Senin, 16 Oktober 2017

Hajatan ; momen syukuran atau menagih hutang


Dari Anas tentang kisah Shafiyah bahwa sesungguhnya Nabi SAW mengadakan walimah (pernikahannya) dengan kurma, keju dan samin. [HR. Ahmad dan Muslim].

Hajatan, pesta, resepsi, walimahan atau apapun itu namanya, adalah suatu hal yang lumrah. Tak hanya di Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia, di negara lain pun banyak. Berbagai peringatan mereka rayakan, mulai dari kelahiran, ulang tahun, diterima PNS, sampai kematian. Tak hanya itu, cara dalam menyelenggarakan pun digelar dengan berbagai cara, entah dengan mendirikan tenda di rumah, pesta kebun atau dengan menyewa gedung. Hidangannya pun beragam, ada yang sederhana, adapula yang lengkap dari appetizer hingga dessert, tergantung kemampuan si punya hajat. Biasanya sih ya, semakin tinggi kesejahteraan orang, makin wow pesta yang digelar. Makin terkenal,makin banyak pula tamu yang diundang.

Uniknya, kadang di Indonesia ( entah di negara lain ya ), resepsi ini ada bulan-bulannya. Biasanya orang menikah selepas syawal, anak-anak khitanan bertepatan dengan libur panjang, tapi adapula yang nggak bisa diprediksi yaitu kelahiran dan kematian, oops. Bahkan, kalau lagi rame-ramenya, anggaran untuk menghadiri resepsi atau sebut saja kondhangan itu bisa lebih daripada sekedar SPP anak atau bayar kontrakan,.. hayukk yang emak-emak, setuju nggak nih?

Di beberapa masyarakat malah ada yang mengenal sistem paket. Jadi, ini seperti nagih utang. misalnya begini, nyonya A dulu kondhangan/nyumbang di hajatan nyonya B sekarung beras, nah nanti ketika nyonya A ada hajat, si B ini harus nyumbang di hajatan nyonya A sekarung beras juga ( sukur-sukur lebih, hahhahahaaa). Lebih ekstreem lagi, besaran nilai yang harus kembali itu dicantumkan di kartu undangan, serius, ada yang ngasih tulisan begini ke undangan. Contoh ; kpd yth Mei, pulangan dua liter beras.

Sebenarnya hajatan itu fungsinya untuk apa sih ya? bukankah hajatan ( kecuali kematian) itu untuk memperingati kegembiraan yang kita dapat? Selain itu juga untuk mengumumkan ke publik. Contoh, hajatan pernikahan. Kita bergembira, kita bersyukur ditandai dengan berbagi makanan, seperti hadist di atas. Selain itu juga memproklamasikan, kalau sudah menikah, jadi biar nggak ada fitnah, entah itu kumpul ke*o atau masih dikira perawan, eh dilamar.

Kadang, kalau lagi banyak undangan, tak sedikit yang kelabakan, bahkan ada yang merasa terbebani. Lha gimana, pengeluaran tak terduga baik waktu dan jumlahnya. Apalagi kalau yang mengundang orang kaya. Beberapa orang malah merasa kikuk, mau nyumbang amplop sedikit malu, mau banyak tapi anggaran over, gak hadir malah dikira sombong dan malah dosa, fyuhhh.....jadi dilema. Terus gimana dong, kalau saya sih, datang saja, amplop disesuaikan budget, yah makannya minimalis saja yah, takut seret karena ingat isi amplop yang tipis, hahahaaa...Yah, karena kan kondisi ekonomi seseorang kan berbeda seperti roda, jiah.....dulu bisa nyumbang banyak karena memang lagi jaya, tapi kalau lagi kronis, ya apa mau dikata? Amannya sih ya, nggak usah ikut paketan kalau nggak mau ditagih kemudian hari, hahahaaa....

Untuk yang hendak mau hajatan, ada baiknya poin-poin di bawah ini diperhatikan :

  • Luruskan niat

Ya, niatnya kan syukuran atas kegembiraan yang kita terima, jadi ya jangan dihitung-gitung antara uang yang dikeluarkan sama uang sumbangan yang masuk. Kalau begitu sama aja dengan dagang, ya toooh...
  • Membuat dan menyediakan hidangan sesuai kemampuan

Naah ini. Biasanya orang-orang, demi harga diri dan pengakuan sosial, rela ber-wah-wah nggak peduli kantong sementara kedepannya kan ada perjuangan juga. Jadi, sok atuh, dipikir-pikir, ditimbang-timbang lah ya. Jangan hanya demi gaya di luar, dalamnya keropos. Tidak berlebih-lebihan. Saya teringat, ada yang pernah bercerita bahwa ada suatu hajatan yang menambahkan, selamat menikmati, terima kasih sudah menghabiskan. Wew, kayaknya sepele tapi emang benar sih. Coba kalau hajatan, khususnya yang di rumah, biasanya sisa makanan itu numpuk dan jadi sampah kan?
  • Adil terhadap undangan

Maksudnya, undangan nggak hanya untuk orang kaya saja ( mentang-mentang mereka sumbangannya gede kaliii). Rasulullah pernah bilang , “ seburuk-buruknya hidangan walimahan adalah dimana undangan hanya untuk orang kaya sedangkan orang fakir tidak diundang.”
  • Hiburan yang sopan

Ya..itu...hiburan yang tidak mendatangkan maksiat. Kalau menyanyi ya mbok yang sopan, nggak perlu eksploitasi fisiklah, via vallen cukup di mp3 saja, kan nggak baik dilihat anak-anak, hehehee.....apalagi kalau hajatannya khitanan, waduuuhhh...nggak mashoook man.

Hemmm....ada lagi yang mau menambahkan? Intinya sih, hajatan boleh, bahkan wajib lho ya tapi memang ada nilai-nilai moral sosial dalam menjaga masyarakat yang beradab. Overall, hajatan tidak membuat kita lupa diri, lupa ibadah. Baiklah, tulisan ini saya tutup dengan hadist untuk yang diundang, oke oce.
Rasulullah bersabda : “Apabila seseorang di antara kalian diundang untuk walimatul ursy, maka penuhilah”( H.R Muslim) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English_6thGrade_#4

  Cross a,b,c or d of the right answer! 1.       Kim :................? Ran: I am twelve a.        How are you                        ...