Selasa, 16 Juli 2019

Karena Tak Ada Ilmu yang Sia-Sia


“Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain”

Simbah Nelson Mandela pernah berkata bahwa “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Iya, memang betul, bahwa pendidikan, luasnya pengetahuan bisa mempengaruhi taraf hidup. Beragam ungkapan untuk motivasi menuntut ilmu bertebaran. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa setelah terjadi pengeboman di Jepang, pertanyaan yang terlontar dari kaisar Hirohito adalah berapa jumlah guru yang tersisa.

Ada pepatah menyebutkan “tak ada ilmu yang sia-sia”. Selagi waktu dan usia masih ada, why not? Ilmu agama sangat penting, sebagai bekal kita di akherat, tapi Allah tak pernah melarang untuk mempelajari ilmu yang lain ( eee....tapi bukan ilmu sihir ya, dosa, itu musyrik).

Jadi sangat disayangkan, beberapa waktu yang lalu penulis pernah membaca seperti ini “ jangan sampai anak lebih lancar bahasa Inggris ketimbang bahasa Arab.” Eh, ada lagi orang, padahal guru, beliau bilang “ tar kan di akherat pertanyaannya pake bahasa Arab, bukan bahasa Inggris.”

Marilah tengok sejarah. Bahkan orang Islam dulu pun belajar berbagai ilmu. Ibnu Sina, Al Farabi, Al Biruni, Al Khawarizmi. Siapa itu mereka bu? Ya, mereka adalah ahli kedokteran, musik, Astronomi, matematika dan ilmu lain yang berkaitan. See, Kita sudah dicontohkan para pendahulu kita untuk belajar banyak. Apa ini melupakan ukhrowi? Ah, tentu saja tidak. Dengan keluasan ilmu yang dimiliki, justru harusnya mempertebal iman. Bukankah salah satu cara mengakui dan mengagumi keagungan Yang Maha Kuasa adalah dengan mempelajari semesta? Kalau Nabi Muhammad tak pandai ilmu matematika, mana mungkin ia bisa jadi pedagang yang erat dengan hitung-hitungan? Dengan kemampuan berbahasa Inggris, Ahmad Deedat dan Zakir Naik berdakwah, mengislamkan banyak orang dengan bahasa Inggris.

Dengan lebih mementingkan ilmu dan menjelekkan ilmu yang lain, dampaknya nggak baik lho buat pembelajar cilik. Mereka bisa jadi enggan belajar cabang ilmu yang lain. Gairah ke-ingintahuannya bisa runtuh seketika (halaah, ini lebay). Bukankah Allah mengangkat derajat orang yang berilmu? Teringat teman saya yang umroh, beserta rombongan dan segala perlengkapannya. Nah orang Arab bilang “ Lift, lift”, maksudnya deket situ ada lift, biar cepet. Eh, teman saya ini nangkapnya “leave” suruh pergi. Jadi, tiap kali disuruh naik lift, dia malah kabur, takut diusir, hahahaaa.......(garing yaa).

 Jadi sodara-sodara, kalau ada yang bilang “nggak usah belajar bahasa asing, toh, nanti di akherat pertanyaannya pake bahasa Arab”, dijawab aja sekalian : “ Berarti nggak usah belajar matematika, fisika, IPS  dan segala ilmu duniawi. Toh nanti nggak ditanya rumus segitiga dan ibukota Argentina”

