Tampilkan postingan dengan label absurd. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label absurd. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Oktober 2019

Berbahasa Karena Biasa



"Tidak ada orang pesimis yang pernah menemukan rahasia dari bintang atau berlayar ke pulau baru atau membuka jalan keluar baru bagi jiwa manusia"
(Hellen Keller )
Di salah satu tulisanku yang sebelumnya, ada yang bertemakan “Tak ada ilmu yang sia-sia”. Iye kan ya?  Terus apa hubungannya dengan tulisan yang bakal muncul? Ya, nggak terlalu berkaitan sih, Cuma mengingatkan saja, sudah baca atau belum hahaaaaa....(tertawa jahat).

Ya, masih sedikit-sedikit nyrempet lah ya, yaitu masih tentang belajar. Ya, belajar itu katanya yang lebih afdol itu dengan praktek, tak melulu teori.  Contohnya, belajar masak itu ya ke dapur dengan bahan dan alat, nggak Cuma di buku resep. Belajar komputer itu ya dengan perangkatnya sekalian, nggak Cuma sebatas buku tutorial. Pun sama dengan belajar bahasa, itu dengan ngomong, nggak hanya catatan. Dan memang, karena produk dalam bahasa itu berbicara, ya, tentu saja memerlukan kerjasama. Pliss deh, bahasa, berkomunikasi, itu pada umumnya butuh lawan bicara, kalau monolog itu Cuma di panggung, awokwoooooowwwkk.

Apalagi kalau yang dipelajari itu bahasa asing, bukan bahasa yang sering dituturkan. Tentu lebih butuh effort lebih banyak. Ada yang bilang, language is a habit. Maksudnya ya bisa karena terbiasa. Kenapa anak bule itu lancar sekali ngomong bahasa Inggrisnya? Lha wong tiap hari ngomong Inggris kan ya, begitu juga dengan bahasa lainnya.

Lhah, terus, mungkin nggak ya, belajar bahasa asing? Ya, mungkin-mungkin saja, yang pertama dan utama itu adalah niat. Kemudian dengan menciptakan atmosfer yang baik. Yang dimaksudkan di sini adalah dengan menyamakan niat, membakar semangat. Kalau ada yang mau belajar tapi yang lain mengabaikan, bisa kacau dong. Bahasa itu komunikasi, tidak hanya disimpan dalam catatan. Kalau kita udah yes, cas-cis-cus dengan bahasa asing sementara lawan bicaranya nggak respon, kan tengsin, hahahaa.....Kalau semua merespon dengan baik, ada yang semangat belajar, ada yang jadi role model, itu lebih cepat penyerapannya. Anak-anak artis bisa bicara bahasa asing, Inggris contohnya, pasti di rumah juga dibiasakan untuk itu, dan disekolahkan di lingkungan dengan bahasa Inggris aktif khan. Mbak Nikita Mirzani saja pernah bercakap dengan bahasa campuran dengan anaknya lho, hahaaahaaa...

Nah, setelah mempunyai niat yang lurus, teguhkan komitmen ya. Contohnya ; ada English Day, Arabic Day, English Area de el el, ya harus harus sama sama support. Support bukan Cuma doa ya, tapi tindakan. Inget ya, Allah bisa karena biasa. Belanda itu pergi dari bumi Indonesia karena doa yang dibarengi dengan angkat senjata, halaahhh.....

Sebagai rakyat jelata tapi bukan jelita, tak ada salahnya untuk belajar, lagi-lagi dan lagi. Siapa tahu kita dapat voucher ke Singapore atau Australia misalnya. Ya terima-terima saja kalau orang luar negeri tidak fasih berbahasa Indonesia wong Bahasa Indonesia memang belum jadi Bahasa Internasional. Tapi nggak tahulah tahun depan, ya kali Bahasa Indonesia bisa mengudara di seluruh dunia berawal dari perpres wajib pidato di forum internasional dengan bahasa Indonesia.

Senin, 29 Oktober 2018

Alergi Hasil Evaluasi



“Miss, nilai Aci kok jelek ya?”
“ Ini bunda, bisa cek hasil pekerjaan Aci ya.”

“ Miss, ini bener nilai Uci segini.?”
“Iya miss, sudah diotak-atik nih, gimana lagi ya”

Salah satu tugas pokok guru adalah memberi nilai, mulai dari nilai harian, ulangan hingga raport. Tentu saja, penilaian itu harus sesuai dengan materi yang telah diajarkan. Ya begitulah, materi dan evaluasi adalah satu paket.

Lagi-lagi, karena beda zaman, beda kebijakan, pendidikan jadi seperti horror, entah bagi siswa maupun pendidiknya. Pada dekade terakhir, populer dengan istilah KKM. Apabila ada nilai di bawah KKM, maka dianggap aib. Dokumen hitam di atas putih yang berwujud deretan angka juga menjadi kebanggaan sendiri bagi orang tua. Dokumen itu pula sebagai pendukung marketing, dengan bagusnya nilai, berarti proses pendidikan luar biasa tak peduli betapa kerasnya pertarungan di dapur raportan.

Sebenarnya esensi pendidikan itu apa si? Begitu banyak meme ataupun anekdot yang meniyindir. Mulai dari fabel yang mengajar semua jenis hewan untuk terbang hingga anekdot guru matematika pun belum tentu bisa mengerjakan soal bahasa Arab.

Ya memang, belakangan ini. sekolah memang jadi ladang bisnis. Meskipun sifatnya seperti penyediaan jasa, tetap saja berbeda dengan lini bisnis lainnya. Objek dari sekolah adalah para manusia dengan segala karakternya. Tak hanya itu, kita menawarkan proses transfer ilmu dan itu tak hanya sehari dua hari seperti orang seminar, tapi enam tahun pemirsa, kalau cepat ya tiga tahun, pada jenjang lebih tinggi. Dalam kurun waktu tersebut, para pendidik berjibaku dalam “melayani “ customer dalam membagi ilmu, menata pola pikir dan perilaku.

Jujur saja, masih banyak yang beranggapan bahwa proses “penggodogan” yang berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun itu, bermuara pada sertifikat dengan daftar angka. Di sinilah kualitas guru dan sekolah dipertaruhkan. Dengan perolehan nilai yang bagus, maka di mata masyarakat akan di cap “ bagus “. Memang, tak bisa dipungkiri juga, bahwa kualitas input juga ikut andil dalam proses ini. Input dengan latar belakang yang bagus, ya memang sudah bagus dari sononya, gampang dipoles, tentu akan meningkatkan kualitas sebuah institusi pembelajaran.

