Tampilkan postingan dengan label who knows. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label who knows. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kemuliaan Rasulullah#3

Sahabat Anas bin Malik menceritakan bahwa suatu hari ia pergi ke gurun bersama Rasulullah SAW. Disana ia melihat seekor burung berkicau.Lalu, Rasulullah pun bertanya kepada Anas ;

“  Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung ini?”
   Anas pun menjawab, “ Allah dan RasulNya yang mengetahui.”
“ Burung itu berkata; Ya Allah, engkau telah menghilangkan penglihatanku, Engkau ciptakan aku dalam keadaan buta. Maka, berilah rezeki karena aku lapar, “ kata Rasulullah.

Tiba-tiba, Anas dan Rasul melihat seekor burung lain datang membawa seekor belalang di mulutnya dan memasukkannya ke mulut burung yang buta tersebut. Rasulullah pun bertanya kepada Anas dengan pertanyaan yang sama.

“ Apakah engkau tahu apa yang baru saja dikatakan burung itu?”
“Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui “ jawab Anas.
Rasulullah pun berkata, “ burung itu baru saja mengatakan Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan siapapun yang mengingatNya ( Dalam riwayat lain dikatakan, “ Barangsiapa bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya)

Demikianlah sirrah Nabi yang mengajarkan kepada kita untuk tidak berputus asa dan hanya meminta kepadaNya, bukan yang lain. Hasbi Robbi Jalallah. Cukuplah Allah sebagai tempat kita bergantung. Semoga kita termasuk generasi dengan jalan lurus, dijauhkan dari apa-apa yang dibenci Allah.

NB : kisah-kisah dalam seri Kemuliaan Rasulullah disampaikan oleh guru ngaji yang bersumber dari kitab berbahasa Arab. Sadly, saya sendiri lalai nama kitabnya apa, tolong dimaafkan yaa.....

Jumat, 13 Oktober 2017

Kemuliaan Rasulullah#2

Yey, setelah kemarin hectic dengan serangkaian tanggung jawab, akhirnya bisa cuap-cuap lagi di blog kesayangan ini, hihiii.....Baiklah, daripada nyinyir tetangga, rekan kerja apalagi pimpinan negara, marilah kalem sedikit, mengenal lebih dekat lagi kepada sang teladan, pemberi syafaat kita di akhir zaman. Tulisan yang akan saya share ini merupakan oleh-oleh kajian dari ustadz yang tidak mungkin saya lahap sendiri (jadi jelas ya, yang dicetak miring bukan rekaan saya, xixiixi) Yup,....seri kemuliaan Rasulullah is back. Semoga dengan kehadiran seri ini, kecintaan kita terhadap Rasulullah semakin kuat, rohaniyah kita meningkat. 

Suatu hari di kota Makkah dilanda kekeringan yang sangat hebat, tumbuhan mengering, hewan-hewan ternak menjadi kurus, bahkan sebagian orang mulai dilanda kelaparan. Maka para pembesar Quraisy berkumpul untuk mencari solusi. Seseorang di antara mereka mengutarakan idenya agar meminta kepada berhala mereka, yakni latta dan uzza. Seseorang lagi menyanggahnya agar jangan meminta kepada latta dan uzza tapi berhala yang lain yaitu manat.
Setelah lama berdebat, seseorang bernama Waraqah bin Naufal yang mana adalah paman dari Khdijah binti Khuwailid berkata,

“Di antara kalian ada keturunan Ibrahim dan Ismail, saya sarankan agar kalian meminta bantuan kepadanya.”
Lalu mereka pun bertanya, “ apakah Abu Thalib yang anda maksud?”
Waraqah menjawab, “ iya, mintalah bantuan kepadanya.”

Mereka menyetujui saran dari Waraqah ibn Naufal dan segera menemui Abu Thalib untuk meminta bantuan. Lalu mereka pun berkata kepada Abu Thalib

“Hai Thalib, lembah-lembah telah mengering dan makhluk-makhluk dilanda kehausan. Bangunlah dan mohonkan hujan untuk kami.”
Abu Thalib berkata, “ Tunggulah sampai matahari tergelincir.”