Senin, 10 Desember 2018

Simple Ideas for English Games

Background of the study

       Learning process is sometimes boring. Therefore, teacher needs to refresh the students so that they can enjoy the class for example by doing games or challenges. Fun activity can be simply done, just by paper, board or marker. In this writing, the writer only provide old, simple games which doesn’t need more property.
        Here, the writer provides some games which is usually applied in her classroom
          1. PANTOMYME CHALLENGE
        This challenge mostly related to verbal learning. Here, the teacher must provide small scrolling paper which written verbal words such as run, sing, drink, fly and so on.  
           First, choose one of student to take a scrolling paper and act is written on the paper. Then, other  students have to guess about the activity that has been shown. Both, the actor and guesser get reward. For the next, the actor has right to choose other student to be the actor.
         2. GUESSING PICTURE
            Here, the teacher needs to provide picture just like flash cards. It is very easy and simple. To make it challenging, the picture may a bit harder. The teacher may give clue by describing the picture.
           3. ANAGRAM
          This game can be done in a group. The teacher will write words and the group should make new word from those letters, yes, just use alphabet that given by teacher. The students will write on board one by one.
            Then, at last, the teacher counts how many words they make. For more challenging, the teacher must limit the time. Those who doesn’t have turn to write, must sit down nicely.
      
       4. TAILED WORDS
            This make the students to write on the whiteboard. They make new word from the last letter, so , it is done spontaneously. Again, the teacher must limit the time and rules : no less than three alphabet ( So, noone will write “no, in, at, he, up etc”.)If the students can’t write a new word in certain time, make consequence such as put sticker on cheek hahahaa...
            Class---Sword---Duck---Key---Yesterday


        5. Whisper Challenge
            Okey, surely, this challenge will test your listening skill. The teacher will make a group of students. One of students must go to the teacher and read the sentences given by the teacher. Then, the student will whisper to his group.The last student will write the sentences given.
 Example of sentences:
 The mosquito make me mad every night
 My brother buy big book in bookstore
 My sister play sand at the sea every Sunday
      6.  Simon says
            It is a common game. This game is actually to test students’concentration and recognition of noun. However, it can be simplified such as part’s of body.
 First, give instruction to the students “ Do my instruction it started with the words Simon Says”.
 Then, the teacher will give instruction whether started by Simon Says or not.
 For those who break the rules, the teacher can make consequences such as by giving simple question.
 cONCLUSION
      There are many ways to attract the students’ interest by creating games. To make them in line with our learning, we need to create games which has relation to our study

Senin, 29 Oktober 2018

Alergi Hasil Evaluasi



“Miss, nilai Aci kok jelek ya?”
“ Ini bunda, bisa cek hasil pekerjaan Aci ya.”

“ Miss, ini bener nilai Uci segini.?”
“Iya miss, sudah diotak-atik nih, gimana lagi ya”

Salah satu tugas pokok guru adalah memberi nilai, mulai dari nilai harian, ulangan hingga raport. Tentu saja, penilaian itu harus sesuai dengan materi yang telah diajarkan. Ya begitulah, materi dan evaluasi adalah satu paket.

Lagi-lagi, karena beda zaman, beda kebijakan, pendidikan jadi seperti horror, entah bagi siswa maupun pendidiknya. Pada dekade terakhir, populer dengan istilah KKM. Apabila ada nilai di bawah KKM, maka dianggap aib. Dokumen hitam di atas putih yang berwujud deretan angka juga menjadi kebanggaan sendiri bagi orang tua. Dokumen itu pula sebagai pendukung marketing, dengan bagusnya nilai, berarti proses pendidikan luar biasa tak peduli betapa kerasnya pertarungan di dapur raportan.

Sebenarnya esensi pendidikan itu apa si? Begitu banyak meme ataupun anekdot yang meniyindir. Mulai dari fabel yang mengajar semua jenis hewan untuk terbang hingga anekdot guru matematika pun belum tentu bisa mengerjakan soal bahasa Arab.

Ya memang, belakangan ini. sekolah memang jadi ladang bisnis. Meskipun sifatnya seperti penyediaan jasa, tetap saja berbeda dengan lini bisnis lainnya. Objek dari sekolah adalah para manusia dengan segala karakternya. Tak hanya itu, kita menawarkan proses transfer ilmu dan itu tak hanya sehari dua hari seperti orang seminar, tapi enam tahun pemirsa, kalau cepat ya tiga tahun, pada jenjang lebih tinggi. Dalam kurun waktu tersebut, para pendidik berjibaku dalam “melayani “ customer dalam membagi ilmu, menata pola pikir dan perilaku.

