasti dia iyakan.
Malam Minggu kami berkunjung ke rumah mertua. Seperti biasa, ibu sudah menyiapkan santapan untuk anak dan menantunya.
"Ayo Yekti, dimakan. Ibu masak pecel buat kalian. "
Hmmm.... Masakan mertua memang tak ada duanya.
" Lahap sekali. Enak Yekti? Itu sayuran ibu petik dari kebun, termasuk daun kelor yang subur di samping rumah. ".
Pecel sudah habis, tinggal nafasku kembang kempis. Benar saja, Sapto berubah dan mengusirku di keesokan harinya.
"Dasar ceroboh, kan sudah aku bilang, jangan dekati kelor. Sekarang tahu sendiri akibatnya.!! " Begitulah Mbah Sronto, dukun desa mengomeliku.
7. Rawon
Usai nonton bola, aku iseng keluar rumah sekedar mencari pengisi perut. Yah, itung-itung pengenalan lingkungan mengingat baru dua minggu di sini.
Sudah sepi memang, karena sudah hampir tengah malam. Kulihat ada lapak jualan di ujung jalan. Kudekati, ternyata itu warung rawon, di situ tertulis rawon setan. Dasar orang sekarang, macam-macam pula mereka memberi nama.
" Pak, rawon seporsi pak. Dimakan disini. ".
" Baik"
Pak tua itu segera meracik rawon di gerobaknya. Terbayang olehku citarasa kluwek, daging dipadu dengan cabai.
" Silahkan. "
Tiba-tiba saja aroma tak sedap menyeruak. Kupikir ada bunga bangkai tapi ini bersumber dari mangkok. Diriku mual.
" Pak, ini rawonnya kok begini. "
"Ya namanya juga rawon setan. " Pak tua itu menyeringai dengan muka pucat, mulut berbusa.
8. Nebeng
"Setyo, ini upahmu minggu ini. Oh ya, Ada buah buat ibu di rumah. "
"Terima kasih pak. "
Hari semakin gelap dan sepi. Kukayuh sepeda menyusuri jalan berliku, menanjak dan menurun. Berat? Ah, pantang bagi laki-laki mengeluh, bukan? Jadi, nikmati saja.
Tak terasa tanjakan sebelah makam terlewati, ini artinya sebentar lagi sampai rumah. Tanjakan sudah berlalu, tapi.. ,kenapa masih berat saja sepeda ini kukayuh. Bukannya aku hanya membawa sekantong buah, bukan sekarung beras?
Kutengok kanan, kiri dan belakang. Terang saja, ada penumpang berambut panjang di belakang hingga membuat pematang sawah kuterjang.
9. Taman Bermain
Beberapa hari ini, si Dito lebih suka pergi ke taman di sore hari. Bagiku tak mengapa, justru lebih senang karena lebih murah daripada bermain di mall.
"Dito, pulang yuk, udah mau maghrib" Teriakku dari gazebo. Agaknya dia masih gembira, padahal orang-orang sudah beranjak pulang. Sekali lagi kuberteriak sembari mendekatinya.
"Dito, ayo pulang. Sebentar lagi magrib."
"Tapi mama, aku masih mau main. Temenku Yosi belum pulang."
"Yosi yang mana? "
"Emang ibu nggak lihat, dia tertawa di ayunan disampingku. "
Jleb. Segera kuraih tangan Dito dan memaksanya pulang. Ingatanku melayang pada anak komplek sebelah yang baru saja meninggal, Yosi namanya.
10. Nyalon
Sepulang dari salon, aku merasa lebih percaya diri. Aku yakin, mereka pasti tercengang dengan penampilanku yang baru. Apalagi rambut indahku yang panjang tergerai, aduhai.
Semoga malam ini mimpi seindah-indahnya.
"Hai Sis, kamu nangis semalam? " Tanyaku pada tetangga kosku.
"Nggak Tantri. "
Ah, sudahlah, tepisku. Namun, semenjak dari salon itu, memang tiap malam kudengar tangisan perempuan. Lama-lama risih juga, terlebih ketika malam jumat, seakan Ada yang menarik rambutku. Atas saran Siska, aku pergi ke salon tempo hari.
"Maaf mbak, hair extension kemarin, mbaknya minta rambut original, ya itu stok yang kami punya, rambut gadis yang meninggal empat puluh hari yang lalu" Jawab pegawai salon dengan entengnya.
Segera saja kupangkas rambut sependek-pendeknya
11. Tabungan
Anak-anak mana yang tak menyukaiku. Tak jarang kuberi hadiah, coklat ataupun permen ketika bermain dirumahku, lengkap dengan playgroundnya.
Akan tetapi, belakangan ini, kudengar banyak orang tua yang melarang anaknya berkunjung.
"Heh, Kasno, jangan lagi kau giring anak-anak main ke rumahmu! " Teriak Hadi, tetanggaku.
"Lha, emang kenapa? Mereka senang di sini kok. "
"Bagaimana kami tak curiga, tiap kali mereka bermain, pasti nanti ada yang sakit, entah, habis itu tak tertolong. "
"Sudah takdir kali. " Jawabku enteng.
Aku berlalu dari teras dan menutup pintu. Dasar nggak tahu diuntung, gerutuku. Bukankah anak-anak yang meninggal itu nanti jadi tabungan akhirat. Impas kan? Aku membuat tabungan mereka dan aku semakin bergelimang harta.
12. Token Habis
Aku bersyukur bersuamikan Seno. Dia seorang pekerja keras dan penyayang. Asetnya lumayan, sudah pasti kebutuhanku terjamin kan?
