Jumat, 16 Desember 2016

Wanita yang (tak) Pernah Jatuh Cinta;Part 1



Kalau mencintai itu menyakitkan, cukuplah bagiku untuk mengagumimu saja......
Koridor kampus kecil masih lengang. Belum banyak mahasiswa yang datang karena perkuliahan baru dimulai 7.30. Selain itu, saaat ini memang masa reses bagi mereka para agent of change. Ujian semester sudah berakhir. Mereka ke kampus untuk mengecek nilai atau kalau yang beruntung bisa mengikuti kuliah semester pendek. Beberapa menghabiskan masa liburan dengan pulang kampung halaman, piknik atau jaga kandang memantau keadaan.
 Gadis berjilbab lebar itu mengeluarkan hape mungil untuk sekedar memecah kebosanan sekaligus mengecek waktu. Aaah, pantas saja, it’s 06.45. Tapi tak apalah. Terlalu bersemangatkah? Mungkin, karena telah seminggu tak bersua dengan rekan-rekan halaqohnya. Demi mengusir kejenuhan, ia membolak-balik, membaca sepintas buku motivasi “From Zero to Hero” ditemani dengan lantunan nada-nada Izzatul Islam. Gladia begitu ia biasa disapa.Tak lebih dari setengah jam jilbaber itu bergabung dengan sahabat halaqohnya. Sudah beberapa bulan gadis berperawakan kecil itu sedikit berubah. Berhijrah? Mungkin.
“Assalamualaikum, Glay, sudah lama menunggu ya?”
“Walaikumsalam Husna....nggak begitu lama kok.”
“Ya udah, kita berangkat sekarang yuk.”
Gladia bersama kawannya mulai beranjak. Beberapa memang ada yang bertanya-tanya kenapa gadis yang selama ini agak nyleneh itu bisa tiba-tiba bergamis dan memanjangkan hijabnya. Memang, perubahan tidak ada yang tahu pasti, termasuk apa yang terjadi dengan gadis yang berIPK tak pernah kurang dari 3. Introvert. Begitulah kata teman-temannya. Ia bisa berbagi canda tawa tapi tidak begitu dengan pribadinya, isi hatinya......
                        ***
Liburan semester yang berlalu begitu cepat. Perkuliahan segera dimulai. Kampus mulai ramai entah dengan wajah lama atau wajah-wajah baru. Tak terlalu kelihatan, mana mahasiswa yang benar-benar baru fresh graduated SMA  dan mana yang mahasiswa transfer. Mereka berbaur dalam komunitas yang tidak memandang senioritas, termasuk lelaki itu.....
“Kamu, Gladia? Saya Cleverian.” Keduanya cukup dengan mengatupkan masing-masing tangan. Pemandangan yang lazim terjadi di kampus Islami ini. Gadis itu sibuk menata buku-buku dengan ratusan judul yang tidak semua paham. Terang saja, karena  buku tersebut ditulis dengan bahasa Inggris.
“ Ada buku Francesca Taylor?”
“Oh, bisa dicari di folder English Course yah,” gadis itu mengarahkan ke rak paling ujung. Buku-buku serius dengan materi grammar dan teori-teori linguistic berada dalam satu folder. Tanpa banyak bicara, lelaki itu menuju rak yang dimaksud. Semua fokus dengan aktifitasnya.
“ Aku pinjam buku ini yah. Oh ya, mohon bantuannya ya kalau aku ada kesulitan dalam Bahasa Inggris.” Gadis itu mengernyitkan dahi. Belum sempat dijawab, lelaki bertubuh jangkung itu beranjak pergi.
Apa aku terkenal?, batin Gladia. Aaah, mungkin kebetulan saja, kebetulan Gladia yang jaga di perpus khusus literatur bahasa Inggris. Hemmm......jantungnya berdebar-debar.
Kalau tidak di English Centrenya, pasti ia sedang ikut kuliah, atau mungkin di masjid kampus. Tak banyak circle of friends dan tempat kongkownya. Memang, sesekali ia diajak teman sekelasnya bersafari, having fun, tapi toh itu tidak terjadi setiap hari. Yah, at least, bisa refresh otak.
Glay, ada waktu?”, Lelaki itu lagi. “ Kamu ambil kuliah poetry kan?, bantu buat parafrase ini ya.?” lanjutnya.
“Robert Burns? pasti yang Red Red Rose.” tukas gadis itu
“ Ada ide lain?” Tanyanya.
“Coba cari literatur Luis Stevenson.” “ Tapi waktuku tidak banyak yah, ada Research dan siswa les yang menunggu.”