Jujur saja, masih banyak yang beranggapan bahwa proses “penggodogan” yang berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun itu, bermuara pada sertifikat dengan daftar angka. Di sinilah kualitas guru dan sekolah dipertaruhkan. Dengan perolehan nilai yang bagus, maka di mata masyarakat akan di cap “ bagus “. Memang, tak bisa dipungkiri juga, bahwa kualitas input juga ikut andil dalam proses ini. Input dengan latar belakang yang bagus, ya memang sudah bagus dari sononya, gampang dipoles, tentu akan meningkatkan kualitas sebuah institusi pembelajaran.

Apabila input bersifat heterogen, dengan kemampuan yang berbeda, mungkin tingkat pencapaiannya bisa jadi berbeda. Seperti pada anekdot sekolah hewan yang diceritakan sebelumnya. Dengan usaha yang sama-sama berdarah-darahnya, anak yang “berbakat” matematika akan mudah mendapat nilai tuntas daripada anak yang lebih menyukai drama. Intinya, standarisasi nilai yang tinggi itu terlalu memaksa untuk kelas dengan passion, minat dan bakat yang beragam.

Pada akhirnya, angka-angka sebagai hasil evaluasi itupun keluar. Sebuah kegembiraan bagi murid dan juga guru apabila nilai di atas batas ketuntasan. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, maka merupakan PR tersendiri bagi guru khususnya. Perasaan bersalah sudah tentu menghantui, apakah saya tidak bisa mengajar? Apakah tes ini terlalu sulit? Sementara memojokkan siswa tentu bukan suatu pilihan. Tak pandang bulu, apakah siswa itu memang sedang malas, sakit, ada masalah atau kemampuan pemahamannya memang kurang, pokoknya nilai harus standar ketuntasan. Serentetan tugas pun menggelayut agar nilai merangkak...sim salabim bim......tak seperti jaman saya yang mengenal “kebakaran” di raportnya hahaaa.....

However, kabar baiknya.... nilai yang berupa angka itu bisa dikatrol dengan sikap positif dari siswa tersebut. Ayolah, cari titik positif dari kepribadiannya,Insya Allah ada jalan.
Dan satu pertanyaan sebagai pamungkas dari tulisan ini ; dengan passion siswa yang beragam, soal yang sama, ketuntasan yang sama....siswa dituntut untuk jujur dalam mengerjakan tapi sudahkah guru jujur dalam memberikan nilai??? Aaah......alergi kini tak hanya karena makanan ataupun situasi, kini mulai merambah ke nilai evaluasi hahahaaa......


Senin, 24 September 2018

Menetralkan tensi, Gemilang Prestasi


“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”

Ya , hadist di atas menggambarkan betapa luasnya samudra ilmu dan pentingnya belajar. Bukankah kelak derajat kita ditinggikan oleh Allah apabila kita berilmu.

Pun, kita sebagai guru, selain memberi ilmu, hendaknya juga senantiasa mengup-grade pengetahuan kita ( ini bahasa sudah kelihatan intelek belum nih). Yang namanya ilmu pengetahuan itu makin hari makin berkembang, nggak mau juga kan kita dibilang kuper. Contohnya saja, yang dekat dengan dunia pendidikan deh, kurikulum saja berkembang ( atau lebih tepat berganti ya hahhaa....). Bisa jadi begitu kita keluar dari kampus, ternyata kurikulum yang dipakai berbeda, yes..yess..yes....

Tak hanya cukup sekali. hampir di tiap tahun para pendidik diberikan pelatihan kurikulum sepaket dengan administrasinya, itupun kadang tak cukup sekali, dari sumber yang berbeda pula. Pusing? Enggak kok, cuma jadwal piknik kemungkinan nambah hahahaa......