"Eh, Laksmi, semalem kenapa rumahmu gelap, cuma pakai lilin saja? " Tanya Udin, tukang sayur yang juga tetanggaku.
"Iya Din, tokenku habis. Mau beli keluar, males. "
"Napa nggak nyuruh Seno? "
"Dia lagi sibuk kerja." Jawabku ngeloyor pulang. Tak kuhiraukan omongannya.
Aih, dasar tetangga kepo. Sudah kubilang Seno itu pekerja keras, sampai malam pun ia suka bekerja. Sedangkan aku cukup di rumah, menjaga lentera agar tetap menyala. Begitulah cara kami menumpuk harta.
13. Kursi Roda
Bersama dengan sepupu, kak Eva, aku menginap di rumah nenek yang baru saja meninggal empat puluh hari yang lalu. Selain karena kami cukup dekat dengan nenek, para kerabat harus bekerja di esok hari. Sementara, kami masih kuliah yang jadwalnya fleksibel.
Sanak saudara yang rumahnya tak jauh dari rumah nenek, pulang menjelang tengah malam. Yah, mumpung pada ngumpul, kami ngobrol sembari membereskan rumah.
Kak Eva lebih dulu masuk kamar, sementara aku mengunci pintu dan mematikan lampu. Tak ada yang aneh di rumah ini karena memang kami sering mengunjungi nenek semasa hidupnya.
Adzan shubuh memaksa diriku membuka mata disertai omelan kak Eva.
"Kamu yang bener dong, masa kursi roda kamu taruh di depan kamar persis. Mana lampu ruang tamu mati. Nabrak kan jadinya aku" Cerocos kak Eva.
"Kak, aku memang matiin lampu ruang tamu semalam, cuma kursi roda nenek kutaruh di samping kamar mandi. "
Dan kulihat wajah kak Eva dengan raut yang berbeda.
14. Reuni
Tanggal sudah aku lingkari, setelah kulihat pariwara di sejumlah media. Kupastikan tahun ini ikut reuni setelah beberapa tahun absen. Bukannya apa-apa, hanya saja sekarang aku lebih pede dengan tungganganku. Selain itu, tempo hari pernah dichat oleh teman wanita yang dulu pernah kukagumi. Aah, siapa tahu hati kami bertaut kan?
Seminggu kemudian, tibalah agenda reuni.
"Hai Ilham. Akhirnya datang juga ke reuni tahun ini. Makin ganteng aja", sapa temanku.
" Baru sempet Don. Ini juga kan seminggu yang lalu sempat dichat Vika tentang reuni. Tumben banget kan, entah dari mana dia tahu nomorku. Ehm... "Jawabku nyengir.
" Serius? Kamu masih ngarepin doi? "Tanya Doni terkejut.
"Ya kalau sama-sama single, kenapa tidak? "
"Sebaiknya jangan deh. "
"Emang kenapa? Dia udah nikah?" Tanyaku dengan polos.
"Bukan udah nikah Ham, tapi udah meninggal sebulan yang lalu. Makanya, join grup alumni biar tahu berita. "
Terus yang ngechat seminggu lalu siapa???, bisikku dalam hati.
Senin, 16 Desember 2019
Creepy kripik(1)
1. Halloween
"Sempurna, " Puji
mereka atas riasanku di pesta ini. Beberapa terkejut, ternganga dan ada pula
yang tertawa. Ah, sebenarnya aku tak ambil pusing, peduli setan, yang penting
bisa ikut pesta tanpa ada perbedaan. Semua baik-baik saja, sampai pada belatung
di punggung yang tak bisa kutahan. Kacau, semua berhamburan, kecuali lampu labu
di ujung gerbang.
2. Sodako
Kucoba melukis wajah seindah mungkin, termasuk bibir mungil,
hidung mancung dan tak lupa mata yang mempesona. Siapa tahu, di kondangan nanti
ada pemuda yang kutawan. Usai beranjak dari taksi, naas sekali, hujan mengguyur
badan, termasuk riasan. Segeralah orang-orang itu berteriak ketakutan. Kata
mereka, mata, mulut dan hidungku hilang.
3. Camping
Udara yang dingin ini, tetap saja tak bisa memejamkan mataku.
Ditemani sesama kakak pembina, aku putuskan untuk menyelinap keluar arena
perkemahan. Namanya saja kampung, ya jelas saja sepi. Namun, tak jauh dari
perkemahan, terlihat rona cahaya. Demi rasa penasaran, kami berjalan mendekat.
Benar saja, Ternyata ada pos penjual makanan khas malam hari. “Hmmm....lumayan,
buat teman ngemil malam,” pikirku. Dengan uang yang ada di kantong, kami
tukarkan sate dan gorengan. Tentu saja, kami bungkus agar bisa berbagi dengan
rekan yang lain.
Begitu kembali ke perkemahan, beberapa rekan yang terjaga
menanyai kami.
“Ah yang benar saja kamu, mana ada pedagang selarut ini.”Mereka
tak percaya dengan cerita kami.
“Dengar, pemukiman warga terdekat dari sini sekitar tiga kilo.
Sebelum itu, hanya kebun lebat. Ada sih kompleks terdekat yang hanya berjarak
satu kilo, tapi itu kompleks orang mati, alias TPU”,ujar rekan yang lain.
Kami terkejut. Demi meyakinkan mereka, kutunjukkan belanjaan
kami. Begitu dibuka, lemas, merinding seketika. Isinya cacing, belatung dan
daun kering.