Apabila input bersifat heterogen, dengan kemampuan yang berbeda, mungkin tingkat pencapaiannya bisa jadi berbeda. Seperti pada anekdot sekolah hewan yang diceritakan sebelumnya. Dengan usaha yang sama-sama berdarah-darahnya, anak yang “berbakat” matematika akan mudah mendapat nilai tuntas daripada anak yang lebih menyukai drama. Intinya, standarisasi nilai yang tinggi itu terlalu memaksa untuk kelas dengan passion, minat dan bakat yang beragam.

Pada akhirnya, angka-angka sebagai hasil evaluasi itupun keluar. Sebuah kegembiraan bagi murid dan juga guru apabila nilai di atas batas ketuntasan. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, maka merupakan PR tersendiri bagi guru khususnya. Perasaan bersalah sudah tentu menghantui, apakah saya tidak bisa mengajar? Apakah tes ini terlalu sulit? Sementara memojokkan siswa tentu bukan suatu pilihan. Tak pandang bulu, apakah siswa itu memang sedang malas, sakit, ada masalah atau kemampuan pemahamannya memang kurang, pokoknya nilai harus standar ketuntasan. Serentetan tugas pun menggelayut agar nilai merangkak...sim salabim bim......tak seperti jaman saya yang mengenal “kebakaran” di raportnya hahaaa.....

However, kabar baiknya.... nilai yang berupa angka itu bisa dikatrol dengan sikap positif dari siswa tersebut. Ayolah, cari titik positif dari kepribadiannya,Insya Allah ada jalan.
Dan satu pertanyaan sebagai pamungkas dari tulisan ini ; dengan passion siswa yang beragam, soal yang sama, ketuntasan yang sama....siswa dituntut untuk jujur dalam mengerjakan tapi sudahkah guru jujur dalam memberikan nilai??? Aaah......alergi kini tak hanya karena makanan ataupun situasi, kini mulai merambah ke nilai evaluasi hahahaaa......


Senin, 24 September 2018

Menetralkan tensi, Gemilang Prestasi


“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”

Ya , hadist di atas menggambarkan betapa luasnya samudra ilmu dan pentingnya belajar. Bukankah kelak derajat kita ditinggikan oleh Allah apabila kita berilmu.

Pun, kita sebagai guru, selain memberi ilmu, hendaknya juga senantiasa mengup-grade pengetahuan kita ( ini bahasa sudah kelihatan intelek belum nih). Yang namanya ilmu pengetahuan itu makin hari makin berkembang, nggak mau juga kan kita dibilang kuper. Contohnya saja, yang dekat dengan dunia pendidikan deh, kurikulum saja berkembang ( atau lebih tepat berganti ya hahhaa....). Bisa jadi begitu kita keluar dari kampus, ternyata kurikulum yang dipakai berbeda, yes..yess..yes....

Tak hanya cukup sekali. hampir di tiap tahun para pendidik diberikan pelatihan kurikulum sepaket dengan administrasinya, itupun kadang tak cukup sekali, dari sumber yang berbeda pula. Pusing? Enggak kok, cuma jadwal piknik kemungkinan nambah hahahaa......

Atau, sebagai alternatif untuk menetralkankan suhu, bisa dipilih dengan pelatihan training yang lain, yang nggak terlalu redaksional, yang tidak njlimet dengan segala berkas seperti kala bimbingan skripsi itu. Yang simpel, tapi ya cukup bermanfaat seperti berikut ini :

    Desain

Hahahaaa....bagi pemilik kecerdasan visual, ini lebih menantang. Kita bisa bermain dengan warna dan gambar. Untuk apa si pelatihan desain? Ya, bagi sekolah yang punya banyak kegiatan seperti sekolah tetangga, kan hampir selalu membuat banner, backdrop atau baliho sekalian. Nah, dengan ketrampilan desain ini, kita bisa unjuk gigi bahwa banner itu bukan monopoli guru seni atau ICT misalnya heheheee......Kan itung-itung mengurangi jasa desain ke percetakan juga. Selain itu, bisa jadi usaha sampingan atau pokok ( kalau sudah tidak ngajar lagi hehehee). Coba, mana yang lebih sering, jasa membuat RPP atau mendesain...hahahaaa.....

   Public Speaking

Beberapa pendidik kadang kurang pede untuk tampil di depan public kecuali siswanya sendiri ( ini saya ding). Tak jarang mengalami demam panggung, keseleo lidah hingga speechless ( sekali lagi, itu menunjuk ke saya hahaaaa). Tentu saja, ini mengurangi performa guru. Apalagi kaum pendidik yang identik dengan segala workshop, seminar dan lain-lain. Itu nilai lebih lho. Berbagai kompetisi selalu berujung pada sebuah presentasi kan...huhuuu........melambaikan tangan......Kalau public speakingnya bagus, ladang kan bisa makin luas, jadi motivator misalnya...ngek-ngok.......

   Menulis/jurnalistik

Nah, ini ni, kata Al Ghozali ( Ulama mas dan mbak, bukan anaknya Dani Maia) “ Kalau kamu bukan siapa-siapa, maka menulislah”. Ya iya, apalagi menulis dibukukan dan laris manis di pasaran, kita mati pun masih dikenang. Yang tadinya Cuma remah rengginang bisa jadi raincake atau brownies Amanda...hahahaha....Apalagi yang namanya pendidik itu kan memang akrab dengan kertas dan pena.

     Berkreasi dalam membuat APE

Nah, ini cucok untuk teman-teman yang cepat bosan dengan kertas dan tulisan. Dengan modal seperti triplek, board, foam atau apalah itu yang bisa untuk alat peraga sederhana. Memang cukup menguras tenaga sih, tapi kan nggak sia-sia juga. Belajar untuk terampil bareng-bareng, siapa tahu bisa jadi pengisi waktu kelak di masa pensiun nanti, bisa membuatkan sesuatu untuk anak cucu nanti.

Humm......Cuma segitu doang? Sebenarnya banyak si, untuk menumbuhkan kecintaan baru, yang ringan-ringan saja seperti knitting, origami ( ini penting nggak sih), bikin kue ( siapa tahu dapat pesanan), tapi itu kan kayaknya sexist yak, cenderung ke female. Atau, mau yang berat dan manly, laki gitu seperti tambal ban, servis tipi, atau servis AC biar kalau error nggak perlu panggil teknisi lagi, lama dan nguras duit hahahaaa......Anyway, itu Cuma ide untuk memperkaya ilmu dan biar nggak terlalu sepanneng, yang penting tupoksinya jalan, Insya Allah.....sik penting yakin 





Kamis, 20 September 2018

Insta: Mengabadikan tak berarti menyebarluaskan


“ Ouh My Gosh.....ternyata dia udah jadian “
“ Errr....tahu dari mana?”
“ Instagram dia.......” Njedhugin kepala ke tembok.