Atau, sebagai alternatif untuk menetralkankan suhu, bisa dipilih dengan pelatihan training yang lain, yang nggak terlalu redaksional, yang tidak njlimet dengan segala berkas seperti kala bimbingan skripsi itu. Yang simpel, tapi ya cukup bermanfaat seperti berikut ini :

    Desain

Hahahaaa....bagi pemilik kecerdasan visual, ini lebih menantang. Kita bisa bermain dengan warna dan gambar. Untuk apa si pelatihan desain? Ya, bagi sekolah yang punya banyak kegiatan seperti sekolah tetangga, kan hampir selalu membuat banner, backdrop atau baliho sekalian. Nah, dengan ketrampilan desain ini, kita bisa unjuk gigi bahwa banner itu bukan monopoli guru seni atau ICT misalnya heheheee......Kan itung-itung mengurangi jasa desain ke percetakan juga. Selain itu, bisa jadi usaha sampingan atau pokok ( kalau sudah tidak ngajar lagi hehehee). Coba, mana yang lebih sering, jasa membuat RPP atau mendesain...hahahaaa.....

   Public Speaking

Beberapa pendidik kadang kurang pede untuk tampil di depan public kecuali siswanya sendiri ( ini saya ding). Tak jarang mengalami demam panggung, keseleo lidah hingga speechless ( sekali lagi, itu menunjuk ke saya hahaaaa). Tentu saja, ini mengurangi performa guru. Apalagi kaum pendidik yang identik dengan segala workshop, seminar dan lain-lain. Itu nilai lebih lho. Berbagai kompetisi selalu berujung pada sebuah presentasi kan...huhuuu........melambaikan tangan......Kalau public speakingnya bagus, ladang kan bisa makin luas, jadi motivator misalnya...ngek-ngok.......

   Menulis/jurnalistik

Nah, ini ni, kata Al Ghozali ( Ulama mas dan mbak, bukan anaknya Dani Maia) “ Kalau kamu bukan siapa-siapa, maka menulislah”. Ya iya, apalagi menulis dibukukan dan laris manis di pasaran, kita mati pun masih dikenang. Yang tadinya Cuma remah rengginang bisa jadi raincake atau brownies Amanda...hahahaha....Apalagi yang namanya pendidik itu kan memang akrab dengan kertas dan pena.

     Berkreasi dalam membuat APE

Nah, ini cucok untuk teman-teman yang cepat bosan dengan kertas dan tulisan. Dengan modal seperti triplek, board, foam atau apalah itu yang bisa untuk alat peraga sederhana. Memang cukup menguras tenaga sih, tapi kan nggak sia-sia juga. Belajar untuk terampil bareng-bareng, siapa tahu bisa jadi pengisi waktu kelak di masa pensiun nanti, bisa membuatkan sesuatu untuk anak cucu nanti.

Humm......Cuma segitu doang? Sebenarnya banyak si, untuk menumbuhkan kecintaan baru, yang ringan-ringan saja seperti knitting, origami ( ini penting nggak sih), bikin kue ( siapa tahu dapat pesanan), tapi itu kan kayaknya sexist yak, cenderung ke female. Atau, mau yang berat dan manly, laki gitu seperti tambal ban, servis tipi, atau servis AC biar kalau error nggak perlu panggil teknisi lagi, lama dan nguras duit hahahaaa......Anyway, itu Cuma ide untuk memperkaya ilmu dan biar nggak terlalu sepanneng, yang penting tupoksinya jalan, Insya Allah.....sik penting yakin 





Kamis, 20 September 2018

Insta: Mengabadikan tak berarti menyebarluaskan


“ Ouh My Gosh.....ternyata dia udah jadian “
“ Errr....tahu dari mana?”
“ Instagram dia.......” Njedhugin kepala ke tembok.

