Senin, 19 Desember 2016

Gejolak Simpul Hati



Tidaklah seseorang itu dikatakan beriman melainkan mereka yang mendapatkan ujian....”
Udara pagi masih segar. Apalagi dengan pemandangan depan rumah yang ditanami berbagai tanaman yang turut menyumbangkan oksigen sepanjang hari. Di teras nampak lelaki dengan perkiraan usia setengah abad ditemani segelas teh dan rokoknya. Dia tidak sendiri. Lelaki tua tampak dengan lunglai mendekati. Teras terbuka tanpa gerbang geser memungkinkan orang dengan leluasa keluar masuk kapan saja. Aaah, bukankah rumah yang damai itu rumah yang banyak “dimasuki”orang,....semoga saja.
Sementara itu, kaum hawa sedang di dalam. Ada yang di dapur, ada pula yang sedang bersih-bersih Salah satunya dia. Perempuan yang lugu karena memang anggota baru. Kikuk, pasti, bingung mencari topik pembicaraan, karena sejauh ini....tidak ada yang menarik baginya.
“ Yaah, rumah bapak masih begini Glad. Ini rumah Gladia juga. Semoga betah ya. Nanti ada rejeki bisa diperbaiki,” ujar lelaki paruh baya itu. Dari nada bicaranya sudah bisa ditebak kalau orang ini bijak dan cerdas. Berbeda dengan mereka yang sedang bergumul di dalam. Sebenarnya masih dalam batas kewajaran Cuma memang belum terbiasa bagi perempuan udik itu. Semua perlu adaptasi. Adaptasi? Mengikuti arus? Tunggu dulu.....
“Dasar gobl*k, gimana sih, begitu saja nggak bisa,”teriak wanita paruh baya dari sudut rumah, Kata-kata itu diikuti dengan kalimat yang serupa, beg*, tol*l. Semua nampak biasa saja tapi di sudut rumah yang lain, ada yang tersentak. Sementara itu, tayangan tivi tetap menyala dengan acara yang sebenarnya tak begitu bersahabat wanita desa itu.
                                ***
“Nggak usah diambil hati,” begitu ujar lelaki muda kepada Gladia. Aaah, terlalu sensitive, dasar wanita.
Kesehariannya dihabiskan seperti perempuan lain. Stay home sambil mendoakan pujaan. Nikmati sebelum ia disibukkan dengan pekerjaan barunya. Ya nanti, kalau salah satu lamaran kerja yang ia kirim diperhitungkan. Dan memang tidak lama,......tak perlu menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan panggilan. Yah, meski freelance cukup syukuri. Itu artinya masih punya waktu untuk mengurusi rumah. Ya rumah yang satu atap dengan anggota keluarga yang lain.
Tak perlu ngoyo karena perempuan sejatinya hanya membantu, bukan untuk pokok. Itung-itung agar ilmu yang didapat selama empat tahun tak luntur begitu saja. Be happy as always. Berangkat habis dzuhur pulang malam. Kalau beruntung diantar jemput lelakinya, kalau kurang beruntung ya berangkat sendiri naik koasi.
                ***
Malam jelang akhir bulan, tiba-tiba ponsel berdering. Ah dia, bukankah baru berangkat kerja. Segera saja telepon itu diangkat Gladia.
“Hallo, assalamualaikum”
“Nduk, tolong jemput”
“Kenapa”
“ Aku jatuh”
“Jatuh, kesrempet”. Dug, kepala Gladia seperti dihantam batu. Tenang, tenang Gladia, pikirnya. Kalau orang masih bisa menelpon, berarti dia dalam keadaan sadar. Huft, semoga tidak ada luka yang berarti. Tinggal berfikir, dengan apa menjemput lelaki itu. Aargh, buntu, pikir Gladia. Disuruhnya mengunjungi tetangga yang belum sepenuhnya kenal, gadis itu sedikit menggerutu. Kenapa yang ribet Cuma dia, sedangkan anggota keluarga yang lain malah leha-leha. Aih, give up, berbalik bertanya harus kemana. Sampai pada akhirnya ada angkot tetangga menyapa.Ia pun bergegas ditemani beberapa orang ke tempat yang dimaksud. Ya harus dengan orang, karena Gladia buta, buta arah dan alamat.
Hemmm, baiklah, kini kesibukan bertambah. Mengurus lelaki yang jadi pendampingnya, duhai Gladia. Tidak terlalu repot. Cukup membantunya mandi. Kalau untuk berjalan dan sekedar makan, masih bisalah meski it takes time.
Karena lelaki itu butuh waktu untuk istirahat, firasat tentang pekerjaannya pun berkelebat. Dan benar saja, sebagaimana pekerjaan sekarang yang lengkap dengan embel-embel kontrak, Kontrak kerja habis menjelang idul fitri tanpa THR. Kabar baiknya, Gladia kini berbadan dua. Berhuznudzon kepada Allah. Himpitan ekonomi membayangi tapi tak perlu panik berlebihan  mengingat ada jiwa lain dalam raganya.
                                                ***
“Ya sudah, nggak usah cek, toh tetangga nggak pernah cek brojol juga.” Mendadak pening. Gladia mulai sedikit berontak kalbunya. Bukankah ini akan jadi cucu pertamanya???Apa tidak bisa dijaga sedikit lebih sopan, pikirnya. Setiap hari mendengar umpatan yang meski sebenarnya nggak maksud mendegradasikan. Namun tetap saja ada yang menyeruak dalam dirinya. Hatinya bergejolak, ini bukan budayaku, lirihnya. Mengikuti arus atau tetap bertahan pada prinsipnya. Ataukah ini yang namanya egois, sensitif katrena tengah berbadan dua. Sementara itu, lelaki itu mulai rapuh, menyalahkan diri sendiri karena belum bisa menjadi selayaknya lelaki sejati. Fondasi iman mulai keropos......Tidak ada lagi tempat mengadu selain kepada Pemilik Kalbu.
“Sungguh, Allah menjadikan baik dari tiap perkara yang menimpa kaum muslim.”
 Dan perempuan itu tetap dengan keyakinannya dengan berbaik sangka.
Optima, Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English_6thGrade_#4

  Cross a,b,c or d of the right answer! 1.       Kim :................? Ran: I am twelve a.        How are you                        ...