“ Huhuhu...hang out nggak ngajak-ngajak, udah nggak mau jadi temen aku?”
“ Kok tahu?”
“ Ya tahulah, enoh si X post di instastory....?” Ngeloyor, ngegrundel muka asem.

“ Kamu.....Veronica?”
“ Iya, emang kenapa?”
“ Eh, enggak, Cuma.....kok beda dengan yang di foto biasa ya..., “
“ Ah , masa sih, editannya nggak banyak kok”
“Makanya, punya muka dirawat, bukan diedit” ....lelaki itu pun pergi dengan rasa kecewa.

Ya.....begitulah, riset terkini membuktikan bahwa Instagram adalah media sosial paling tidak sehat. Dibalik kata-kata indah “gambar punya berjuta cerita”, ada sisi suram, apalagi orang dengan self-control yang rendah.

Instagram, suatu media sosial yang mengedepankan tentang gambar yang kini laris manis di kalangan muda maupun tua. Bukankah pandangan mata itu selalu lebih menarik, pemilik kecerdasan visual sepertinya lebih banyak daripada yang audio hahaa.....maka dari itu, penikmat pun berlomba-lomba agar terlihat menawan. Berbagai foto selfie yang bisa jadi harus taken berkali-kali untuk bisa diposting, menambahkan ritual memfoto makanan sebelum dimakan ( entah pakai doa atau tidak), atau merekam segala kejadian yang bagi empunya sendiri begitu mengesankan dan menoreh memori.

Kemunculan instagram pun ternyata membawa sejumlah masalah kejiwaan bagi mereka yang lemah syahwat, eh, maksudnya lemah iman. Memang, ia tak langsung membuat manusia berdarah-darah tapi lebih menyerang ke kesehatan mental. Alih-alih menuai pujian dari gambar yang dishare, malah dapatnya bullyian dari para haters. Emang ada mak? Ya adalah, maha benar netizen gitu lho.

Beberapa riset menyebutkan efek terlalu mencintai media sosial ini mulai dari narsistik hingga lupa waktu, depresi, tekanan mental karena perbedaan level ; si A yang travelling kesana kemari, si B yang mengenakan produk branded, sampai dengan Body Dysmorphic Disorder. Apaan si itu yang terakhir??? Ya intinya si sesorang yang berfikiran bahwa ada yang salah dengan tubuhnya, kurang sempurna, kurang tinggi, kurang langsing and nde brew and nde brew.

Bagi pengguna cerdas, instagram bisa menjadi lahan mengais rejeki, seperti jualan barang atau sekedar menerima endorse, bintang iklan dunia maya ( ya ujung-ujungnya jualan juga siyyy).

Ya, memang, setiap hal yang berlebihan itu tidak baik. Beware and be wise dalam menggunakan media sosial. Tidak semua yang kita punya harus dishare. Mengabadikan tak berarti harus menyebarluaskan. Apalagi menyebarluaskan yang masih di awang-awang, abu-abu, fana....contohnya, seperti liburan dengan pacar, hahaaaa........jejak digital itu bisa jadi menyakitkan jenderal!!!

Medsos-medsos gue......hahahaaa....memang betul sih, semua orang bebas mengekspresikan segala hal di medsos masing-masing. Yah, semoga bukan tergolong narsistik yang segalanya harus diposting. Kadang ada suatu masa dimana momen indah itu cukup dikenang dengan orang yang terlibat saja.

Pintar-pintarlah juga dalam menjaga hati dan cerdas dalam mengelola hati, ea.....yang terakhir itu adalah kata lain dari baper. Jagalah kesehatan mentalmu dengan banyak membaca firmanNya, bukan dengan ngulik instagram olshop, selebgram apalagi mantan.  





                                                                                                                     

Senin, 13 Agustus 2018

Karena Kemerdekaan itu dekat dengan pengorbanan


Bulan Agustus telah tiba. Beragam pernak-pernik bernuansa merah putih menyeruak di sudut-sudut kota. Kidung nasionalisme berkumandang memuji tanah air dan pahlawan. Semuanya menyambut gempita kemerdekaan mulai dengan ziarah makam pahlawan, upacara bendera hingga sejumlah perlombaan yang mengundang tawa.

Masyarakat terpelajar pun larut dalam diskusi tentang cara mengisi kemerdekaan, memajukan bangsa hingga nasib akhir hayat pembela bangsa. Segala haru tatkala mendengarkan kumandang lagu kebangsaan, menyaksikan veteran yang tegak hormat saat upacara dan semangat adik-adik paskibra dalam mengibarkan sang Saka.

Memang, kemerdekaan adalah salah satu hal yang patut kita syukuri apalagi dengan melihat bagaimana usaha para pendahulu  kita dalam memperjuangkannya. Ditambah lagi dengan segala cerita tentang tragisnya kehidupan di masa penjajahan. Sungguh, kemerdekaan adalah hadiah terindah setelah sekian ratus tahun tertindas.

Di bulan Agustus tahun 2018  ini, ternyata tak hanya menyambut hari kemerdekaan. Khususnya umat Islam, mereka juga menyambut Hari Raya Idul Adha atau yang lebih populer dengan sebutan hari Raya Kurban. Mungkinkah ada maksud tersembunyi dengan menakdirkan hari kemerdekaan beriringan hari Raya Kurban, entahlah. Yang jelas, keduanya memiliki persamaan. Semuanya tentang ketaatan, ketaatan terhadap pemimpin, ketaatan terhadap Allah dan Rasulnya. Ya, ketaatan dengan pemimpin yang mencita-citakan kemerdekaan yang dilandasi keyakinan serta manisnya iman membuat rakyat rela berkorban demi merebut kemerdekan. Coba kalau tidak taat , mending jadi jongos penjajah, kalau tidak yakin, tidak usah ikut-ikutan berjuang kalau akhirnya hanya mati bersimbah darah. Pun dengan ketaatan dan keimanan seorang Ibrahim dan Ismail yang diuji dengan sebilah pisau yang mana di akhir riwayat diganti dengan kambing. Kalau mereka tidak beriman, ayah mana yang tega menyembelih anaknya sendiri, begitu juga dengan Ismail, pasti sudah kabur lebih dulu.