“ Huhuhu...hang out nggak ngajak-ngajak, udah nggak mau jadi temen aku?”
“ Kok tahu?”
“ Ya tahulah, enoh si X post di instastory....?” Ngeloyor, ngegrundel muka asem.

“ Kamu.....Veronica?”
“ Iya, emang kenapa?”
“ Eh, enggak, Cuma.....kok beda dengan yang di foto biasa ya..., “
“ Ah , masa sih, editannya nggak banyak kok”
“Makanya, punya muka dirawat, bukan diedit” ....lelaki itu pun pergi dengan rasa kecewa.

Ya.....begitulah, riset terkini membuktikan bahwa Instagram adalah media sosial paling tidak sehat. Dibalik kata-kata indah “gambar punya berjuta cerita”, ada sisi suram, apalagi orang dengan self-control yang rendah.

Instagram, suatu media sosial yang mengedepankan tentang gambar yang kini laris manis di kalangan muda maupun tua. Bukankah pandangan mata itu selalu lebih menarik, pemilik kecerdasan visual sepertinya lebih banyak daripada yang audio hahaa.....maka dari itu, penikmat pun berlomba-lomba agar terlihat menawan. Berbagai foto selfie yang bisa jadi harus taken berkali-kali untuk bisa diposting, menambahkan ritual memfoto makanan sebelum dimakan ( entah pakai doa atau tidak), atau merekam segala kejadian yang bagi empunya sendiri begitu mengesankan dan menoreh memori.

Kemunculan instagram pun ternyata membawa sejumlah masalah kejiwaan bagi mereka yang lemah syahwat, eh, maksudnya lemah iman. Memang, ia tak langsung membuat manusia berdarah-darah tapi lebih menyerang ke kesehatan mental. Alih-alih menuai pujian dari gambar yang dishare, malah dapatnya bullyian dari para haters. Emang ada mak? Ya adalah, maha benar netizen gitu lho.

Beberapa riset menyebutkan efek terlalu mencintai media sosial ini mulai dari narsistik hingga lupa waktu, depresi, tekanan mental karena perbedaan level ; si A yang travelling kesana kemari, si B yang mengenakan produk branded, sampai dengan Body Dysmorphic Disorder. Apaan si itu yang terakhir??? Ya intinya si sesorang yang berfikiran bahwa ada yang salah dengan tubuhnya, kurang sempurna, kurang tinggi, kurang langsing and nde brew and nde brew.

Bagi pengguna cerdas, instagram bisa menjadi lahan mengais rejeki, seperti jualan barang atau sekedar menerima endorse, bintang iklan dunia maya ( ya ujung-ujungnya jualan juga siyyy).

Ya, memang, setiap hal yang berlebihan itu tidak baik. Beware and be wise dalam menggunakan media sosial. Tidak semua yang kita punya harus dishare. Mengabadikan tak berarti harus menyebarluaskan. Apalagi menyebarluaskan yang masih di awang-awang, abu-abu, fana....contohnya, seperti liburan dengan pacar, hahaaaa........jejak digital itu bisa jadi menyakitkan jenderal!!!

Medsos-medsos gue......hahahaaa....memang betul sih, semua orang bebas mengekspresikan segala hal di medsos masing-masing. Yah, semoga bukan tergolong narsistik yang segalanya harus diposting. Kadang ada suatu masa dimana momen indah itu cukup dikenang dengan orang yang terlibat saja.

Pintar-pintarlah juga dalam menjaga hati dan cerdas dalam mengelola hati, ea.....yang terakhir itu adalah kata lain dari baper. Jagalah kesehatan mentalmu dengan banyak membaca firmanNya, bukan dengan ngulik instagram olshop, selebgram apalagi mantan.  





                                                                                                                     

Senin, 13 Agustus 2018

Karena Kemerdekaan itu dekat dengan pengorbanan


Bulan Agustus telah tiba. Beragam pernak-pernik bernuansa merah putih menyeruak di sudut-sudut kota. Kidung nasionalisme berkumandang memuji tanah air dan pahlawan. Semuanya menyambut gempita kemerdekaan mulai dengan ziarah makam pahlawan, upacara bendera hingga sejumlah perlombaan yang mengundang tawa.