4. Tangsi
Hidup di tangsi militer adalah salah
satu konsekuensi yang kuterima setelah bersuamikan tentara. Dengan pangkat
suami yang masih rendah, tentulah kami belum mampu untuk membeli rumah sendiri.
"Yah, semalam pas kamu piket,
ada orang namanya bu Daud main. Katanya rumahnya di ujung gang. Mau kenalan
katanya. Orangnya ramah ya. "
Mendadak raut mukanya agak aneh.
Tanpa kupinta, dia bercerita, "Bu Daud meninggal seminggu yang lalu, ketika kita resepsi di kampungmu."
Tanpa kupinta, dia bercerita, "Bu Daud meninggal seminggu yang lalu, ketika kita resepsi di kampungmu."
5. Umroh
Sebagai
pembantu yang sudah bertahun-tahun di keluarga ini, pasti aku hafal dengan
orang-orang di rumah ini. Juraganku memang baik, suka berbagi. Katanya biar
anaknya,sanak saudaranya di akherat terang jalannya. Ya, tiap tahun, ada saja
bagian dari keluarga ini yang meninggal, entah anak, cucu ataupun ponakan. Tapi
aku tak ambil pusing, toh, aku baik-baik saja di sini.
Seperti
biasa, di awal tahun Jawa ini, juragan selalu melakukan perjalanan. Belakangan
aku baru tahu, ternyata dia pergi ke gunung Kawi.Namun, dia wanti-wanti untuk
tidak menceritakan ke siapapun.
“Sum,
Sum, juraganmu ke mana to? Ada acara Muharroman nggak nongol,” tanya tetanggaku, sesama babu.
“Anu
Yem, Bapaknya lagi umroh,”
“Rajin
amat umrohnya, tiap Suro.”
“
Iya Yem, biar rejekinya lancar,”jawabku sambil ngeloyor pergi. Nggak mungkin
kan, kubilang ke gunung Kawi buat semedi.
6. Ojek
Aku cek lagi alamat jemputan, sepertinya tidak asing. Segera kutepis segala sangkaan. Bisa jadi, dia memang sedang butuh bantuan untuk pulang. Ah, sudahlah, barangkali ini rejekiku, rejeki di tengah malam ini. Kupacu kuda besi dengan hati-hati, ke gedung dekat stasiun Cawang itu.
Di menara dengan teras yang eksotis itu, kulihat seorang wanita cantik, putih wajahnya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya, hingga iseng kucuri pandang lewat spion. Malang tak dapat ditolak, motorku oleng ke pagar warga karena lihat mukanya berubah penuh luka.
7. Sopir
Pukul 3 dini hari. Ah, akhirnya sampai juga.
Aku melaju pelan-pelan, siapa tahu ada petunjuk, bertanya pada orang, misalnya. Tak enak aku bangunkan yang di belakang karena masih terlelap. Yang kutahu, di daerah ini, penduduknya banyak yang memulai hari sebelum shubuh tiba. Iya, jam segini biasa merapat dan memilih hasil tangkapan Ikan untuk dibawa ke pasar.
Aku melaju pelan-pelan, siapa tahu ada petunjuk, bertanya pada orang, misalnya. Tak enak aku bangunkan yang di belakang karena masih terlelap. Yang kutahu, di daerah ini, penduduknya banyak yang memulai hari sebelum shubuh tiba. Iya, jam segini biasa merapat dan memilih hasil tangkapan Ikan untuk dibawa ke pasar.
Di ujung, kulihat ada seseorang duduk terdiam di gapura. Tak ada salahnya kan, jika kutanya.
"Maaf pak, Mau tanya, kediaman pak Sastro di mana ya? ", sambil kusodorkan sebuah alamat.
Dengan suara serak khas kakek-kakek, dia pun menunjukkan alamat yang kumaksud. Sudah dekat rupanya.Ternyata, sejumlah orang sudah menunggu. Beberapa pasang mata nampak berkaca-kaca.
"Maaf pak, Mau tanya, kediaman pak Sastro di mana ya? ", sambil kusodorkan sebuah alamat.
Dengan suara serak khas kakek-kakek, dia pun menunjukkan alamat yang kumaksud. Sudah dekat rupanya.Ternyata, sejumlah orang sudah menunggu. Beberapa pasang mata nampak berkaca-kaca.
Begitu pak Sastro diturunkan, aku yang kaget. Wajahnya sama dengan lelaki yang kutanya di gapura tadi. Rasanya ingin berhenti saja jadi sopir ambulans.
9. Sekolah Kuno
Hal yang membanggakan dari diriku adalah belajar di sekolah idaman umat ini. Bangunan khas gaya gothic membuat terlihat angkuh dan elegan, termasuk para penghuninya.
Ya, para penghuninya, termasuk noni Belanda yang kulihat ketika datang kepagian.
Senin, 04 Desember 2017
Sama Nama Lain Cerita
“Heri, memang nggak ada perempuan lain selain Meggi”, kata Nenek Liza kepada cucunya. Yah, ibu Heri sudah meninggal ketika Heri masih di TK. Ia pun besar dengan neneknya, Liza yang terkenal sebagai bos kontrakan dan selektif dalam urusan jodoh keturunanya. Bobot, bibit, bebet haruslah benar-benar diperhatikannya.
“Memangnya kenapa nek? Dia baik, cantik pula,”jawab Heri
“Tapi kan dia janda, sedangkan kamu masih perjaka. Apa kata tetangga nanti.”
“Ah nenek terlalu mikirin kata tetangga.”