Yah, betul, akan selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang indah. Mungkin saja di momen ini, kita diprogram untuk mengingat pengorbanan. Bukan tentang mengungkit jasa yang berbuah kesombongan, tapi penghargaan atas pengorbanan. Berbagai cerita veteran para pejuang kemerdekaan yang lebih berurai air mata daripada gelak tawa. Mereka yang konon berjuang di masa muda tapi terlunta-lunta di hari tua. Ah, bukankah bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan? Pahlawan pun kini tak hanya didefinisikan mereka yang angkat senjata. Marilah tengok diri masing-masing, sudahkah menghargai para TKI sebagai pahlawan devisa, menghargai para guru sebagai pahlawan ilmu, petani sebagai pejuang nasi dan lain sebagainya?

Semoga di momen ini, memang sesungguh-sungguhnya kemerdekaan yang kita rayakan. Merdeka dari segala belenggu, merdeka yang bertanggungjawab, merdeka dengan masih memperhatikan nilai dan norma yang ada. Begitu pula dengan hari Raya Kurban, semoga semakin meningkat iman dan Islamnya, saling peduli, saling berbagi dan saling menghargai. Yah, memang, sesungguhnya, kemerdekaan itu dekat dengan pengorbanan.

Kamis, 02 Agustus 2018

Ketika Merasa Asing di Tempat yang Lama



“Huhuhuuuu.....kenapa pada resign......,aku kan belum tahu ngapain kalau resign, mana tanggungan banyak...”
 ( Nggak perlu ditangisi keuleusss)

Membuka lembaran baru setelah liburan berlalu. Yah, yang namanya hidup mah, emang kadang manis kadang pahit, asem kecut, kadang bisa bareng, kadang sendiri-sendiri, ada yang tetap bertahan, ada yang mengundurkan diri. Nggak penting sih mencibir kenapa stay ato kenapa left, cukup saling menghargai dan jaga silaturrahmi saja si sebenarnya.

Tak jarang seorang individu memilih untuk bertahan karena beberapa alasan, sementara sebagian besar memilih untuk berhenti ( itu siapa yahhh hahahaaaa). Rasanya biasa saja ketika masih dalam suasana libur, however, ketika romansa kerja di depan mata, saatnya back to rutinity, kok ada something different gitu ya. Merasa jadi orang baru, bukan karena kita newcomer tapi justru kita yang old member dan mager. New people are hired while the previous are out. Masih “meraba”  orang baru, eh, maksudnya mengenal orang yang baru. Ya kali kalau mahasiswa mah kita OSPEK, kalau di dunia gawe mah, jaim dong hahhaaaa....

Okey lah, sedikit trik untuk membetahkan diri di lingkungan yang sebenarnya kita adalah yang mbaurekso, hohoho.......stay calm beib....;

·          Banyak membaca atau menulis di laptop.
Kegiatan apalagi coba, demi menjaga maruah diri, menahan bicara, menghindari  keceplosan, rubbish talk dan sebagainya. Dengan membaca setidaknya kita lebih tampak intelek daripada Cuma update status, main tik-tok apalagi tidur. Nah, serangkai dengan membaca, menulis tampaknya bisa jadi pilihan. Entah itu di diari, document atau meramaikan wattpad.Yah sesekali, tengok kiri-kanan, lamat-lamat mendengarkan esensi obrolan mereka, dipikir-pikir, connect nggak dengan isi otak kita wakakaaaakaa.....
·         Menawarkan bersantap bareng
Wah, ini ini, sebagai orang yang dianggap lebih tua, eh lama, nggak ada salahnya menawarkan keripik atau biskuit sebagai teman nge-teh. Percayalah, hal itu tidak akan sia-sia. Bukankah kodratnya itu yang tua menyayangi yang muda dan yang muda respect kepada yang lebih tua...hahahaaaa......
·         Berbicara seperlunya
Maksudnya di sini adalah menghindari yang namanya overacting. Tidak terlalu lebay berbicara dan hindari topik-topik sensitif seperti rekan kerja, atasan maupun yayasan, eh....Bisa jadi kita itu malah dicap sebagai racun, kompor, provokator, aligator, kondensator dan sebagainya. Lebih amannya mah bahas acara semalam seperti The Comment, Show Karma atau sitkom-sitkom yang lain yang lebih layak dibincangkan.
·         Ringan tangan
Ya, sebagai tetua di tempat kerja, adalah tabu dengan jawaban tidak tahu. Mnecoba untuk membantu kan nilai plus, tabungan amal dan image diri yang positif. Kalau ada rekan yang bertanya, minta tolong, responlah dengan sebaik mungkin.
·         Jaga kekompakan
Entah dia orang baru, orang lama, yang jelas kalian sudah jadi team. Tak peduli senior, yunior, tua, muda, single atau double, yang penting tetap kompak, saling tolong-menolong, saling support. Yah, yang namanya bekerja di dalam kapal yang sama, kan bisa oleng kalau bocor didiamkan saja ( eh, ini ngomong apa coba hahaaa....)

Anyway....hidup itu dinamis, atas bawah, cepat lambat, datang dan pergi. Emosi negatif seperti dengki iri, pelit, julid( eh, ini bukan ya) itu Cuma mengikis nilai kita entah dimata sesama maupun sang Pencipta. Selow boss, let it flows, bercanda hayuk, baper jangan, prestasi yes oke.  Keep up the good work ( ini nasehat buat aku sendiri sih). Eh, kira-kira ada yang yang mau menambahkan trik di atas ga?







Kamis, 22 Maret 2018

Pekerjaan yang Cocok untuk Eks-Guru


Kok judulnya terdengar visioner atau gimana ya...hahaaaa........Anyway, yang namanya jenuh itu merupakan hal yang pasti brosis, termasuk dalam hal pekerjaan sekalipun. Ada yang memutuskan untuk keluar ada pula yang memutuskan untuk bertahan karena beberapa alasan. Ada yang berpendapat bahwa yang suka gonta-ganti adalah jiwa para petualang, sedangkan yang settle bertahun-tahun adalah jiwa-jiwa susah move on, entahlah.
Biasanya si ya, meskipun sudah  resign, karena sudah terbiasa dengan kesibukan, target dan sebagainya, sejumlah orang pun nggak bisa berdiam diri di markas kebesaran. Beberapa ada yang mencari pekerjaan yang sama dengan yang terdahulu, namun adapula yang memulai hal baru. Nah, di sini saya akan kasih ide buat teman-teman yang baru resign terutama yang berasal dari rumpun pendidikan.

1. Les privat
Ya, guru itu kan dekat dengan ilmu. Mungkin menjadi guru privat bisa jadi pilihan pengalih kesibukan. Nggak jauh beda dengan di sekolah yang mentransfer ilmu, hanya waktunya bisa lebih fleksibel, nggak perlu melaporkan RPP, PROMES apalagi analisis nilai yang menjemukan itu. Beruntunglah yang siswanya banyak, sudah pasti pundi-pundi rupiah cukup melimpah. Apalagi kalau rajin membuat modul, tentu saja bisa menambah nilai ekonomi.