Masyarakat terpelajar pun larut dalam diskusi tentang cara mengisi kemerdekaan, memajukan bangsa hingga nasib akhir hayat pembela bangsa. Segala haru tatkala mendengarkan kumandang lagu kebangsaan, menyaksikan veteran yang tegak hormat saat upacara dan semangat adik-adik paskibra dalam mengibarkan sang Saka.

Memang, kemerdekaan adalah salah satu hal yang patut kita syukuri apalagi dengan melihat bagaimana usaha para pendahulu  kita dalam memperjuangkannya. Ditambah lagi dengan segala cerita tentang tragisnya kehidupan di masa penjajahan. Sungguh, kemerdekaan adalah hadiah terindah setelah sekian ratus tahun tertindas.

Di bulan Agustus tahun 2018  ini, ternyata tak hanya menyambut hari kemerdekaan. Khususnya umat Islam, mereka juga menyambut Hari Raya Idul Adha atau yang lebih populer dengan sebutan hari Raya Kurban. Mungkinkah ada maksud tersembunyi dengan menakdirkan hari kemerdekaan beriringan hari Raya Kurban, entahlah. Yang jelas, keduanya memiliki persamaan. Semuanya tentang ketaatan, ketaatan terhadap pemimpin, ketaatan terhadap Allah dan Rasulnya. Ya, ketaatan dengan pemimpin yang mencita-citakan kemerdekaan yang dilandasi keyakinan serta manisnya iman membuat rakyat rela berkorban demi merebut kemerdekan. Coba kalau tidak taat , mending jadi jongos penjajah, kalau tidak yakin, tidak usah ikut-ikutan berjuang kalau akhirnya hanya mati bersimbah darah. Pun dengan ketaatan dan keimanan seorang Ibrahim dan Ismail yang diuji dengan sebilah pisau yang mana di akhir riwayat diganti dengan kambing. Kalau mereka tidak beriman, ayah mana yang tega menyembelih anaknya sendiri, begitu juga dengan Ismail, pasti sudah kabur lebih dulu.

Yah, betul, akan selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang indah. Mungkin saja di momen ini, kita diprogram untuk mengingat pengorbanan. Bukan tentang mengungkit jasa yang berbuah kesombongan, tapi penghargaan atas pengorbanan. Berbagai cerita veteran para pejuang kemerdekaan yang lebih berurai air mata daripada gelak tawa. Mereka yang konon berjuang di masa muda tapi terlunta-lunta di hari tua. Ah, bukankah bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan? Pahlawan pun kini tak hanya didefinisikan mereka yang angkat senjata. Marilah tengok diri masing-masing, sudahkah menghargai para TKI sebagai pahlawan devisa, menghargai para guru sebagai pahlawan ilmu, petani sebagai pejuang nasi dan lain sebagainya?

Semoga di momen ini, memang sesungguh-sungguhnya kemerdekaan yang kita rayakan. Merdeka dari segala belenggu, merdeka yang bertanggungjawab, merdeka dengan masih memperhatikan nilai dan norma yang ada. Begitu pula dengan hari Raya Kurban, semoga semakin meningkat iman dan Islamnya, saling peduli, saling berbagi dan saling menghargai. Yah, memang, sesungguhnya, kemerdekaan itu dekat dengan pengorbanan.

Kamis, 02 Agustus 2018

Ketika Merasa Asing di Tempat yang Lama



“Huhuhuuuu.....kenapa pada resign......,aku kan belum tahu ngapain kalau resign, mana tanggungan banyak...”
 ( Nggak perlu ditangisi keuleusss)

Membuka lembaran baru setelah liburan berlalu. Yah, yang namanya hidup mah, emang kadang manis kadang pahit, asem kecut, kadang bisa bareng, kadang sendiri-sendiri, ada yang tetap bertahan, ada yang mengundurkan diri. Nggak penting sih mencibir kenapa stay ato kenapa left, cukup saling menghargai dan jaga silaturrahmi saja si sebenarnya.