“Oke, kata Rasulullah lebih baik menikahi perawan bukan janda kan?”
“Istri pertama Rasulullah juga Janda nek, jauh pula usianya.”
“Kamu tu ya, asal dibilangin orang tua, mbantah saja.Baiklah, nenek setuju kalian menikah, tapi nenek nggak ikut acaranya.”
“Lho nek, kok bisa begitu?.”
“Lhah, biarin, biar kayak yang di tivi itu. Kan sama namanya, saya Liza, dia Elizabeth, ndilalah nama cucunya kan mirip-mirip juga.”
“Please nek, nenek Cuma punya beberapa petak kontrakan sedangkan dia menguasai seluruh tanah di Inggris, dia itu ratu neeekkkk.”
“Haa? Emang??lha kirain dia ratu kayak nama artis Ratu Felisha begitu...”
“Makanya nek, udah tua jangan banyak nonton tivi, mending ngaji,”kat Heri sambil ngeloyor.
“Memangnya kenapa nek? Dia baik, cantik pula,”jawab Heri
“Tapi kan dia janda, sedangkan kamu masih perjaka. Apa kata tetangga nanti.”
“Ah nenek terlalu mikirin kata tetangga.”
“Oke, kata Rasulullah lebih baik menikahi perawan bukan janda kan?”
“Istri pertama Rasulullah juga Janda nek, jauh pula usianya.”
“Kamu tu ya, asal dibilangin orang tua, mbantah saja.Baiklah, nenek setuju kalian menikah, tapi nenek nggak ikut acaranya.”
“Lho nek, kok bisa begitu?.”
“Lhah, biarin, biar kayak yang di tivi itu. Kan sama namanya, saya Liza, dia Elizabeth, ndilalah nama cucunya kan mirip-mirip juga.”
“Please nek, nenek Cuma punya beberapa petak kontrakan sedangkan dia menguasai seluruh tanah di Inggris, dia itu ratu neeekkkk.”
“Haa? Emang??lha kirain dia ratu kayak nama artis Ratu Felisha begitu...”
“Makanya nek, udah tua jangan banyak nonton tivi, mending ngaji,”kat Heri sambil ngeloyor.
Rabu, 04 Oktober 2017
#FFKamis-Cermin Terkutuk
Karena kutukan
itulah keluarganya tak pernah tertarik untuk membeli benda yang mudah pecah
itu. Sehari-harinya, mereka mengandalkan pendapat orang untuk menyesuaikan
penampilan. Sebenarnya ini bukan tanpa resiko,kalau ada orang yang berniat
jelek, pasti ia akan berkomentar yang sifatnya merugikan, seperti yang tahun
lalu terjadi.
“ Hei, Medisa
kamu cantiiiik banget.”
“ Oh ya?”
“Bener deh,
pasti semua orang nanti di pesta tertuju padamu. Apa kamu tak ingin melihat
wajahmu?”
“Tapi...”
“ Ayolah. Masih
percaya kutukan jaman sekarang. Ini, aku bawa cermin kecil.”
Tapi....aargh,
gadis itu terlambat menghindar. Mendadak kaku mulai dari ujung kaki sampai
rambut, membatu. Kutukan itu masih ada.
Rabu, 26 Juli 2017
Jodoh Khayalan
Celoteh
mereka berdua tak kuhiraukan. Banyak sekali urusan yang nempel, makin rungsek
saja otakku kalau menganggap tiap kata-kata mereka suatu hal yang serius.
“ Nduk, kamu
sudah lewat 30 tahun lho”, kata emak. “ Kalau nanti-nanti, malah pada mundur,
takutnya kamu jadi...”
“ Perawan
tua mak???....Santai aja kali mak, nooh liat, presiden perancis saja nikahnya
sama gurunya yang selisihnya banyak banget.”
“ Kamu kan Cuma
jualan lemper.”
Ngok, aku
ngeloyor sambil tetap kekeuh dalam hati. Suzana juga jauh lebih tua, apalagi
berita terakhir, pemuda yang menikah dengan nenek-nenek. Apa jangan-jangan
lelakiku belum terlahir? Duhh...tapi jangan sampai aku peyot juga Gusti....
Senin, 17 Juli 2017
Liku Cahaya
Darah itu memang mengalir dalam tubuhku. Aaah....lelaki tua itu,
entah konvensional atau skeptis, apapun itu, tetap saja, aku adalah bagian
cabang rantingnya. “ Kalau bukan kau, siapa lagi?” serunya tiap kali memberi
wejangan. Atas perannya, aku digojlog dengan alunan gamelan sementara yang lain
diperdengarkan jazz, pop bahkan murottal. Atas usulnya, aku mengambil ekskul
karawitan ketika berada di sekolah atas. Ekskul yang sebenarnya kurang diminati
termasuk diriku. Nguri-uri budaya jawa, katanya. Dan aku bisa apa. Kedua
orangtua pun sama, ibuku adalah seorang sinden dengan suara indahnya. Ayahku?
Setali tiga uang. Beliau adalah ahli kriya meski pekerjaan utamanya adalah
petani, bukan tepatnya juragan sawah.
Dauroh pertama, Gunung Kendil, Magelang....
Berawal dari penasaran akan akhwat jelita di kampus, aku iseng mengikuti dauroh bersama aktivis dakwah. Yah, itung-itung refresh setelah ujian
tengah semester, pun dengan setengah hati aku ikuti. Terang saja, wong ikhwan
akhwat ternyata berbeda tempat, mana bisa curi-curi pandang.