2. Membuka toko ATK dan fotokopi
Sebagai mantan guru, pasti lebih tahu alat-alat yang sering digunakan berikut dengan merknya dan musim-musim dibutuhkannya. Mesin fotokopi? Yeah, bagi yang bekerja di sekolah besar biasanya sudah dilengkapi dengan mesin fotokopi. Nah, dari situlah kita belajar.

3. Juru ketik
Nah, kalau yang ini pintar-pintar  nyari celah  orang yang malas tapi banyak laporan yang harus dibuat. Tetapi jangan yang terlalu beresiko seperti laporan ilmiah yang harus eksperimen dahulu. Yang safe ajalah seperti ketik ulang dari modul  atau mungkin ngetikin skripsi. Biasanya usaha ini menjamur di sekitaran kampus. Eh, tapi kan sekarang kan zaman semua pegang laptop ya, kira-kira masih laku nggak ya

4. Motivator
Nggak ada kampus yang membuka jurusan motivasi. Nah, guru itu kan pinter motivasi siswa-siswanya agar menjadi lebih baik, naahh....ditambah dengan kemampuan publik speaking yang sip, sim salabim, nggak ada salahnya mencoba peruntungan ini. Mario Teguh sebelum melanjutkan pendidikan di AS, ternyata beliau pernah mengenyam di IKIP Malang lho.

5. Buka OlShop
Nah, ini ni, dengan bekal smartphone ditambah dengan banyak kenalan, memungkinkan anda- anda ini mempunyai pelanggan setia. Bagaimana tidak banyak, pertemanan dari teman kerja, teman kuliah hingga orang tua murid. Wah wah, sungguh mberkahi kan, jadi guru ini. Menebar ilmu sebagai amal jariyah ditambah persaudaraan yang luas. Bukankah silaturrahim itu memperbanyak rizki? Begitu kan?

Sebenarnya masih banyak lapangan lain mengingat passion masing-masing individu berbeda pula. Itu semua yang di atas kan Cuma ide, barangkali ada yang berkeinginan lebih daripada itu, ya monggo. Atau ada yang lebih inovatif lagi seperti ingin jadi Nia Ramadhani, kan lebih nyaman dan enak ya. Sik sebentar.....ambil kaca dulu....

Senin, 19 Maret 2018

Tayo : Keceriaan Sepanjang Jalan

Setiap sore si ucrit sudah duduk manis di depan layar kaca ditemani dengan malkist kesukaannya. Apalagi kalau tidak untk menonton kartun kesayangannya di channel  swasta. Sungguh, betapa kreatifnya RTv menggaet pemirsa militan dengan menayangkan kartun dari sore hingga waktu tidur malam tiba. Daan karena televisi sudah dimonopoli, mau tak mau, kami golongan tua ikut nonton. Yah, nggak apa-apa si daripada nonton sinetron yang isinya iri, dengki atau berita hoax tendensius yang hanya menyulut emosi .

Salah satu kartun favorit adalah Tayo, dengan lagunya “hai Tayo, hai Tayo, dia bis kecil ramah”. Dari lagunya saja sudah ketahuan kalau Tayo adalah sebuah bis. Dia tak sendiri, masih ada teman sesama bis seperti Ghani, Rogy, dan Cito.

Diceritakan bahwa mereka adalah sekumpulan bus yang mengangkut penumpang di suatu kota. Tidak perlu heran apalagi bertanya-tanya tentang logika di sini. Jelas, kartun ini di luar nalar manusia, bis bisa ngomong dan melaju tanpa adanya sopir. Kalau di dunia nyata sudah pasti itu adalah bis setan yang disempurnakan dengan diamnya penumpang dan pakaian yang serba putih.

Kembali ke Tayo, tontonan ini mengajarkan kita saling tolong-menolong, menghargai dan jauh dari dengki. Di situ tak terlihat bus yang menerjang kejar setoran melainkan bus ramah, saling menyapa yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak TK. Sinergi yang bagus antara bus dan penumpang karena sadar akan saling membutuhkan. Karena ini memang untuk anak-anak, tentu saja tidak terdengar kata-kata umpatan seperti brengsek, sialan, kampret dan lain-lain layaknya sopir metro mini. Sungguh gambaran yang indah agar anak-anak cinta dengan transportasi publik, eaaa.

Selain itu, dengan adanya tokoh Hanna, kita jadi tahu bahwa profesi tak hanya melulu pilot, pramugari, dokter ataupun suster. Ya, Hanna adalah montir yang selalu ceria, ramah dan ringan tangan. Dia adalah sosok pekerja keras yang tak hanya mengandalkan dan mengeksplore body seperti di kisah “ montir-montir cantik”.

Tayo begitu safe untuk pemirsa anak-anak. Tak hanya bicaranya yang sopan, suka menolong tapi juga (sepertinya) jauh dari yang katanya konspirasi. Tidak ada bentuk yang nyleneh seperti sosis, tak bercelana kayak si pooh atau hanya kemben seperti Ariel Tatum eh Mermaid maksudnya.
Hanya saja, karena buatan asing, jelas tidak ada dakwah seperti ucapan Assalamualaikum atau doa naik kendaraan.

Rabu, 06 Desember 2017

Jadi Pengawas Ujian itu...

December comes, holiday begins. Kalau sudah Desember itu atmosfer bersantai ria kian membuncah. Bayang-bayang libur akhir tahun mulai merangkak. Tapiii...sebagaimana pada umunya, tak ada liburan tanpa ujian, eaa....bagi siswa maksudnya. Sementara itu, kaum guru disibukkan dengan membuat soal, melaksanakan ujian hingga melaporkan hasil ujian setelah sebelumnya dikoreksi, diolah dan bla bla blaaa.....Ayo tebak, mana dari kegiatan tersebut yang paling asyik??? Jelas gak ada ..ha..ha..ha....

