Jumat, 13 Oktober 2017

Kemuliaan Rasulullah#2

Yey, setelah kemarin hectic dengan serangkaian tanggung jawab, akhirnya bisa cuap-cuap lagi di blog kesayangan ini, hihiii.....Baiklah, daripada nyinyir tetangga, rekan kerja apalagi pimpinan negara, marilah kalem sedikit, mengenal lebih dekat lagi kepada sang teladan, pemberi syafaat kita di akhir zaman. Tulisan yang akan saya share ini merupakan oleh-oleh kajian dari ustadz yang tidak mungkin saya lahap sendiri (jadi jelas ya, yang dicetak miring bukan rekaan saya, xixiixi) Yup,....seri kemuliaan Rasulullah is back. Semoga dengan kehadiran seri ini, kecintaan kita terhadap Rasulullah semakin kuat, rohaniyah kita meningkat. 

Suatu hari di kota Makkah dilanda kekeringan yang sangat hebat, tumbuhan mengering, hewan-hewan ternak menjadi kurus, bahkan sebagian orang mulai dilanda kelaparan. Maka para pembesar Quraisy berkumpul untuk mencari solusi. Seseorang di antara mereka mengutarakan idenya agar meminta kepada berhala mereka, yakni latta dan uzza. Seseorang lagi menyanggahnya agar jangan meminta kepada latta dan uzza tapi berhala yang lain yaitu manat.
Setelah lama berdebat, seseorang bernama Waraqah bin Naufal yang mana adalah paman dari Khdijah binti Khuwailid berkata,

“Di antara kalian ada keturunan Ibrahim dan Ismail, saya sarankan agar kalian meminta bantuan kepadanya.”
Lalu mereka pun bertanya, “ apakah Abu Thalib yang anda maksud?”
Waraqah menjawab, “ iya, mintalah bantuan kepadanya.”

Mereka menyetujui saran dari Waraqah ibn Naufal dan segera menemui Abu Thalib untuk meminta bantuan. Lalu mereka pun berkata kepada Abu Thalib

“Hai Thalib, lembah-lembah telah mengering dan makhluk-makhluk dilanda kehausan. Bangunlah dan mohonkan hujan untuk kami.”
Abu Thalib berkata, “ Tunggulah sampai matahari tergelincir.”

Setelah matahari tergelincir Abu Thalib pun keluar bersama seorang anak muda yang rupawan, setiap langkahnya dinaungi awan...beliaulah Rasulullah Muhammad yang waktu itu masih sangat belia. Ia sandarkan punggungnya pada dinding ka’bah sambil memegang Muhammad, Abu Thalib mengangkat tangannya seraya berdoa, “ Turunkanlah hujan pada kami wahai Tuhan kami. Kami bertawasul kepadaMu dengan anak yang penuh keberkahan ini (Muhammad)
Langit yang kala itu terang benderang, setelah Abu Thalib berdoa, maka awan berkumpul, halilintar bersahutan, hujan pun deras mengguyur kota Makkah dan sekitarnya.

Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa aali Sayyidinaa Muhammad.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English_6thGrade_#4

  Cross a,b,c or d of the right answer! 1.       Kim :................? Ran: I am twelve a.        How are you                        ...