Tak jarang seorang individu memilih untuk bertahan karena beberapa alasan, sementara sebagian besar memilih untuk berhenti ( itu siapa yahhh hahahaaaa). Rasanya biasa saja ketika masih dalam suasana libur, however, ketika romansa kerja di depan mata, saatnya back to rutinity, kok ada something different gitu ya. Merasa jadi orang baru, bukan karena kita newcomer tapi justru kita yang old member dan mager. New people are hired while the previous are out. Masih “meraba”  orang baru, eh, maksudnya mengenal orang yang baru. Ya kali kalau mahasiswa mah kita OSPEK, kalau di dunia gawe mah, jaim dong hahhaaaa....

Okey lah, sedikit trik untuk membetahkan diri di lingkungan yang sebenarnya kita adalah yang mbaurekso, hohoho.......stay calm beib....;

·          Banyak membaca atau menulis di laptop.
Kegiatan apalagi coba, demi menjaga maruah diri, menahan bicara, menghindari  keceplosan, rubbish talk dan sebagainya. Dengan membaca setidaknya kita lebih tampak intelek daripada Cuma update status, main tik-tok apalagi tidur. Nah, serangkai dengan membaca, menulis tampaknya bisa jadi pilihan. Entah itu di diari, document atau meramaikan wattpad.Yah sesekali, tengok kiri-kanan, lamat-lamat mendengarkan esensi obrolan mereka, dipikir-pikir, connect nggak dengan isi otak kita wakakaaaakaa.....
·         Menawarkan bersantap bareng
Wah, ini ini, sebagai orang yang dianggap lebih tua, eh lama, nggak ada salahnya menawarkan keripik atau biskuit sebagai teman nge-teh. Percayalah, hal itu tidak akan sia-sia. Bukankah kodratnya itu yang tua menyayangi yang muda dan yang muda respect kepada yang lebih tua...hahahaaaa......
·         Berbicara seperlunya
Maksudnya di sini adalah menghindari yang namanya overacting. Tidak terlalu lebay berbicara dan hindari topik-topik sensitif seperti rekan kerja, atasan maupun yayasan, eh....Bisa jadi kita itu malah dicap sebagai racun, kompor, provokator, aligator, kondensator dan sebagainya. Lebih amannya mah bahas acara semalam seperti The Comment, Show Karma atau sitkom-sitkom yang lain yang lebih layak dibincangkan.
·         Ringan tangan
Ya, sebagai tetua di tempat kerja, adalah tabu dengan jawaban tidak tahu. Mnecoba untuk membantu kan nilai plus, tabungan amal dan image diri yang positif. Kalau ada rekan yang bertanya, minta tolong, responlah dengan sebaik mungkin.
·         Jaga kekompakan
Entah dia orang baru, orang lama, yang jelas kalian sudah jadi team. Tak peduli senior, yunior, tua, muda, single atau double, yang penting tetap kompak, saling tolong-menolong, saling support. Yah, yang namanya bekerja di dalam kapal yang sama, kan bisa oleng kalau bocor didiamkan saja ( eh, ini ngomong apa coba hahaaa....)

Anyway....hidup itu dinamis, atas bawah, cepat lambat, datang dan pergi. Emosi negatif seperti dengki iri, pelit, julid( eh, ini bukan ya) itu Cuma mengikis nilai kita entah dimata sesama maupun sang Pencipta. Selow boss, let it flows, bercanda hayuk, baper jangan, prestasi yes oke.  Keep up the good work ( ini nasehat buat aku sendiri sih). Eh, kira-kira ada yang yang mau menambahkan trik di atas ga?







Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...