Lho, melaksanakan ujian itu kan gampang Ms, apalagi Cuma ngawas, duduk doang kan??? Ya iya sih, duduk doang, tapi kadang tidak berjalan sesuai ekspektasi. Ada sedikit hal yang bisa mengusik moood kita diantaranya :.....

a. BERISIK. Pada awalnya kita berkhayal untuk bisa menyelesaikan separuh novel, menulis satu cerpen atau membereskan koreksian, but the fact.....Hemm....siswa jaman sekarang itu selalu eksis dan tak bisa menahan hasrat untuk menyampaikan pendapat ( baca : ngobrol). Mereka memang anteng dan serius tapi itu hanya berlaku di menit-menit awal. Tak lama setelah itu, mereka mulai bergumam, bisisk-bisik mengusik dan akhirnya mewabah ke segala penjuru. Alih-alih menuntaskan koreksian, kita justru disibukkan dengan kata-kata “keep silent please, be quiet...”

b. YOU just ChAT or CHEAT???Oh Come on, You have hundreds of tricks but teachers know thousands hahaaaa......Terinspirasi bad genius? Yakin bisa mraktekkin? Sebenarnya guru itu tahu kalian nggak jujur tapi ada beberapa yang take it easy, tapi sebagian ada juga yang tegas. Guru yang kalem akan menatap sambil senyum, hingga siswa salting, tapi guru yang tegas bisa saja mendekat dan menggertak entah mencoret atau merobek, hihiiii...atuuutttt
c. Mengawas KELAS SaTu SD itu merepotkan. Sudah-sudah, nggak perlu dibahas panjang kali lebar. Untuk di awal-awal, banyak ditemui siswa kelas satu yang belum lancar membaca, jadiiii....ya harus dibacakan tiap nomernya. “Ayooo anak-anak, lihat nomer satu-lihaaat nomer satu.....” begitulah sampai nomer terakhir, hahahaaaa......
d. Mengawas di pelajaran yang nggak dikuasai. Siswa, khususnya yang masih jenjang dasar biasanya akan menganggap guru tahu segalanya. Nah, di sini kita diuji. Mau jawab takut salah, bilang nggak tahu malah tengsin. Laah, emang ada yang begitu? Sekolah Dasar kan gampang. Ya misalnya, guru bahasa Inggris lulusan Oxford ngawas mata pelajaran bahasa Arab, mana nggak pernah makan bangku madrasah/pesantren lagi. Jago-jagolah berakting ya..

Anyway, can’t deny kalau saat-saat ujian itu termasuk masa-masa yang menyenangkan. Nggak ribet menyiapka rentetan pengajaran di kelas, anak-anak pun pulang lebih cepat. Ada yang merasakan hal yang sama???Tosss.....semoga anak-anak mendapatkan nilai yang bagus, nggak perlu ngatrol lagi kan?....
     

Minggu, 16 Juli 2017

Working-Mom Syndrome


Entah bagaimana yang benar akan penyebutan ini, tulisan ini sebenarnya hanya sekedar sharing, syukur-syukur ketemu jodoh, eh solusi maksudnya.

jadi, setelah very looong holiday, hari kerja itu pun tiba (halah). Alhamdulillah masih ingat jalan ke tempat kerja, secara liburnya lama banget cyin, sekitar tiga minggu, wew. Enaknyo....makanya, jadi guru, xixixiiii.....Saking lamanya libur, saya sendiri malah keder. Ya karena masih ada bocil yang lengket banget sama emak dan kini tiba waktu saat untuk berpisah, meski Cuma sehari. Saya bangun pagi, eh nggak lama dia bangun, pakai acara mewek, minta yang susah nyarinya. Pokoknya dramatis. Dan biasanya ujungnya ngikut kerja meski dengan berat hati harus ditolak. Drama pagi segar itu biasanya diakhiri dengan jam kedatangan emak yang ngaret, molor diiringi banyak sholawat, beristighfar semoga everything runs well.

Menurut saya sih, hal penting yang harus ada yaitu stok sabar. Jangan sampai mewekan bocil nambah kita jadi uring-uringan yang menguras emosi dan bisa berpengaruh pada kinerja. Kalau yang satu mewek, yang satu teriak malah jadi double berisiknya kan. Keep calm, stay strong and stay cool, halahhh. Siapkan trik-trik, rayuan gombal, mainan, tontonan atau duit, haish. Pelan-pelan kasih pengertian.

Selain itu, memang butuh kerjasama banyak pihak. Masa iya nggak ada orang lain di rumah, entah itu kakek, nenek, ipar atau embaknya. Nggak mungkin juga kan bocil sendirian. Kalau toh nggak stay di rumah, pasti ada solusi lain seperti day care misalnya. Yang jelas adalah kerjasama dan komitmen. Bocil yang umurnya nanggung, bayi enggak, sekolah juga belum. Ditinggal bisa “nggendoli” istilah jawanya “kelayu”.

Anyway, pernah nggak sih emak-emak mengalami sindrom sedemikian rupa. Bisa share dong olala....Nggak mungkin juga kan bekerja membawa anak ( meski di sekolah sekalipun). Ada peraturan-peraturan yang ditujukan agar atmosfer kerja menjadi begitu seharusnya ( ini bahasa apa coba). No bully, no offense, no debate tentang working mom vs stay home mom ya, karena semua adalah pilihan. Pasti ada alasan di tiap pilihan.

Hanya karena sesuatu tidak terjadi hari ini, bukan berarti tidak akan terjadi pula di esok hari-anonymous

Rabu, 03 Mei 2017

Adakah Etika Menolak Hadiah???

Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is God's gift, that's why we call it the present. Joan Rivers
 “Saling menghadiahilah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai “( HR. Bukhari)

Aih, mau bahas apa si di tulisan ini??? Nggak serius sih sebenarnya, hahahaaa.....
Oh ya, akhir-akhir ini mulai marak dengan jargon “ modus dan tulus beda tipis”, ada pula yang lebih panjang “ tulus dikira modus, care dikira kepo” , adakah yang berprinsip begitu?? (nyengir kuda...)
Kembali ke kepala tulisan ini, menolak pemberian orang, bijakkah??? Sebentar, sebentar......Memang kenapa dengan pemberian orang, ada yang salahkah?
Iya, memang harus diakui, slogan modus dan tulus ada sedikit benarnya, sedikit lho ya. Apalagi fikiran dan kepentingan manusia semakin beragam. Memberi sesuatu karena sesuatu sudah umum. Bingkisan bertebaran, mulai dari ulang tahun sampai hari raya. Alasan pun variatif, dari yang hanya simbol kasih sayang sampai mengincar jabatan.
Soal urusan menerima atau menolak, kita memang perlu sense yang ciamik, apalagi kalau itu tumben, nggak biasanya gitu. Hemmm.....ada niat terpendam nggak ya, ada udang di balik bakwan nggak nih. Apabila si penerima merupakan orang penting, pejabat atau semacamnya, mungkin perlu difikir lagi. Eh, tapi mah sekarang ada peraturan pelarangan pemberian bingkisan di kalangan pejabat ding yaaa apapun alasannya.
Kembali ke hadist di atas, kalau tak ada maksud apa-apa, kenapa harus menolak??? Apalagi yang memberi hadiah termasuk yang dipercaya kredibilitasnya. Apalagi target penerima memang layak untuk dihadiahi, seperti dedikasi tinggi,sedang ulang tahun atau mungkin lagi butuh, ea ea eaa.....berhuznudzon, berprasangka baik. Tulus atau tidak seseorang bisa kelihatan kok.
Anggap saja sebagai rejeki, wujud rasa syukur terhadapNya. Dipikir-pikir, kalau kita menerima gift, pastilah yang memberi juga kan ikut senang lah yaaa....Sekecil apapun itu, pasti ada sebuah pengorbanan dibaliknya. Lha malah win-win solution kan, kita mendapat berkah sekaligus orang lain berseri-seri.
Bagaimana kalau kita tak suka atau tak butuh??? Sepanjang barang yang diberikan masih layak, bukan busuk, remuk kenapa harus memaksakan ego pribadi atas nama ketidaksukaan yang berpotensi menyakiti. Kita bisa membagikannya lagi kan kepada yang membutuhkan, sstt...tapi asal jangan ketahuan si penerima hehehe.....sah sah aja sih asal jangan dibuang, kalau begitu justru sama sekali nggak menghargai.
So, jadi, kalau menerima hadiah itu berkah dan membuat hati merekah kenapa harus menolak? Kecuali kalau diiringi dengan syarat, misalnya, dapat nilai baik, masuk PNS, atau bebas dari tuntutan ea ea eaaa.
“Penuhilah undangan, jangan menolak hadiah dan janganlah menganiaya muslimin”(H.R Ahmad)


