Selasa, 08 Agustus 2017

Tragedi Ampli

Karena agama tak hanya sekedar membaca kitabNya......

Entahlah, bulan Agustus ini diawali dengan berita yang tidak sedap. Suatu peristiwa yang membuat bulu kuduk berdiri dan garuk-garuk dahi. Dari riuhnya kabar para petinggi, perhatian masyarakat kini beralih pada tragedi ampli di Bekasi. Bahkan, hanya dengan membaca beritanya saja kita jadi gregetan, emosi karena perilaku tak beradab itu.

Ya, berita tentang pembakaran Zoya ( semoga dilapangkan kuburnya) karena diduga mencuri ampli di mesjid beredar dengan cepat. Deep condolence to him, apalagi beliau kepala rumah tangga yang menanggung anak istri. Zoya yang dikenal cukup baik oleh masyarakatnya harus mengakhiri hayatnya dengan cara yang tragis, dibakar karena dicurigai mencuri ampli. Duuh Gusti, berapa sih harga ampli sampai bisa ditukar dengan nyawa???

Sebuah nyawa yang harus dibayar dengan ampli yang tak seberapa rupiah. Ampli masjid pula. Apakah ini yang namanya matinya hati? Masjid yang dikenal sebagai rumah Allah, Allah yang Maha Pengampun, kali ini justru dikotori dengan perbuatan keji. Lelaki itu hanya numpang sholat yang kebetulan tukang servis elektronik. Apakah tidak ada cara yang elegan dalam meminta penjelasan daripada bermain fisik? Apakah hanya sekedar tertuduh membuat darahnya halal untuk dibunuh? Kita memang sedang hidup di zaman yang sedang terhimpit tapi hendaknya emosi kita masih bisa dikondisikan.

Ternyata, kemajuan teknologi tak serta merta membuat masyarakat semakin maju pola berpikirnya. Bagaimana mungkin warga sekitar mushola yang nota bene biasanya akrab dengan program dakwah rumah ibadah tersebut, malah beramai –ramai menganiaya saudaranya sendiri, yang lebih menyedihkan lagi malah merekamnya.

Semua sudah terjadi, nyawa yang hilang tak mungkin kembali. Apalah arti sebuah penyesalan??? Can’t imagine, seorang perempuan muda, 25 tahun beranak satu dan masih menanti kelahiran sang buah hati, kini berjuang sendiri. Yah, semoga tak terjadi lagi ya....Kita adalah makhluk yang beradab, Rasululah datang demi menyempurnakan akhlak. Jangan sampai kita mengaku pengikut Muhammad tapi tidak disertai nilai-nilai sebagaimana beliau contohkan. Apalagi ditengah-tengah isu yang masih hangat seputar toleransi agama. Islam yang terpojok karena pelintiran media, ditambah pula dengan kasus yang demikian.

 Jika di sejumlah kalangan, hukum diperjualbelikan, adapula kalangan yang malah tak mengenal hukum kecuali hukum rimba, mereka main hakim sendiri tanpa ada kroscek sebelumnya. Biasakanlah verivikasi, kroscek jangan mudah terprovokasi. Berhentilah memprovokasi ke hal-hal keburukan. Kalau nggak bisa jadi yodium yang mengeringkan luka, setidaknya jangan menggaraminya. Ingat, garam sekarang mahal lho.

Dan sesungguhnya sebaik-baik keislaman seseorang adalah yang paling baik akhlaknya.” (Hadis riwayat As-Suyuthi)  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

English_6thGrade_#4

  Cross a,b,c or d of the right answer! 1.       Kim :................? Ran: I am twelve a.        How are you                        ...