Setelah matahari tergelincir Abu Thalib pun keluar bersama seorang anak muda yang rupawan, setiap langkahnya dinaungi awan...beliaulah Rasulullah Muhammad yang waktu itu masih sangat belia. Ia sandarkan punggungnya pada dinding ka’bah sambil memegang Muhammad, Abu Thalib mengangkat tangannya seraya berdoa, “ Turunkanlah hujan pada kami wahai Tuhan kami. Kami bertawasul kepadaMu dengan anak yang penuh keberkahan ini (Muhammad)
Langit yang kala itu terang benderang, setelah Abu Thalib berdoa, maka awan berkumpul, halilintar bersahutan, hujan pun deras mengguyur kota Makkah dan sekitarnya.

Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad.


Selasa, 15 Agustus 2017

Kemuliaan Rasulullah #1


Menjelang peringatan kemerdekaan ini, ijinkanlah saya ( ini MC banget siih)menuliskan kembali tentang apa yang saya peroleh dari kajian rutin saya.  Yahh....nggak semuanya si, sebagian aja, semoga memberi manfaat bagi sidang pembaca wkwkwkwk.....saya ingatkan lagi ya, bahwa apa yang saya tulis sejatinya bukan gagasan maupun rekaan, okey. Akan tetapi, ini merupakan saduran dari kitab dengan huruf arab karya Syaikh syaikh yang jelas mumpuni tentunya. Lebih afdholnya, saya tulis dengan cetak miring saja yaaa....

Dari Al Hafizh Abi Nu’aim r.a beliau berkata :
Disebutkan di sebagian akhbar bahwasanya Allah berkata kepada Nabi Musa a.s
Allah                      : "Ya Musa, apa engkau ingin Aku ini lebih dekat kepadamu melebihi dekatnya ucapanmu dengan lisanmu, melebihi dekatnya rasa was wasdalam hatimu dengan hatimu sendiri, melebihi dekatnya ruh dengan badanmu dan melebihi dekatnya cahaya penglihatan dengan matamu sendiri?"
Nabi Musa                 : "Tentu ya Allah"
Allah                         :" Perbanyaklah sholawat kepada Muhammad Nabiku"
Dan dalam sebuah riwayat, Allah bertanya kepad Musa a.s
Allah                        : "Apa engkau mau tidak merasakan kehausan di hari kiamat?"
Nabi Musa               :"Tentu"
Allah                        : "Maka perbanyaklah sholawat terhadap Nabi Muhammad"
Allohumma sholli wasalim wa barik ‘alaa sayyidinaa Muhammad

Dari Guru Assayyid Alhabib Hamid Annaqib ibn Assyaikh Abu Bakar ibn Salim bercerita:
Ketika kunjungan beliau ke Abu Dhabi, seorang ulama dzurriyah (keturunan) Rasulullah menyimpan dua helai rambut Rasulullah, kemudian ulama tadi berkata :
"Aku akan tunjukkan salah satu mu’jizat Rasulullah pada rambutnya ini ( rambut tersebut ditancapkan di tempat yang terbuat dari seperti kapas/busa berbentuk kerucut)."
Lalu Syaikh tersebut mematikan AC dalam ruangan itu dan menutup rapat seluruh pintu dan jendela agar tidak ada angin yang masuk. Lalu Syaikh tersebut memerintahkan kepada salah satu putra guru kami untuk membaca qasidah berisi pujian kepada Rasulullah. Maa Syaa Allah, ketika dibacakan pujian tersebut, kedua helai rambut itu bergerak-gerak ke kanan dan kekiri saling berlawanan. Dan ketika berhenti membaca pujian, keduanya pun berhenti bergerak.

Subhanallah, betapa mulianya junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Hayuuk generasi millenium, jadilah Panji panji Allah dengan menjadikan Rasulullah sebagai figur teladan, senantiasa bersholawat, yup, mengutip motto dari Sulis, cinta sholawat hingga tamat. Nantikan seri selanjutnya yaaa..............


Selasa, 10 Januari 2017

Menggali Nasehat Dalam Shalawat Gubahan Gus Dur




Okey, entah apa yang menggiring saya menuliskan ini, lagi pengin aja setelah dari kemarin asyik ngefiksi sama personal thought. Di label ini sedikit informatif, sedikit ya hahahaaa.....
BeTeWe, ada yang sudah pernah mendengar sholawat yang saya maksud yah. Itu lho, sholawat yang digubah Gus Dur pakai bahasa Jawa. Sebelumnya saya tuliskan dulu ya bagi yang masih bertanya-tanya, cekidot...