Selasa, 25 April 2017

Kenapa PO bisa jadi PeA(k)


Ea eaaa......sebenarnya tulisan ini Cuma buat have fun aja, mencari sisi lucu dari sebuah kesibukan..hemmm...

Yang pernah menjadi PO, chairman, ketua pelaksana atau apapun itu namanya....ngacungggg!!!
Benar nggak sih menempati posisi itu bisa bikin stress??? Jawabannya yaa tergantung, tergantung besar kecil acara, kekompakan seluruh panitia dan lain-lain. Biasanya, semakin besar acara , semakin ribet yang dipersiapkan, semakin banyak urusan, semakin besar pula potensi penurunan kadar kewarasan. Memang betul, seorang chairman harus me-restock kesabaran agar event tersebut nanti akan berjalan lancar. Ada beberapa hal yang membuat seorang ketupel serasa diuji kesabaran, yaitu sebagai berikut :
a. Big Boss rese
Tak semua big boss itu rese lho ya, ada pula yang easy going, nggak banyak revisi, termasuk big boss ku ,hehee...peace man. Kalau big boss rese tu gimana? Hiyya, nggak pernah ngasih perhatian, nggak ngasih konsep, tahu-tahu kalau ada kesalahan, dialah yang pertama kali blame bawahannnya . Banyak maunya, giliran suruh mendeskripsikan konsep bingung sendiri, hellow, too much complain will kill you, hahaahahaa.....
b. Ragam pola pikir sesama panitia
Kalau ini mah, paham bener. Yang namanya mempunyai rekan sesama manusia, pastilah banyak pola pikir yang berbeda. Si A minta begini, si B minta begitu, si C minta begono. Belum lagi si D yang lagi sensi karena patah hati, si E yang lagi baper karena diomel suami. Solusinya, ya sabar, kalau mau sepikiran, tanpa ada protes ya berpartner sama robot aja..oopsss.....cukup dengan dalil nobody’s perfect sajalah yaa kalau ini mah, jadikan sabar dan Allah sebagai penolong.
c.  Tanggungjawab Primer yang kadang tak mau kompromi
Tanggungjawab ini bisa seputar kerjaan utama di kantor bisa juga tanggung jawab rumah tangga. Yah, kadang project officer dadakan cukup menguras waktu dan tenaga. Tiba-tiba saja istri di rumah baper karena tambah sibuk, anak merengek-rengek tampa ampun, belum kalau ada anggota anggota keluarga yang sakit, aarghhh.......
Tips agar event berjalan lancar sebenarnya sederhana, tetap semangat, jangan baperan dan tetap hati-hati. Hati-hati dalam bertindak dan dalam berucap. Jangan grusah-grusuh dan harus teliti terutama soal anggaran. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, berabe, bikin kismun. Whatever happens, the show must go on. Jadilah ketua panitia yang dihormati warga karena kharisma bukan karena rasa takut. Kalau ada yang nggak sreg, kurang berkenan, lebih baik japri daripada ngoceh-ngoceh di depan publik. Mengkritik di depan orang banyak jatuhnya malah menghina. Keep up the good work ya temans, semoga tetap waras......

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 

Rabu, 12 April 2017

Amitie sans Frontiere ; Karena Persahabatan tak Memandang Usia


“Depth of friendship does not depend on the length of acquintance” (Rabindranath Tagore)

Homo Homini LuPUS, begitulah para ahli menerjemahkan makhluk yang paling sempurna di dunia ini. Ya, makhluk sosial kata kita lah ya, makhluk yang membutuhkan orang lain di sepanjang hidupnya.Dengan segala keunikannya, manusia membutuhkan interaksi. Sejak lahir sampai liang lahat pun tak bisa kita lakukan sendiri.

Karena kodrat itulah, manusia membentuk koloni, menjalin persahabatan dengan yang mereka anggap nyaman. Kata mereka yang muda mah seperti geng atau klik ( yang ini lebih positif maknanya). Tak hanya anak-anak atau remaja, bahkan di dunia kerja pun tak melulu direcoki urusan berkas, rapat ataupun target. Kadang di sela-sela kewajiban, kita masih menyempatkan untuk membuat lelucon, bergosip ringan hingga share problem yang ngganjel dengan harapan ada titik terang.

That’s it, penulis pun juga berkawan, berinteraksi. We create a joke, e have fun but sometimes we fight, arguing, debating for a little stuff. Yang namanya bergaul memang tak melulu menyenangkan, ada kalanya kita dibikin jengkel, yah naik turun itu pasti ada lah yaa. Tapi ya nggak langsung cus putus gitu mah. Berbeda dengan anak remaja yang diem-dieman,  nunggu ditegur atau langsung move on, hang out dengan yang lain mencari kubu baru. Lha Gusti menganugerahi kita mulut dan telinga buat apa coba? Ada baiknya bicara dengan baik-baik, jadilah juga pendengar yang bijak, nggak perlu pake otot hingga ngoyot (halah, bahasa apa cobaaa). Katanya, sampaikan meski itu pahit, jiahhh.....kata iklan mah, mari nge-teh, mari bicara, ya kalau sedikit complicated, boleh lha ya di D’Cost atau Solaria,hahahhaa.....