Mencari ilmu, begitu alasan yang kusampaikan kepada kakak di atas
levelku. Materi pertama adalah akidah. Apapula ini, bukankah dari lahir sudah
Islam, aku bisa mengaji, sholat beserta doa-doa sederhana. Yah...keciiilll.
“ Jadi, di sini, kita tak hanya belajar pengetahuan dasar tapi
tentang bagaimana amalan itu tak sekedar gestur, tentang amalan yang kaffah,
murni.”
Hah!!! Jadi mereka pikir aku ini hanya jungkit-jungkit, berlapar-lapar
namun tak berpahala. Huft.... kalem, ilmu takkan masuk kalau diraih dengan emosi. Kakak
tingkat itu melanjutkan ceramahnya. Bahasanya lembut dan tak bernada
underestimate sama sekali. Justru dia memberi semangat dalam beribadah. Tapi
aku hanya merasa datar, sampai pada materi amalan yang tertolak. What else???
salah satu penyebab amalan tertolak adalah musyrik. Haish.....kemenyan, sajen, adalah salah satunya. Damar, apa yang kau
lakukan selama ini??? Tanyaku dalam hati. Mereka memberiku nama Damar, sewangi
damar tapi fungsi salah satu damar adalah bahan dupa, penyempurna wewangian dalam sesembahan.
Tak hanya itu, demi mengembalikan akidah tauhid, kakak tingkat juga
menyertakan azab-azab bagi pelaku musyrik. Merinding ya Tuhan. Tobat ya Allah,
tobat.
Sepulang aku dauroh, lelaki tua itu memanggilku.
“Damar, dua minggu lagi Sapto, tetanggamu sunatan. Keluarganya
ingin nanggap kuda lumping sebagai hiburan. Siap-siap ya.”
Lidahku kelu, tidak menolak, tidak pula mengiyakan. Antara bakti
dan prinsip hidup. Bayang-bayang dauroh itu berkelebat. Harus mempunyai alasan
yang logis, pikirku. Malam itu aku keluar dengan memacu kuda besi beserta
pikiran yang berkecamuk. Antara sadar atau tidak, melawan kantuk dan lelah
hingga truk parkir itu terlewat dari penglihatanku.
Dengan tangan kugendong, rangkaian jadwal terapi pun menanti.
Menyesal? Tidak, karena dengan ini aku bisa menghindar dari show yang dua
minggu lagi akan ditampilkan. Tarian yang berbau menyan, sesajian yang berujung
pada kesurupan. Tak ada yang kecewa, dengan segera kakekku mencari gantinya.
Ah, pelan-pelan saja Damar. Mungkin baru dirimu yang menghindar, siapa tahu
yang lain menyusul.
You have to endure caterpillars if you want to see butterflies. - Anda harus tahan terhadap ulat jika ingin dapat melihat kupu‐kupu. (Antoine De Saint)
Kamis, 04 Mei 2017
FFKamis-Keberhasilan Masa Lalu
Aku adalah salah satu dari kumpulan
pecundang. Mereka bilang, aku adalah tumbal sial bagi sekitarku. Dalam hal
apapun, selalu saja minus. Di dalam keluarga pun, adik-adikku sudah lebih dulu
mempersembahkan cucu-cucu imut kepada orangtua. Satu-satunya pembelaanku akan
hal ini adalah karena aku lelaki, lelaki harus punya modal yang banyak.
“Heh Jali, apa tabunganmu belum cukup
untuk melamar? Keburu bujang lapuk!” Tegur Emak dengan logat Betawinya.
Huh, aku hanya mendengus sambil
menstarter motor. Kadang aku berpikir, satu-satunya keberhasilanku adalah
ketika aku jadi sel sperma. Aku yang begitu kuat, bertahan hingga bertemu sel
telur yang pada akhirnya menjadi buah cinta orang tua.
Kamis, 23 Maret 2017
FF-Kamis, Suara Terindah
Tak patut aku
menyalahkan bunda atas keadaan ini. Siapa pula yang menginginkan janinnya
diserang virus Rubella ini. Aku justru bangga terhadapnya karena dengan sabar,
pura-pura tuli dengan mengabaikan omongan tetangga.
Aku terbaring di
ranjang dengan sejumlah dokter, suster dan alat-alat medis yang tak kukenal. Ya, semoga dengan implan koklea ini bisa
menunjukkan sepercik surga, nada-nada indah dari suara cinta bunda hingga lantunan
firman sang Pencipta.
Tak lebih dari
tiga jam, akupun membuka mata. Mereka tersenyum di sekelilingku meski tak
terlihat mengucap kata. Dokter menghampiriku dan memakaikanku headphone. Kudengar
kalam yang selama ini terlihat di kitab.
Subhanallah, alhamdulillah walailahailallah, allahu akbar.
Kamis, 09 Maret 2017
FF-Kamis Layang-Layang
Katie bersandar
di sudut rumah. Terlihat di kalender angka merah yang dilingkari. Yaa, kompetisi
layang-layang tinggal sepekan. Semua orang
pasti berlomba mempersembahkan
layang-layang terindah.
“Aaah, tapi aku
lelah dengan semua ini. Menjadi objek kesenangan padahal aku berjuang dari hempasan angin dan sengatan dahaga,
“batinnya. Hemm...aku harus melakukan sesuatu.
Tibalah waktu
perlombaan, semuanya berdandan. Katie pun terbang melesat, sesekali diayunkan
benang oleh sang tuan. Dibawah terlihat
orang-orang bersorak terkagum dengan
pemandangan di angkasa. Sementara itu, semakin ke atas, semakin kencang angin
terhempas, semakin dekat pula dengan raja cahaya. Ia pun berontak, tiba-tiba
benang terputus, ia melayang jauh diiringi kekecewaan gerombolan manusia.