Ngawiti Ingsun, nglaras syiiran, kelawan muji maring pangeran
sing paring rahmat lan kenikmatan, rino wengine tanpa petungan
            Duh bolo konco, priyo wanito, aja mung ngaji syareat bloko
            Gur  pinter dongeng, nulis lan moco, Tembe mburine bakal sengsoro
Akeh kang apal, Quran Haditse, seneng ngafirke marang liyane
Kafire dhewe gak digatekke, yen isih kotor ati akale
            Gampang kabujuk, nafsu angkoro, ing pepaese gebyare dunyo
            Iri lan meri sugihe tonggo, mulo atine peteng lan nisto
Ayo sedulur jo nglaleake, wajibe ngaji lan sakpranatane
Ojo ngandelke iman tauhide, baguse sangu mulyo matine
            Kang aran sholeh, bagus atine, kerono mapan seri ngelmune
            Laku thoriqot lan makrifate, ugo hakekat manjing rasane
Alquran qodim wahyu minulyo, tanpa ditulis biso diwoco
Iku wejangan guru waskito, den tancepake ing jero dodo
            Kelawan Allah, kang Maha Suci, kudu rangkulan rino lan wengi
            Ditirakati diriyadhoi, dzikir lan suluk jo nganti lai
Uripe ayem rumongso aman, dununge rasa tondo yen iman
Sabar narima najan pas-pasan, kabeh tinakdir saking pangeran
            Kelawan konco dulur lan tonggo, kang podho rukun ojo ngasiyo
            Iku sunahe Rosul kan Mulyo, Nabi Muhammad panutan kito
Ayo nglakoni sakabehane, Allah kang bakal ngangkat drajate
Senajan asor toto dhohire, ananging mulyo maqom drajate
            Lamun palastro ing pungkasane, ora kesasar roh lan sukmane
            Den gadang Allah swargo manggone, utuh mayite ugo ulese

Wuihh, panjang juga syair nasehat ini. Ada yang kaget, wow, bahasa Jawa vrohhh.....kalau javanese sebagian besar paham ya. Karena menerjemahkan lagu barat sudah mainstream, saya mencoba mengejawantahkan (halah, bahasa apa ini) syair jawa saja. Bukan sukuisme Cuma memang yang dikuasai Cuma bahasa jawa doang selain bahasa Indo. E tapi, ini saya nggak terjemahin satu-satu lah ya, too much hohooo...
Markimul, mari kita mulai......
Pada bait pertama ditegaskan bahwa syair ini diawali dengan pujian kepada yang Maha Kuasa yang mana sudah memberi rahmat dan kenikmatan tanpa kenal waktu, siang ataupun malam.
Pada bait kedua, pak Kyai menasehatkan pada kita semua agar mengaji tak hanya sebatas “kulitnya/dasarnya” saja tapi juga sampai akar-akarnya. Tak hanya pintar menulis, membaca yang pada akhirnya malah kita kurang bahagia.
Pada bait ketiga, ini sebenarnya memberi kejelasan pada bait kedua. Mengaji tak hanya sebatas hafal Quran dan Hadis tapi juga dalam beretika. Jangan mentang-mentang pintar begitu, malah dengan mudahnya mengkafirkan orang lain. Sementara ia sendiri nggak berkaca, begitulah orang yang masih kotor hatinya.
Selanjutnya juga digambarkan generasi minus yang mudah terbuai nafsu dunia. Seperti iri, dengki terhadap tetangga yang disebabkan gelapnya hati.
GusDur juga mengingatkan untuk mengaji berikut cabang-cabangnya. Hal itu bagus sebagai sangu/bekal kita ketika dipanggil Sang Kuasa.
Pada bait ke-6, dikatakan bahwa keshalihan ditunjukkan dengan kebersihan hati. Akal dan perilaku yang bagus. Penataan hati yang sempurna.
Pada bait berikutnya, dikatakan bahwa AlQuran merupakan wahyu yang mulia, tancapkan dalam hati. AlQuran sebagai pedoman tak sekedar bacaan.
Allah adalah Maha Suci, begitulah dalam syair dituliskan. Oleh karena itu, jangan pernah dilupakan siang ataupun malam. Beliau juga mengingatkan agar jangan sampai lupa berdzikir.
Digambarkan bahwa tandanya iman itu dirasakan dengan tentramnya hidup, sabar meskipun toh ia hidup pas-pasan, semua sudah tertulis dalam suratan takdir. Beliau juga berpesan agar rukun dalam bertetangga, jangan mudah bertengkar.
Ditegaskan dalam syair bahwa Allah yang mengangkat derajat kita. Berbuat baiklah, hubungan vertikal dan horizontal harus sama baiknya agar surga kelak sebagai balasan.
In the bottom, hemm...overall, melalui syairnya, Gus Dur menasehatkan agar kehidupan kita selalu seimbang, tidak pincang. Quran Hadist yes, muamalah yesss.