Nobody’s perfect, dan gesekan itu pasti, jangankan teman, keluarga saja yang sedarah bisa bentrok. Crash bisa terjadi kapan saja dan disitulah kita di tes. Bukankah salah satu tolok ukur kedewasaan adalah cara menyikapi masalah??? Apabila tali silaturrahim masih bisa disambung, kenapa harus di cut? Allah cinta dengan orang-orang yang menyambung tali silaturahim lho.

Be sensible but not sensitive. Peka iya tapi bukan maksud mudah tersinggung. If you tends to be sensitive in every piece of life, berteman dengan siapapun nggak akan awet. Anyway, itu sebenarnya pilihan masing-masing juga sih,mau berkawan dengan siapa, heheheee....

Buat sahabat yang sedang dilanda baper akut, galau kronis, semoga segera mendapat pencerahan yah. Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu tapi tak adil jika engkau mengabaikan yang ada di sekitarmu. Amitie sans frontiere.

sedih bila kuingat lembaran itu, membuat jarak antara kita
resah tiada menentu hilang canda tawamu
tak ingin aku begini, tak ingin aku begini...
sobat, rangkaian masa yang tlah terlewat buat batinku menangis
mungkin karna egomu, mungkin karna egoku
maaf aku buat begini, maaf aku begini....
bila ingat kembali, janji persahabatan kita
takkan mau berpisah karna ini
pertengkaran kecil kemarin, cukup jadi lembaran hikmah
karna aku ingin tetap sahabatmu (Edcoustic)


Kamis, 23 Maret 2017

The Fools Always Blame the Tools


Ferdi (bukan nama sebenarnya) baru saja ingat kalau ada PR mengarang yang harus dikumpulkan via email paling lambat pagi ini. Dia sedang sibuk memikirkan alasan yang tepat karena rasanya tidak mungkin dia bisa mengerjakan kilat, menuliskan deretan kalimat dalam waktu singkat.
Begitu pelajaran bahasa Indonesia dimulai, Ms Anna mengumumkan nama yang belum mengumpulkan.
“Ferdi, kenapa kamu tidak mengumpulkan tugas?”
“Laptop saya error”
“Oh, ya, kan bisa pakai punya papa.”
“Wifi dirumah sedang mati bu.”
“kamu bisa pakai wifi sekolah kan, tinggal save di usb.”
                                    ***
Di lain hari, Ferdi terlambat ke sekolah. Ia bangun terlambat karena semalam bermain game.
“Kenapa kamu terlambat Fer?”
“Jam Weker saya mati dan tadi macet banget bu.”
“Kan di rumah ada mama papa yang bisa membangunkanmu dan berangkat lebih pagi.”
                                    ***
Hayoo siapa teman-teman yang pernah seperti Ferdi??? Semoga jangan ya.  Gambaran Ferdi di atas seperti yang dikatakan oleh pepatah Inggris kuno “The Fools Always blame the Tools”. Orang yang dungu cenderung menyalahkan alat. Mereka akan mencari-cari alasan supaya tidak disalahkan. Menyalahkan jam weker ketika kesiangan, menyalahkan wifi ketika ingin mengirimkan tugas, menyalahkan macet sebagai satu-satunya biang keterlambatan. Padahal, masih ada cara lain agar kesalahan itu tidak terjadi .  Benda mati tidak layak untuk disalahkan. Benda mati memiliki arti baik dan buruk tergantung si pemakai. Gadget bisa baik jika digunakan untuk sekedar komunikasi, membantu tugas-tugas sekolah tapi bisa jadi buruk ketika pemakaian gadget yang over, lupa waktu sampai mata yang sakit. Sebilah pisau bisa berarti baik jika dipakai di dapur untuk memasak, tapi bisa haram ketika dipakai untuk menyakiti orang. So, jadilah baik tanpa menyalahkan, okeyyy....


Senin, 06 Maret 2017

Diplomasi Demi Mengambil Hati


ow, judulnya kok serius itu yaa....hahaha...., dibawa santai lah ya mas dan mbak.
Ngomong-ngomong diplomasi, pasti yang ada di fikiran kita dilakukan oleh manusia-manusia parlente demi sebuah tujuan yang luar biasa.
Apabila diplomasi diartikan sebagai suatu tindakan demi kemaslahatan (halah) tentu sebagian besar lapisan masyarakat pernah mengalaminya (nggaya ).
Atas nama kerukunan bersama (atau jabatan ea ea eaaa)....diplomasi dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari yang sederhana sampai yang ribet mlebet.
a. Diplomasi Perut
Ini adalah salah satu diplomasi yang mainstream. Everybody needs food. Yah, bahasa cere-nya mah nraktir gitu. Semakin besar urusannya, bisa semakin mewah juga traktirannya.
b. Diplomasi Air Mata
Yaa Aaampuun.....diksinya itu lho...jleb...Ini biasanya dilakukan dengan sukses oleh orang-orang bertampang mellow, ganteng dan cantik. Siapa sih yang yang tega liat manusia bertampang surga itu menitikkan air mata. Apakah ini bisa dibilang air mata buaya??? Sedikit sih, wkwkkwk.... Bagi yang bertampang pas-pasan, tidak disarankan. Kenapa? Untuk menghindari seloroh “ muke lu udah jelek, kalau nangis makin jelek, “ hahahaa...
c. Diplomasi Pelayan
“ Ma, biarin nanti papa aja yang nyuci baju.”
“ Mama bobo aja, ntar biar papa yang masak”
Ea eaaa......ada udang dibalik bakwan itu namanya, halaahhhh. Tumben-tumbenan...biasanya orang yang nggak mau capek seneng banget kalau ada yang beginian. Demi menebus kesalahan, demi menyatukan pasangan semua rela dilakukan. Apalagi kalau bisa konsisten dengan diplomasinya, ea ea eaa.
d. Diplomasi Bingkisan
Diplomasi yang satu ini sudah sangat umum di masyarakat. Mulai dari barang unyu-unyu sederhana, perhiasan bahkan uang. Kalau urusannya simple sih nggak apa-apa, Cuma kalau di sebuah birokrasi ataupun korporasi, salah-salah bisa dianggap menyuap lho yang bisa berujung di hotel prodeo.

Mau diplomasi yang mana, nggih monggo Cuma hati-hati lah ya. Kalau urusannya Cuma sekedar menyatukan hati (biar akur, biar kompak), sepanjang tujuannya baik ya sah-sah aja. Cuma, kalau ada udang di balik karang yang bisa merugikan pihak lain, perlu ditelaah lagi. Ada undang-undangnya lho. Siippp....

Ideas to Vary Writing Assessment for Students

  Based on the research from PISA, Indonesian students have low level of reading achievement. They are on level 72 from  76 country (2018). ...