Kamis, 23 Februari 2017
FFKamis-Pemimpin Wedhus
Pemuda tanggung
itu memulai maghribnya dengan sepuntung rokok tingwe alias nglinting dhewe atau
yang lebih populer dengan kata udud. Tak hanya itu, pemuda yang kerap disapa
Sardot itu juga memutar radio dan meraih
buku TTS yang covernya wanita-wanita cantik.
“Mbok kamu wayah
maghrib ngaji le. Biar jadi orang pinter, kelak jadi pemimpin.”
“Nggak usah
ngayal to Simboke. Wong Cuma tamatan SD,
tiap hari macul ngarit, pemimpin wedhus.”
“Lha jangan
begitu Dot. Kalau bukan jadi pemimpin negara, setidaknya jadi pemimpin rumah
tangga.”
Dengan muka
manyun Sardot pun meraih peci hitam dan keluar, bukan ke kyai tapi ke pos ronda
menghabiskan rokoknya.
Kamis, 02 Februari 2017
FFKamis-Perempuan Elegan
“Cukup Helga. “
“ aku hanya ingin curhat.”
“ Kau lebih tepat mengeluh. Selalu saja masalah, mulai dari sulitnya
mendapat anak, mertua yang suka kepo dan suamimu yang kau bilang lemah.”
“Memang begitu faktanya Ayu.”
“Lantas kau mau apa? Aku sendiri
bisa apa? Apa kau pikir hanya kamu yang punya masalah? Kamu itu beruntung, sudah bersuami, mapan.
Mungkin Aldo bukan lemah tapi dia hormat kepada orang tuanya. Toh faktanya dia
tak pernah menyakitimu baik fisik maupun mental kan?”
Helga terdiam.....
“Helga sayang, dengerin ...jadikan
dirimu wanita elegan yang tidak mengumbar masalah. Cukuplah curhat kepada
Tuhanmu, karena Ia adalah sebaik-baik penolong”
Selasa, 24 Januari 2017
Mencintai Hujan
“Alasan apalagi
yang akan kau lontarkan untuk menolak lelaki itu Kanya?”
Wanita muda itu
terdiam mendengar celoteh kakaknya. Sesekali ia mengotak-atik ponselnya yang
mengisyaratkan kejenuhan.
“Kak, aku masih
ingin fo..”
“Ingin fokus ke
karier maksudmu? Kan bisa sambil jalan. Toh kamu adalah wanita yang tidak
ditakdirkan menjadi tulang punggung”, ujar kakaknya sambil mengelola emosi.
“Kalau semua
wanita adalah tulang rusuk, lalu kenapa ibu selalu lebih sibuk dibanding ayah?
Kenapa ibu yang membayar kebutuhan kita?”
“Kamu nggak tau
apa-apa Kanya.”
“Aku punya mata
dan telinga kak” bantahnya.
“Apa kau tidak
mau seperti teman-temanmu yang memamerkan gaya lucu anak-anak mereka. Kamu
sudah lebih pantas untuk hal itu.”
“Kakak baru
punya anak setelah 10 tahun menikah. Dan dalam rentang waktu itu pula kakak
jatuh bangun mempertahankan rumah tangga.”
Gadis itu mulai
menaikkan tensi sementara sang kakak berharap tidak terjadi letupan yang
berarti. Apa yang dikatakan adiknya memang ada benarnya. Tapi ia sangat ingin
ada seorang pendamping yang bertanggungjawab atas adiknya setelah kematian
ibunda dua tahun lalu. Lagipula, usianya sudah lebih dari cukup. Tiga puluh
lima tahun, tak baik bagi wanita untuk terus-terusan melajang. Apakah aku
orang yang begitu kolot?, tanyanya dalam hati. Dengan nada redup ia
melanjutkan pembicaraan.
“Kurang apa sih
Devan? Dia lelaki mapan dan baik akhlaknya.”
“Kenapa kakak
begitu yakin? Suami Anita juga orang yang perfect pada awalnya. Tapi kenapa
mereka bercerai ketika pernikahan baru seumur jagung?”
Kanya
meninggalkan kakaknya terpaku sendiri. Gadis yang liat, keras kepala, batin
Sonya.Apakah lingkungan yang membuatnya begini? Lingkungan yang carut marut
hingga ia trauma, trauma dalam menjalin cinta dengan komitmen. Pengalaman
memang guru yang terbaik tapi tak selamanya pengalaman yang terjadi pada orang
lain juga merupakan fase yang harus kita lalui.
Sonya menuju
dapur untuk menyiapkan makan malam di musim hujan ini. Entah kenapa musim hujan
kali ini ia rasakan cukup lama. Mendung, gelap, basah, dingin membuat beku
suasana.
Tak lama
kemudian, ponsel Sonya berbunyi. Terlihat di layarnya sebuah panggilan, Devan.
Hemmm...saatnya merangkai kata agar tak menyinggung perasaan pria.
“ Hallo, hai
Devan. Maaf aku belum berbicara apapun dengan Kanya.”
“Oh, begitu.
Apakah aku harus menunggu?”
“Sebaiknya kau
mencari yang lain dulu, takut kamu kecewa.”
“Oh...” Ponsel
ditutup dengan buncahan kekecewaan dari keduanya.
Jauh di ujung
jalan, seorang wanita matang sedang menikmati sup jamur di restoran. Sendiri,
hanya derai hujan sebagai kawan. Aroma jahe yang ada di hadapannya membuat
hangat suasana.