“Baiklah Glay, nggak masalah.” Lagi, ada hal yang menyesakkan. Mencoba mencuri pandang tapi justru makin berdebar. Buang muka, yah, buang muka. Ini bukan berarti tidak suka tapi lebih menjaga pandangan.
Ya Tuhan, tetapkan hatiku untuk selalu kepadaMu, batinnya.
Tidak sampai satu jam, diskusi berakhir bersamaan dengan Adzan Dzhuhur. Gadis itu bergegas menyambut panggilan suci. Langkahnya pasti.
            *****
“Hey Gladia, kamu itu ada yang kamu taksir gak sih? Please deh, sudah dua tahun lebih masih jomblo saja.” Ledek temannya. Kadang ia juga berkumpul dengan beberapa teman sekelas yang mangkal di kost-kostan salah satunya. Memang, diantara mereka, yang masih free Cuma Gladia.
“ Nggak punya waktu buat mikirin begitu Sas. Sudah sibuk di....”
“Halah, pasti kamu kikuk dengan jilbab lebarmu dan teman-teman ngajimu itu toh? Kamu normal kan?”
Kecut. Tapi dengan segera perasaan itu buang. Semua orang bebas mengungkapkan pendapatnya. Biarlah itu jadi cerita nanti. Anggap saja bergaul dengan mereka sebagai piknik dengan segala kegokilannya. Pengalaman jadi beragam, tak melulu ngaji, jihad, target hafalan, LDK dan sebagainya.
“Terus, kemarin, kamu diskusi sama siapa? Boleh tuh. Tapi kayaknya kamu nggak peka deh, buang muka mulu.”
“Yeee....Phi, itu Cuma bahas tugas poetry doang, Dzhuhur juga kelar.” jawabnya ngeles. Ngeles atau.....entah. Pikirannya melayang. Kenapa tidak melambat-lambatkan diskusi. Kenapa juga beralasan nggak hafal nomer hape dan kebetulan hape mati. Aaarghh.....Hilang kesempatan, maksudnya??
            ***
“ Hai Glay, semangat sekali kelihatannya.” Cleverian,......
“Oh ya, perasaan aku tiap hari begini deh.”
“Oh ya, kenalin, ini teman-temanku dari kampus yang lama, Sheryl, Hasyim dan Ridwan.”
Cantik Sheryl.....ujar Gladia dalam hati. Aarrghhh,.....kenapa juga membatin yang perempuan, bukankah di sampingnya ada dua lelaki. Biasa, manusia selalu memandang hal yang kurang daripada yang lebih.
Tak butuh banyak waktu baginya untuk menghilangkan perasaan yang berkelebat di fikirannya. Pergi ke perpus, project mading, kuliah Research yang butuh pemahaman lebih bagi orang dominan otak kanan. Sepanjang masih bisa happy, tak perlulah memikirkan yang belum pasti, apalagi untuk urusan hati. Cemen?Pengecut? Bukan. Bukankah lagu mengajarkan kalau sakit hati lebih sakit daripada sakit gigi???
            ***
Ahad, menjelang UTS. Gladia justru menghilang dari peredaran. Hanya datang sesekali. Tidak banyak yang tahu, toh memang dunia perkuliahan tidak lazim dengan izin tidak masuk. Absen ya absen saja, sepanjang presensinya masih 75%, itu masih ditolerir.
Gadis itu bersama komunitasnya. Menderapkan langkah kaki, sesekali melantunkan dzikrullah. Di malam hari dihabiskan dengan teori dan bermalam di salah satu rumah penduduk. Ukhuwah yang begitu erat membuat sejuk di hati.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi, menyiratkan pesan. Nomor asing tapi dengan sopan bertanya.
Gladia, dimana?”
“Kenapa?”
“Bertemu”
“Untuk apa”
“Komitmen”
“Komitmen apa?”
“Perasaan”
“Maksudnya”
“Pacaran. Pacaran syar’i”
“Tidak ada syar’i. komitmen sebenarnya adalah ketika kau berakad”
Aku belum siap
“Maafkan....”
Tidak ada jawaban.....
Tangan gadis itu serasa kaku, hatinya beku. Yaa muqollibal qulub. Aku mengaguminya tapi aku ragu. Tetaplah aku begini sambil memantapkan hati.
“Hanya sebatas kagum, tak perlu ditempatkan di relung hati....”

Optima, Desember 2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English_6thGrade_#4

  Cross a,b,c or d of the right answer! 1.       Kim :................? Ran: I am twelve a.        How are you                        ...