           

Selasa, 10 Mei 2016

Hidden Message : Gundul Gundul Pacul



Image result for gambar pak tani

Yang mengenyam bahasa Jawa ngacung......yappp....pertama-tama, saya mau menyampaikan bahwa postingan ini bukan sukuisme ataupun rasis ya. Ini lebih karena saya merasa orang Jawa dan menyajikan ilmu yang, ehm...barangkali belum pernah terdengar, jiahhh....kemarin-kemarin, saya pernah menuliskan makna tembang-tembang Jawa seperti Lir-Ilir ,see here dan Sluku-Sluku Bathok see here.

Tak jauh dari yang kemarin, lagi-lagi saya hendak menuliskan makna dari salah satu tembang Jawa. Kebanyakan dari kita mengenal tembang tersebut tapi belum tentu mengetahui artinya. Apalagi zaman sekarang, anak kecil di desa saja sudah fasih bahasa Indonesia sedangkan bahasa Jawa sendiri agak terbata-bata. Dulu di bawah asuhan simbah, kita didendangkan dengan bermacam lagu dolanan, sedangkan kini anak-anak lebih hafal lagu dewasa, oahemmm...

Okelah, tanpa basa-basi lagi, kali ini saya menyajikan lagu Gundul Gundul Pacul. Ada yang masih ingat dengan tembang dolanan itu?( jiahhh.....jebakan umur nih). Lagu yang digubah oleh Sunan Kalijaga ini memang sarat dengan pesan, terutama pesan untuk pemimpin. Lupa-lupa ingat? Yang begini nih liriknya:

Gundul Gundul Pacul cul, Gembelengan
Nyunggi-Nyunggi wakul kul, Petentengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar

Kok sedikit ya? Lhooo....jangan salah nih.....sedikit itu biar mudah dihafal, yang penting maknanya. Kita bahas satu-satu yukkk......

Gundul disini diibaratkan pemimpin. Ya...pemimpin merupakan kepala. Pacul adalah lambang petani, wong cilik. Di sini diharapkan kalau menjadi pemimpin, tetaplah merendah sebagaimana wong cilik, tidak semena-mena. Bagaimana dengan kata gembelengan? Gembelengan itu kalau dalam bahasa Jawa artinya seenaknya, menyepelekan.

pada baris kedua, ada kata nyunggi yang artinya memanggul, membawa diatas kepala. Wakul artinya adalah tempat nasi. Wakul disini diibaratkan amanah banyak orang yang tujuan intinya adalah menyejahterakan rakyat. Petentengan itu seperti gembelengan, pecicilan, kebanyakan tingkah.

Nah, kalau kita membawa sesuatu di atas kepala tapi ceroboh, tidak hati hati, jatuhlah apa yang dibawa. Itu disampaikan pada bait wakul ngglimpang. Amanahnya bercececeran, kesejahteraan jauh api dari panggang.

Lagu sederhana yang kaya makna. Intinya, lagu ini mengajarkan kepada kita, khususnya pemimpin. Pemimpin hendaknya tetap rendah hati dan tidak sombong. Selain itu, hati-hati karena ia memegang amanah banyak orang. Kalau berbuat seenaknya, semuanya jadi berantakan, rakyat jadi korban.
Ternyata lagu bukan sekedar lagu yaaahh ( idih, penutupnya nggakk banget )

Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...