Karena setiap
orang memiliki poin kenyamanan yang berbeda-beda, katanya dalam hati.
Minggu, 22 Januari 2017
Menyibak mendung
Perempuan itu
memandang laptopnya sambil sedikit menebar senyum sendiri, kadang sesekali
menengok ke layar hapenya, entahlah, sepertinya aura kebahagiaan sedang
menaungi dirinya.
Sebagai seorang
perempuan yang konon suka bercerita, Saqeena justru kebalikannya. Dia lebih
banyak diam dan menyibukkan diri. Berbicara seperlunya, begitu kata teman-teman
yang ada di sekitarnya. Kadang ia melucu atau diskusi ringan, tapi tidak
tentang pribadinya. Meski begitu, ia tipe yang enak dijadikan teman, terutama
pendengar, ya...pendengar yang baik.
“ Saqeena, heppy
banget nampaknya,”sapaku.
“ Iya nih.”
“Boleh tahu
nggak nih? Cerita dong, suntuk nih. Laporan sudah selesai, mantengin laptop
terus cape,” rayuku.
“Hemmm...kasih
tahu nggak yaaa...”, ujarnya.
“ Yeeee....Saqeena,
boleh dong ngepoin kamu sesekali.”
“ Aah, jadi
gini, adik iparku dan suamiku kini sudah mulai rajin sholatnya.”
“Waah, selamat
ya...” Uhmmm.....bingung mau berkomentar apa, sampai si gadis disampingku ikut
nimbrung, mungkin mendengar karena suasana yang sunyi.
“Yee Saqeena,
emang seharusnya begitu kan? Mereka kan sudah baligh, kalau sama bapakku mah,
udah di sabet pakai sapu lidi,” cerocos Laila.
“Apalagi kalau
shubuh lewat, bisa diguyur tuh. Sekarang si abang sama adik-adik
rajin sholatnya, termasuk yang sunnah juga lho. Beruntung deh yang dapat mereka, sholeh, pintar pula” tambahnya.
“Eh, begitu
ya...” Saqeena tersenyum., agak kecut sih seperti menyembunyikan suatu
kekecewaan. Kami kembali menatap laptop masing-masing. Iseng-iseng, setelah
beberapa saat, aku cek facebook dan kutemukan status yang panjang kali lebar
dan jelas sekali itu akun siapa.
"Setiap orang
berkewajiban menjadi lebih baik, lebih baik dari sebelumnya, bukan lebih baik
dari orang lain. Kalian tumbuh di lingkungan Islami, begitu juga dari
pendidikan dasar sampai kuliah pun masih bernaung di pendidikan Islam. Kalian
tak pernah merasakan bagaimana beratnya mengubah orang dengan karakter yang
sudah terbentuk. Mungkin bagi kalian ini biasa, tapi bagiku ini adalah hal yang
luar biasa. Masih banyak PR yang harus kuselesaikan, semoga menjadi tabungan
akherat yang berarti."
Aaah, benar
sister, aku tahu untuk siapa status yang baru saja kau tulis, bolehlah aku
komentar ya cantik...
“ Tetaplah
berbuat baik karena kita tidak tahu amalan mana yang membawa kita ke surga.
Bahkan sebesar dzarrah pun diperhitungkan olehNya. Tetap Semangat, gapailah
cintaNya meski dengan merangkak.”
Ia hanya
membalas dengan icon senyuman,.
Langit Bekasi
mulai cerah. Gelapnya mendung kini pudar, benarlah bahwa mendung tak berarti
hujan. Ternyata masih banyak misteri yang belum kupahami. Ya Allah, jadikan
diriku orang yang baik tanpa merendahkan orang lain.
Senin, 09 Januari 2017
Bukan Aisyah, Bukan Pula Asiyah
“Karena
desiran ombak menepikan sampah yang hendak mengotori laut, begitu juga masalah
yang menghujammu....”
PRANG, BRAKKKK.....!!!!
Lelaki itu
membanting pintu, mengacuhkan seseorang yang baru saja tiba. Keluar, pergi,
entah kemana.........
****
Aku hanya diam, tak bisa berkata-kata. Dilihatnya serpihan
gelas berserakan di ruang tamu. Batinnya hanya menenangkan diri sambil
beristighfar supaya tidak ikutan tersulut api emosi. Sementara itu, wanita
paruh baya terisak di sudut ruang, berjalan menuju kamar.
Bingung, apa
yang ia harus tanyakan, dengan pilu ia memungut serpihan itu agar tidak melukai
yang lainnya. Ah, lelaki itu.....beginikah yang aku kenal??? bisiknya. Tidak,
tidak. Aku belum cukup mengenalnya. Setahun tak cukup untuk mengenal karakter
seseorang. Menurut informasi yang aku terima, dia tidak begini. Tahun-tahun
pertama memang berat, begitu kata temanku yang sudah belasan tahun mengarungi
biduk rumah tangga. Itu katanya yang sebelumnya ia awali dengan masa pacaran
cukup lama. Sedangkan aku? Mungkin bisa lebih berat daripada yang sekedar ia
ucap. Kami memang tidak mengawali sebagaimana pasangan pada umumnya. Dia
memperkenalkan dirinya karena ia memang sedang mencari pendamping hidup. Jeda
waktu antara perkenalan dan peresmian pun kami habiskan dengan kesibukan
masing-masing. Ia di sana dan aku di sini.
Dan wanita paruh
baya itu.....kenapa hanya bisa menangis dan masuk kamar??? Sungguh, tak ada api
tanpa asap. Yang aku tahu, ia memang kadang kalau bicara suka nyeplos kalau
kita buru-buru masukkan ke hati, kita sendiri yang stress. Jangan-jangan,
apakah kejadian baru saja juga diawali dengan perdebatan? Memang, keadaan yang
sekarang bisa dikatakan sumbu pendek. Imamku masih rapuh karena kecelakaan
kecil yang berakibat putusnya kontrak kerja. Belum lagi kena tipu teman
seperjuangannya yang mengakibatkan kerugian materi yang tidak sedikit. Belum
lagi ia harus berjuang demi melepas ketergantungannya terhadap rokok yang
selama ini menjeratnya. Sementara, hidup semakin berat dengan biaya hidup meningkat.
Tak banyak yang bisa aku lakukan selain menjadikan Allah dan sabar sebagai
penolong.
Malam makin
larut, keadaan rumah sunyi. Terdengar ketukan, ah....siapa lagi kalau bukan
dia. “Sambutlah Sarah”, bisikku. Jangan mengucap kata-kata yang bisa mendidihkan
otaknya.....
“Waalaikumsalam...”.....Jawaban
salam yang tanpa pendahuluan. Diam, beku. Lelaki itu meraih remote tivi. Aaah,
masih aman karena ia menyalakan dalam volume normal. Tanpa ia suruh, aku
menyajikan kopi sebagai minuman favoritnya. Aku periksa lini pesan di hapenya.
Ah, masih bisa ditolerir. Kesuntukannya ia lampiaskan dengan bermain PS bersama
teman masa kecilnya. Sepengetahuanku, temannya baik-baik, tidak ada yang
terlibat hal-hal maksiat semacam alkohol, narkoba maupun wanita. Ya Allah, semoga
bisa diperbaiki.
Aku mematikan
lampu kamar dan beranjak ke peraduan. Biarlah, ia berusaha sendiri mengalahkan
emosinya. Belum, belum saatnya aku bicara.....
Terdengar derit
pintu terbuka.....ia menyusulku rupanya....
“ Maafkan aku
Sarah...” lirihnya sambil mendekatiku.
“Kamu tidak
melakukan apa-apa terhadapku Arga.”
“Kamu pasti
sedih melihat kejadian tadi...”
“Kamu kenapa?”
tanyaku
“Aku tidak
terima dengan kata-katanya.” Huft, sudah kuduga.
“Memalukan
lelaki yang menggantungkan diri kepada seorang perempuan,” lanjutnya.....
“Sudahlah,
jangan terlalu dipikirkan.”
“Ah, kamu tak
tahu kalau lelaki itu me...”
“Ya, laki-laki
melibatkan harga diri Arga. Tapi tak semua kata-kata yang terlontar kamu
masukkan ke hati. Kalem. Kalau tidak sepaham denganmu, lebih baik beristighfar
daripada meluapkan emosi yang justru merusak semuanya.”
“Sarah, kamu
menggampangkan....”
“Arga, justru
kamulah yang mempersulit. Di mana keshalihan yang dulu pernah kau tawarkan
untukku? Sudah berapa sholat yang kamu tinggalkan? Sejak kapan kata-kata kebun
binatang menggantikan istighfar dan sholawatmu?”
“Aku hanya...”
“Atau aku rasa
kamu perlu mengganti namamu. Arga, keangkuhanmu seperti gunung yang
melambangkan namamu. Anggap apa yang menimpamu adalah ujian. Kamu nggak
sendirian. Kamu pikir aku mau hidup seperti ini?”
“Kalau kau tidak
suka dengan ini kamu bisa meninggalkanku Sarah.”
“Bukan maksudku
begitu Arga. Kamu bisa lebih baik daripada ini. Kamu ini seperti orang yang
nggak punya pegangan.”
Bulir-bulir
jernih itu mulai keluar dari kelopak matanya...
“Sarah, kenapa
kamu tetap di sini? Aku nggak pantas buatmu. Aku menempatkanmu dalam posisi
yang tak layak bagimu.”
“Kalau aku pergi
apa itu akan menjamin aku lebih bahagia???”
Dia keluar dan
aku masih bertahan di ranjang. Kupaksakan mata ini untuk terpejam. Sabar
Sarah,....simpan tenagamu buat esok hari.
Tak lama iapun
masuk. Lamat-lamat kupandang mukanya. Agak basah. Ia lantas menggelar
sajadahnya menunaikan ritualnya. Lama...lama....tak tahu sampai kapan ia
mengakhiri munajatnya sampai mata ini terlelap dengan sendirinya.
“Aku memang bukan Fatimah yang
pantas untuk mendapatkan Ali,bukan Aisyah yang pantas untuk Nabi. Tapi aku
juga tak ingin seperti Asiyah yang sampai akhir hayat, suaminya tetap berkubang
dalam kekufuran.Surga terlalu luas untuk ditempati sendiri”
Langganan:
Postingan (Atom)
Ideas to Vary Writing Assessment for Students
Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from 76 country (2018). ...
-
Kayak judul lagu 90an itu yaa ( itu masa depan makkkk) Duapuluh sembilan tahun....seperempat abad lebih ternyata. Aku selalu mengingi...
-
Dimanapun kamu, pasti akan menemui orang yang bersebrangan fikiran denganmu..... Dunia kerja memang penuh dinamika. Naik turun, emosi...
-
Cross a,b,c or d of the right answer! 1. Kim :................? Ran: I am twelve a. How are you ...